Publik di Amerika Serikat dan juga masyarakat di dunia internasional, pada Sabtu lalu (13/07/2024) dikejutkan dengan insiden penembakan terhadap kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik: Donald Trump. Banyak pengamat politik di Amerika Serikat meramalkan, bahwa insiden tersebut bisa menguntungkan bagi elektabilitasnya Trump.
Begitu peristiwa penembakan itu terjadi, hampir semua surat kabar, kantor berita dan media online di seluruh dunia menjadikan peristiwa tersebut sebagai headline. Akibat insiden itu, telinga bagian atas Trump terluka karena terserempet peluru. Seorang dilaporkan tewas, dan dua orang lainnya terluka. Sementara si penembak yang diidentifikasi bernama Thomas Matthew, seorang pemuda berumur 20 tahun, dikabarkan tewas ditembak di tempat kejadian perkara oleh agen Secret Service Amerika Serikat.
Lantas, bagaimana bisa musibah yang dialami Trump ini di sisi lain diprediksi malah bisa menaikkan popularitas dan elektabilitasnya? Dalam konteks marketing, ini lah yang disebut dengan “accidental marketing”, yakni sebuah fenomena dimana perusahaan atau produk atau individu mendapatkan perhatian luas media atau konsumen secara tidak sengaja. Seringkali melalui peristiwa yang tidak direncanakan atau kejadian spontan.
Tom Spitale dan Mary Abbazia, keduanya adalah pakar di bidang strategi pemasaran dan pengembangan bisnis dari Amerika Serikat, menulis buku yang membahas secara khusus tentang “accidental marketing” ini. Buku tersebut berjudul: "The Accidental Marketer: Power Tools for People Who Find Themselves in Marketing Roles". Secara garis besar, di buku ini diberikan panduan dan tools bagi mereka yang mengalami “accidental marketing”. Termasuk bagaimana cara memanfaatkan momentum ketika mengalami “accidental marketing” sehingga bisa berdampak positif dan sukses dalam peran pemasarannya.
Salah satu contoh produk yang sukses memainkan jurus “accidental marketing” adalah Oreo. Yakni ketika berlangsung perhelatan “Super Bowl” di New Orleans pada Februari 2013. “Super Bowl” merupakan pertandingan rugby (sepak bolanya Amerika) yang sarat dengan hiburan, termasuk konser musik, festival makanan dan iklan. Ketika sedang seru-serunya pertandingan saat itu, tiba-tiba listrik di stadion padam. Dan padamnya lumayan lama, sekitar 35 menit. Dalam keadaan seperti itu tim media sosial Oreo dengan cepat merespon insiden tersebut. Mereka ngetweet di Twitter (X): “You can still dunk in the dark”. Dalam waktu cepat, tweet ini pun menjadi viral. Dalam hitungan tak sampai satu jam, saat itu di-retweet sebanyak 15.000 dan lebih dari 20.000 like di facebook. Berkat respon cepat tim media sosial Oreo dalam memanfaatkan sebuah insiden ini, berdampak signifikan bagi produk makanan tersebut. Oreo langsung menjadi perbincangan luas di kalangan netizen. Dan hal ini tentu saja berdampak sangat bagus bagi angka penjualannya.
Dalam konteks marketing politik, yang dialami Trump tergolong “accidental marketing”. Sejumlah pengamat politik di Amerika Serikat memperkirakan insiden penembakan itu di sisi lain berpotensi menguntungkan Trump secara politik. Hal ini seperti disampaikan Rob Casey, pengamat politik dari “Signum Global Advisors”, sebuah lembaga konsultan yang menyediakan analisis mendalam tentang perkembangan politik dan kebijakan di Amerika dan di seluruh dunia.
Dalam penjelasannya, seperti dimuat di Financial Times (15/07/2024), Casey menilai bahwa percobaan pembunuhan tersebut telah menyulut api semangat dan loyalitas para pendukung Trump. Di mata mereka Trump sudah menjadi martir politik.
Dengan kata lain, saat ini, Trump dalam posisi menjadi korban alias pihak yang diserang. Dan ini bisa menimbulkan simpati dan empati bagi publik. Dan benar saja, pasca insiden penembakan itu sejumlah figur terkenal mulai menyatakan dukungannya untuk Trump. Di antaranya CEO Tesla, Elon Musk dan salah satu crazy rich Amerika, Bill Ackman.
Di Indonesia, pada kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) Februari lalu, salah satu faktor yang berkontribusi pada kemenangan pasangan Prabowo-Gibran, adalah berkah dari “accidental marketing”. Saat itu, Gibran adalah salah satu kandidat yang paling banyak dibully di media sosial. Dia diolok-olok netizen saat salah mengatakan tentang “asam sulfat”. Makanya, dia pun dijuluki dengan panggilan “Samsul”, singkatan dari “asam sulfat”. Gibran juga mendapat julukan “anak haram konstitusi”. Dengan berbagai bully-an ini, Gibran menanggapinya dengan santai. Bahkan, dia malah menggunakan panggilan “Samsul” untuk menyebut dirinya sendiri. Ini menurut saya, salah satu kepiawaian Gibran dalam memanfaatkan insiden yang sebetulnya menyerangnya, dengan cara dia “berselancar” di atas gelombang yang menyerangnya. Ini lah yang disebut oleh Tom Spitale dan Mary Abbazia sebagai “The Accidental Marketer”.
Nah, bagi Anda yang saat ini sedang bersiap-siap maju dalam kontestasi politik pilkada, “accidental marketing” bisa saja menimpa Anda. Dan ketika itu benar-benar menimpa Anda, berselancar-lah di atas gelombang “accidental marketing”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah