Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Soft Skill

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 6 Maret 2024 - 15:32 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Dia adalah kyai saya. Hampir setiap sebulan sekali saya ngaji ke majelis taklimnya sejak 2012. Dia juga guru bisnis saya. Saya banyak mendapatkan pelajaran bisnis dari dia.

Umurnya masih muda. Baru setengah abad. Sejak mahasiswa, dia sudah berkeliling memberi ceramah dan pengajian. Dan sejak mahasiswa itu, dia juga mulai berbisnis. Awalnya jualan ikan. Jadi, sambil memberikan pengajian, dia juga menawarkan ikan jualannya kepada para jamaahnya.

Sebagai kyai, dia unik. Karena dia lebih memilih ngopeni santrinya yang punya gangguan mental. Katanya, itu adalah pesan dari gurunya. Dia rawat orang-orang yang punya gangguan mental, dan dia sembuhkan dengan metode tradisional, wirid, dan doa. Hingga kini, sudah ribuan pasien gangguan mental yang berhasil dia sembuhkan.

Saat ini, di pondoknya yang cukup megah di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang masih dirawat ratusan pasien dengan gangguan mental, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka datang dari hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Selain kyai, dia juga pebisnis handal. Dia punya bermacam-macam unit bisnis. Jaringannya tak hanya dengan pengusaha dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Saya beberapa kali dikenalkan dengan relasi bisnisnya itu. Dia pernah berkolaborasi dengan sejumlah pengusaha nasional, untuk ngebor minyak. Dia juga punya peternakan sapi perah ratusan ekor. Dia juga punya areal perkebunan dengan total ratusan hektar, di antaranya ditanami Alpukat Aligator, Durian Musangking, cabe, tomat, dan sawi pakcoy. Dalam waktu dekat akan mengembangkan Nanas PK1.

Dan kini, dia sedang punya dua proyek prestisius di Malang Raya, yang akan dijadikan sebagai sentra wisata reliji. Satu di Kota Batu berbentuk villa cukup mewah. Dan satu lagi di kawasan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kebetulan, saya sudah diajak melihat dua proyeknya tersebut. Proyek yang di Batu, sudah hampir 90 persen. Sedangkan yang di Poncokusumo, baru sekitar 50 persen. Kedua proyek itu, tampak keren, megah, dan elegan.

Satu lagi, saat ini dia juga sedang berancang-ancang untuk menambang emas, berkolaborasi dengan beberapa pengusaha besar dari Jakarta dan Kalimantan.

Apa yang membuat sang kyai bisa sesukses itu dalam berbisnis? Menurut saya, salah satunya karena kemampuan “soft skill”-nya yang luar biasa.

Dalam marketing, “soft skill” sangat lah penting. Sebab, dengan “soft skill”, akan mampu berinteraksi dengan pelanggan, bekerjasama dengan orang lain dan tim, dan mampu mengelola hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Beberapa “soft skill” yang penting dalam marketing di antaranya: kemampuan komunikasi yang baik, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, kreativitas, kemampuan berpikir analitis, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Kata Philip Kotler, “soft skill”, di antaranya kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis, sangat penting dalam memahami kebutuhan customer, membangun hubungan yang kuat, dan menciptakan nilai bagi customer.

Jay Baer, penulis 7 buku bisnis terlaris New York Times yang juga pendiri lima perusahaan bernilai jutaan dolar berpendapat, bahwa “soft skill” seperti keterampilan dalam membangun hubungan, mendengarkan dengan empati, dan berkomunikasi secara efektif, sangat penting dalam memenangkan kepercayaan pelanggan dan membangun brand yang kuat.

Bahwa kyai saya ini juga pebisnis sukses, salah satunya karena kemampuan “soft skill”-nya yang baik. Dengan kemampuan “soft skill”-nya itu, dia dipercaya oleh pengusaha lain untuk berkolaborasi. Dengan kemampuan “soft skill”-nya itu, dia juga mampu melobi berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama yang saling menguntungkan.

Dan dengan kemampuan “soft skill”-nya yang baik itu, dia juga bisa diterima di semua kalangan. Di majelis taklimnya, yang ikut ngaji tidak hanya dari kalangan muslim. Tapi, juga dari kalangan non muslim. Bahkan, saya ikut beberapa kali di majelis taklimnya, sejumlah suster dari pertapaan Karmel ikut hadir. Juga para frater, pastor dan romo.

Jadi, betapa pentingnya “soft skill” dalam marketing. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #jawapos #on wednesday #Softskill #marketing