Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang berada di Jakarta. Mengunjungi beberapa klien. Di antaranya ada yang lama, sifatnya menjaga hubungan alias me-maintenance klien. Ada juga yang baru. Khusus klien baru, butuh “perjuangan” untuk menjelaskan dan meyakinkan tentang eksistensi media yang saya pimpin, yang dikesankan sebagai media konvensional. Di sini lah “challenge” seorang marketer.
Ada satu kisah yang sangat menginspirasi saya, dan kisah ini seringkali saya ceritakan kepada tim marketing saya:
Di awal abad ke-20, sebuah pabrik sepatu di Amerika Serikat yang awalnya sukses, mengalami penurunan penjualan secara drastis. Berkali-kali jajaran direksi di pabrik sepatu itu melakukan pertemuan intensif, demi mencari solusi terbaik. Akhirnya, diputuskan lah untuk menjajaki dan membuka pasar baru di luar negeri.
Pasar baru yang dipilih adalah kawasan Afrika. Pabrik sepatu itu lantas mengirim dua marketer terbaiknya ke kawasan Afrika, untuk melakukan survey dan menentukan potensi pasar produk yang akan dijual. Berangkatlah dua marketer itu ke Afrika di daerah yang berbeda.
Sebulan kemudian, marketer pertama telah menyelesaikan survey pasar dan memberikan kabar kepada jajaran direksi. “Bos, di negara yang saya kunjungi, hampir semua warganya terbiasa bertelanjang kaki. Tak ada seorang pun di sana yang mengenakan sepatu,” ceritanya. “Jadi, tidak ada pasar untuk kita di sana. Kita tidak akan bisa menjual sepasang sepatu pun,” tambahnya. Para direktur di pabrik sepatu itu menampung masukan dari laporan marketer pertama ini dengan kecewa.
Beberapa hari berselang, si marketer kedua datang. Dia lantas melaporkan hasil surveynya ke jajaran direksi pabrik sepatu. “Bos, tempat yang saya datangi sungguh fantastis. Peluang bisnisnya bagus bagi kita,” katanya bersemangat. “Tak ada seorang pun di sana yang memakai sepatu. Tidak ada yang menjual sepatu. Ini artinya, ada potensi pasar yang sangat besar bagi kita,” lanjutnya. “Kita akan menjual ribuan pasang sepatu di sana. Tapi, sebelumnya kita harus mengedukasi mereka tentang manfaat dan pentingnya memakai sepatu,”.
Dari kisah tersebut di atas, kita bisa membagi karakter marketer itu menjadi dua tipe. Ini sangat terkait dengan mindset. Carol S. Dweck Ph.D, profesor Psikologi dari Stanford University membagi manusia menjadi dua tipe, berdasarkan mindset-nya. Pertama, bertipe “Fixed Mindset”. Kedua, bertipe “Growth Mindset”. Orang yang bertipe “fixed mindset”, ketika menghadapi tantangan lebih memilih menghindari tantangan tersebut. Sedangkan orang yang bertipe “growth mindset” suka dengan tantangan. Dia selalu yakin, bahwa di balik tantangan, ada potensi besar yang menguntungkan.
Orang yang bertipe “fixed mindset”, dalam menyikapi effort atau usaha, dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna dan bakalan lebih buruk. Sedangkan orang yang bertipe “growth mindset” melihat usaha atau effort itu sebagai bagian dari penguasaan.
Nah, si marketer pertama dalam kisah di atas, termasuk marketer bertipe “fixed mindset”. Dia cenderung menghindari tantangan, dan menyerah dengan mudah. Sedangkan si marketer kedua, termasuk marketer bertipe “growth mindset”. Dia adalah orang yang sanggup dan ulet menghadapi kesulitan.
Kembali kepada cerita saya di awal tulisan ini, bahwa bagi media massa konvensional seperti media yang saya pimpin, butuh perjuangan tersendiri ketika harus menghadapi para klien di Jakarta. Dimana, kebanyakan mereka menganggap bahwa media massa konvensional sudah mulai “sunset”. Bagi marketer yang bertipe “growth mindset”, anggapan itu malah dianggap sebagai sebuah challenge. Maka, kepada para klien yang ada di Jakarta itu, saya jelaskan tentang konsep konvergensi media. Ini adalah sebuah pendekatan atau cara baru dalam menikmati media massa, termasuk bagaimana harus memposisikan media massa konvensional di antara media-media berbasis digital. Saya jelaskan, bahwa media yang saya pimpin sudah melakukan transformasi menjadi media massa yang multiplatform. Selain platform cetak (sisi konvensional), platform digital (sisi kekinian), juga ada platform event organizer. Tiga platform ini dijalankan secara ambidex. Tentu tak hanya sekadar menjelaskan. Saya pun mendetailkan dengan contoh-contoh dan data-data pendukung yang ada.
Walhasil, hingga kini, sudah ada belasan klien di Jakarta yang dalam dua tahun terakhir ini sudah bekerjasama dan bertransaksi dengan kami. Kami berhasil menemukan klien-klien di Jakarta, dimana mereka itu sangat butuh media-media lokal di Indonesia untuk memasarkan produk-produk mereka. Dari media lokal, mereka butuh aspek localitas kontennya dan proximitas dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di tingkat lokal.
Jadi, potensi itu hampir selalu berada di balik sebuah tantangan. Jika ingin mendapatkan potensi, maka hadapi dan nikmati dulu tantangannya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah