Merek handphone ini pernah menjadi nomor satu dunia selama satu dekade lebih. Handphone pertama saya adalah merek ini. Puncaknya pada 2007, waktu itu berhasil menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar global untuk ponsel seluler. Kita pasti belum lupa dengan merek handphone ini: Nokia. Gara-gara ketika itu lambat dalam merespon trend dan kurang inovatif, akhirnya performa Nokia merosot tajam, tenggelam, dan kalah bersaing dengan merek-merek handphone lainnya.
Rupanya Nokia tak mau terlalu lama tenggelam. Kini, Nokia kembali tampil dengan wajah dan konsep baru. Mereka memperkenalkan teknologi panggilan telepon, yang diklaim akan mengubah masa depan handphone (HP). Teknologi itu disebut dengan “audio dan video imersif”. Teknologi ini mengacu pada sistem dan perangkat yang menciptakan pengalaman sangat mendalam dan realistis bagi pengguna. Tujuan utama dari teknologi ini adalah membuat pengguna merasa seolah-olah mereka berada di dalam lingkungan yang dihasilkan secara digital, dan kualitas panggilan akan ditingkatkan dengan suara tiga dimensi berbeda.
Kepada Reuters Selasa pekan lalu (11/6/2024), para petinggi Nokia mengklaim bahwa teknologi yang akan dibawa Nokia itu akan menjadi lompatan terbesar dalam hal panggilan suara telepon. Selama ini, teknologi panggilan suara telepon yang digunakan smartphone maupun PC adalah audio monofonik. Satu dimensi saja. Sedangkan teknologi yang akan dibawa Nokia nanti adalah teknologi panggilan suara tiga dimensi. Bakal lebih jelas, lebih mendalam, lebih personal, dan lebih sensasional dalam lingkungan digital. Ini kata para petinggi Nokia.
Kapan teknologi baru Nokia itu akan dilaunching dan bisa dinikmati oleh para penggunanya? Reuters mencatat kemungkinan masih butuh waktu beberapa tahun lagi. Saat ini, Nokia masih memproses mendapatkan lisensi untuk teknologi terbarunya.
Apa yang dilakukan oleh Nokia ini, dalam marketing disebut dengan “rebranding”. Philip Kotler menyebut “rebranding” sebagai proses strategis yang melibatkan perubahan signifikan terhadap merek untuk menciptakan persepsi baru di benak konsumen. “Rebranding” tidak hanya tentang mengubah logo atau desain visual. Tetapi mencakup keseluruhan identitas merek, termasuk nilai-nilai, misi, visi, dan posisi pasar.
Makanya, ketika Nokia mengumumkan akan “come back”, mereka pun menawarkan perubahan konsep dan teknologi produknya yang sangat signifikan. Yang belum dipunyai produk mana pun. Ini bertujuan agar “rebranding” yang dilakukan efektif.
Setidaknya ada tiga kaidah menurut Kotler yang harus diperhatikan jika ingin melakukan “rebranding”: Pertama, penyegaran merek. “Rebranding” seringkali dilakukan untuk menyegarkan merek yang sudah ada atau yang pernah ada agar tetap relevan dengan perubahan dalam pasar, teknologi, atau preferensi konsumen. Kedua, perubahan persepsi. Tujuan utama “rebranding” adalah mengubah persepsi konsumen tentang merek. Ini bisa melibatkan perubahan dalam produk atau layanan, cara komunikasi merek, atau reposisi merek di pasar. Ketiga, diferensiasi kompetitif. Dalam pasar yang sangat kompetitif, “rebranding” dapat membantu sebuah merek membedakan diri dari pesaingnya dan menawarkan sesuatu yang unik atau berbeda kepada konsumen.
Dan rupanya ketiga kaidah “rebranding” Kotler itu diikuti dan sedang dijalankan oleh Nokia.
Sebenarnya Nokia adalah salah satu contoh perusahaan yang sebelumnya sukses beradaptasi dalam menyikapi perubahan zaman. Mungkin di antara Anda ada yang tahu, bahwa Nokia itu dulunya merupakan perusahaan pengolah bubur kertas di Finlandia. Nama Nokia diambil dari nama komunitas yang tinggal di kawasan Sungai Emakoski yang terletak di Finlandia Selatan. Perusahaan Nokia saat itu didirikan oleh Fredrik Idestam pada tahun 1865 sebagai perusahaan pengolahan kayu dan karet. Usai Perang Dunia I, perusahaan itu mengakuisisi perusahaan kabel Finlandia yang memproduksi telegraf dan kabel telepon. Pada 1967, perusahaan tersebut melebur menjadi Nokia Corporation. Perusahaan ini berfokus pada produksi mesin pembuat bubur kayu (pulp) dan pembuat kertas. Sempat menjadi salah satu perusahaan produsen kertas terbesar di Eropa.
Ketika CEO Nokia dijabat oleh Bjorn Westerlund, mereka merasa bahwa masa depan industri pengolahan kayu dan kertas tidak akan cerah selamanya, dan lama-lama akan tenggelam. Maka, mereka pun mulai mengantisipasinya. Nokia mulai berfokus pada produksi perangkat elektronik. Mereka membangun divisi baru, yaitu divisi elektronik yang ditempatkan di ibukota Finlandia. Perusahaan itu pun mulai diarahkan untuk memproduksi berbagai macam perangkat elektronik di bawah nama Nokia Electronic. Tidak mudah awalnya. Selama 15 tahun pertama, mereka menjalani “trial and error” untuk berbagai produk perangkat elektroniknya.
Setelah melalui berbagai kegagalan selama bertahun-tahun, Nokia akhirnya mulai menemukan ritmenya. Terutama, setelah didukung dengan ahli teknologi yang berbakat. Ditambah lagi, Nokia bergabung dengan pabrik pembuat perangkat televisi Salora yang membantu Nokia dalam memproduksi berbagai perangkat handphone. Sejak ini lah, satu per satu produk handphone Nokia mulai diproduksi dan dikenal luas. Produk handphone Nokia dikenal tahan banting dan sangat awet. Mulai dari era perangkat handphone CDMA, GSM, hingga W-CDMA. Di antara merek handphone Nokia yang termasuk paling laris di dunia: Nokia 3210, Nokia 8110, Nokia 9000 Communicator, dan Nokia N-Gage.
Jadi, apakah rebranding Nokia dengan konsep barunya itu bakal sukses? Jika melihat dari ketangguhan Nokia dan porto folionya di masa lalu, rasanya mereka bakal sukses. Bagaimanan menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah