Dulu, saat belum mampu membeli mobil baru, beberapa kali saya membeli mobil bekas. Dan saya selalu membeli mobil bekas di mobil88. Selain banyak pilihan (menyesuaikan kemampuan kantong), juga terjamin. Hingga kini, mobil88 yang merupakan anak perusahaan dari Astra Group masih eksis. Nama 88 diambil dari tahun kelahirannya: 1988. Berarti, sudah 35 tahun lebih mobil88 berkiprah dan mampu bertahan hingga kini.
Mobil88 adalah salah satu contoh perusahaan yang sukses dalam melakukan transformasi, menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Senin lalu (18/3), Grup Astra membentuk platform digital jual beli mobil bekas yang diberi nama “OLXMobbi”. Ini merupakan penggabungan antara “OLX Autos”, “mobbi”, dan “mobil88”.
OLX Indonesia yang sebelumnya bernaung di PT Tokobagus Indonesia, secara resmi telah diakuisisi 100 persen sahamnya oleh Grup Astra (PT Astra Digital Mobil 99,98 persen saham, dan PT Astra Digital Internasional 0,02 persen).
Sedangkan “mobbi” merupakan platform digital jual beli mobil bekas dari Astra, yang secara resmi hadir sejak November 2022.
Mobil88 ketika pertama kali hadir pada November 1988, berada di bawah naungan PT Arya Kharisma. Lalu pada 1999, mobil88 menjadi bagian dari “Used Car Sales Operation” di Auto 2000. Hingga akhirnya pada tahun 2000 mulai menjadi bagian PT Astra International Tbk—Toyota Sales Operation (Auto2000). Pada 2006, mobil88 menjadi bagian dari lini bisnis penjualan mobil bekas PT Serasi Autoraya. Hingga akhirnya membentuk perusahaan sendiri dengan nama PT Serasi Mitra Mobil pada 2010.
Rupanya, Astra Group sedang menjalankan strategi “co-branding”. Yakni menggabungkan brand-brand miliknya menjadi satu kekuatan baru.
Kata Philip Kotler (2012), “co-branding” adalah penggabungan dua atau lebih brand yang sudah dikenal, dikombinasikan, dimana satu sama lain saling memperkuat dan berharap mendapat perhatian dari audiens baru.
Lebih lanjut Kotler menambahkan: “for co-branding to succeed, the two brands must separately have brand equity adequate brand awareness and a sufficiently positive brand image”. Untuk menciptakan co-branding yang baik, dua merek secara terpisah harus memiliki ekuitas merek yang memadai dan citra merek yang bagus. Karena, dengan demikian, merek baru yang telah digabungkan akan mempunyai nilai atau citra lebih di mata konsumen. Sehingga akan memudahkan konsumen memilih merek tersebut.
Tom Blackett dan Bob Boad dalam buku “Co-Branding: The Science of Alliance” menjelaskan “co-branding” merupakan suatu inovasi yang mempunyai keunikan tersendiri. Ini merupakan salah satu cara untuk dapat meningkatkan pengaruh merek, memasuki pasar baru, mengurangi biaya melalui skala ekonomi dan menyegarkan citra merek. Untuk merek-merek mapan, kata mereka, “co-branding” menawarkan kesempatan untuk menciptakan arus pendapatan yang baru atau untuk mendongkrak penjualan produk yang ada. Sedangkan untuk merek-merek baru, “co-branding” akan membawa dampak positif yang sudah terlebih dahulu diciptakan oleh merek sebelumnya. Dampaknya akan sangat bagus apabila merek baru dapat mengimbangi merek lama.
Pada kasus ini, baik OLX maupun mobil88, sama-sama merupakan brand mapan yang punya brand image yang bagus di masyarakat. Sehingga memenuhi prasyarat terjadinya “co-branding” menurut Kotler maupun Blackett.
Bergabungnya tiga brand: OLX Autos, mobbi dan mobil88 menjadi brand baru “OLXMobbi”, mengutip pendapat Blackett, setidaknya mempunyai empat keuntungan. Pertama, meningkatkan pengaruh merek. Bisa dikatakan, OLXMobbi adalah paket lengkapnya Astra Group untuk segmen jual-beli mobil bekas. Kedua, memasuki pasar baru. Kondisi pasar saat ini sangat lah dinamis. Selera pasar dan tuntutan pasar bisa berubah begitu cepatnya. Karena itu, dituntut untuk selalu membuat inovasi-inovasi baru, demi merespon dinamika pasar. Ketiga, mengurangi biaya. Penggabungan beberapa brand menjadi satu brand, jelas merupakan tindakan efisiensi. Keempat, menyegarkan citra merek. Ini berlaku bagi brand-brand yang sudah mapan. Melalui co-branding, brand-brand tersebut seperti di-refresh, sehingga tampil dengan “wajah” baru dan “kekuatan” baru.
Nah, bagi Anda pemilik brand, dan ingin melakukan aksi korporasi yang efisien demi meningkatkan ekuitas dari brand Anda, strategi “co-branding” bisa menjadi alternatifnya. Tinggal mencari “brand” apa yang cocok dan sesuai untuk diajak bergabung. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah