Saya termasuk pelanggannya Uniqlo. Sebagian baju yang saya pakai, baik untuk bekerja, untuk bersantai, dan untuk bepergian, adalah produk-produknya Uniqlo. Desainnya elegan, keren, harganya relatif tidak terlalu mahal, dan ini yang penting: bahan pakaian produk-produk Uniqlo berkualitas dan fungsional, sehingga terasa nyaman ketika dipakai.
Saya dulu sempat mengira, bahwa Uniqlo itu tak jauh beda dengan retail-retail lainnya. Tapi akhirnya saya tahu, bahwa Uniqlo bukan sekadar brand pakaian. Tapi juga sebuah perusahaan teknologi. Bahan-bahan yang digunakan untuk berbagai model pakaian, hampir semuanya adalah hasil dari riset yang mendalam dan detail.
Teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan produk pakaian Uniqlo di antaranya adalah AIRism, Heattech, dan Dry-Ex. Ketiga teknologi tersebut hasilnya bisa kita rasakan ketika kita mengenakan produk-produk Uniqlo seperti pakaian dalam, pakaian olahraga, t-shirt, kaos dalam, dan lain-lain.
Kok bisa? Begini penjelasannya:
AIRism, ini adalah salah satu produk utama Uniqlo. Diperkenalkan pertama kali sejak 2012. Bahan kainnya nyaman saat dipakai. Karena diciptakan dari serat berteknologi yang berasal dari Jepang. Yakni serat yang mudah menyerap cairan dengan lebih baik, dan bukan berasal dari polyester biasa, lebih tepatnya micro-polyester. Dengan bahan ini, lebih cepat kering saat basah, sehingga menjadi mudah menyerap keringat dari kulit. Cocok bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di iklim tropis. Sehingga, dengan teknologi tersebut produk pakaian yang dihasilkan bebas dari bau yang tidak sedap akibat keringat. Produk pakaian yang menggunakan teknologi AIRism ini di antaranya hadir sebagai produk kaos dalam atau inner, pakaian dalam wanita seperti bra dan kamisol, t-shirt lengan panjang, legging, hoodie, pakaian tidur seperti lounge wear, sprei, masker, dan lain-lain.
Heattech, ini adalah produk pakaian yang didesain untuk musim dingin. Bahan pakaiannya terlihat tipis, tapi ketika dikenakan di saat musim dingin, cukup bisa menghangatkan tubuh. Sehingga tak perlu mengenakan jaket tebal atau pakaian berlapis-lapis. Bisa seperti ini, karena bahan yang digunakan memiliki serat yang berasal dari rayon, polyester dan akrilik. Dengan komposisi bahan serat tersebut, dapat merangkap panas dengan baik. Dengan kata lain, di dalam pakaian disematkan panas alami tubuh untuk menghangatkan penggunanya. Jadi, pakaian yang diciptakan dengan teknologi Heattech, meski tipis, tapi mampu menghangatkan tubuh. Biasanya brand Uniqlo menggunakan teknologi Heattech ini pada produk di antaranya kaos tipis berlengan panjang, kaos model turtleneck, legging, dan kaos model crewneck.
Dry-Ex, ini adalah produk yang didesain untuk mereka yang suka berolahraga di luar ruangan. Punya daya serap yang tinggi, sehingga mudah kering. Selain itu, pakaian Dry-Ex ini sudah dilengkapi dengan fitur, seperti antimikroba yang bisa menetralkan bau keringat. Yang menarik, pakaian dengan bahan berteknologi Dry-Ex ini sering dibuat dengan warna-warna cerah. Sehingga, bisa menunjang penampilan saat digunakan berolahraga, serta cocok untuk pria dan wanita. Pada desain pakaian berteknologi Dry-Ex umumnya memiliki potongan di antaranya ada crewneck, polo shirt, hoodie, dan shorts. Bukan hanya memproduksi baju saja. Brand Uniqlo juga bikin length pants dengan berteknologi Dry-Ex.
Dalam konteks marketing, kita bisa mengambil pelajaran berharga dari Uniqlo. Yakni, betapa serius dan detailnya mereka dalam melakukan identifikasi tentang apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan customer. Philip Kotler mengatakan, salah satu langkah krusial dalam kaidah marketing yang harus dilakukan oleh produsen adalah melakukan identifikasi terhadap keinginan dan kebutuhan customer. Menurut Kotler, keinginan dan kebutuhan pelanggan merupakan dua konsep yang berbeda. Kebutuhan adalah keadaan kekurangan atau ketidaknyamanan yang dirasakan oleh pelanggan. Sedangkan keinginan adalah cara khusus yang diinginkan oleh pelanggan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam melakukan identifikasi terhadap keinginan dan kebutuhan pelanggan, Uniqlo tak mau tanggung-tanggung. Begitu sudah berhasil mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan pelanggan, Uniqlo menjawabnya dengan menciptakan produk-produk dari bahan-bahan yang berbasis pada teknologi canggih dan mutakhir. Sehingga, produk-produk Uniqlo adalah produk-produk yang benar-benar diinginkan dan dibutuhkan oleh customer. Umumnya, orang membeli pakaian itu ingin modelnya keren, warnanya elegan, pantas, nyaman dipakai, awet, dan harganya relatif terjangkau. Ini sekaligus menjadi value dari Uniqlo, sehingga menjadikannya berbeda dan unggul dari produk-produk yang lain. Wajar, jika brand fashion asal Jepang itu sempat menduduki posisi ketiga secara global sebagai pengecer mode cepat dengan penjualan tertinggi pada 2018. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah