Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Memotret Pasar

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 22 November 2023 | 15:17 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Saya dulu banyak belajar tentang foto jurnalistik kepada teman saya, Yuyung Abdi (almarhum). Dia salah satu fotografer terbaiknya Jawa Pos. Saya pernah bertugas bersama dia selama 40 hari, saat meliput Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Dan selama bersama itu lah, saya banyak belajar kepadanya tentang ilmu memotret, dan bagaimana harus mencari angle terbaik untuk foto jurnalistik.

Dalam foto jurnalistik itu ada satu kaidah yang berlaku: "foto berbicara". Artinya, ketika foto itu dilihat, dalam hitungan detik, yang melihat foto tersebut harus sudah bisa menilai dan menyimpulkan foto itu tentang apa. Karena foto jurnalistik itu harus "bisa berbicara", maka Yuyung sangat detail ketika akan memotret sebuah objek. Dia tidak asal njepret. 

Satu objek yang akan difoto, cukup lama dia lihat dan dia amati. Begitu sudah yakin, baru lah dia memotret. Sempat saya tanya, apa saja yang harus dilihat dan dijadikan pertimbangan ketika akan memotret sebuah objek. Kata Yuyung, dia harus menganalisis objeknya secara detail. Tempat serta aspek pencahayaan harus diatur secara pas. "Potret yang baik, lebih berharga daripada seribu kata" ujar Yuyung saat itu. Kalimatnya ini yang sampai sekarang masih saya ingat.

Ilmu memotret itu, menurut saya, agak-agak mirip dengan marketing. Marketer yang baik, harus sering bertindak mirip dengan fotografer profesional. Ketika ada produk baru yang dilaunching, dan umurnya ternyata nggak lama. Dua atau lima tahun kemudian produk itu tutup atau tak lagi berproduksi karena tak diminati pasar, itu karena salah dalam "memotret". Di antaranya salah dalam memotret pasar. 

Ketika salah dalam memotret pasar, maka bisa juga akan menjadi salah dalam menyusun strategi marketingnya.

Setiap menciptakan produk baru, umumnya orang selalu memberikan potret bahwa yang diciptakan harus bercitra positif. Menjadi anak manis, atau anak yang paling baik. Tapi, pernah kah terpikirkan untuk memberikan potret anak nakal, atau anak bandel untuk produk baru tersebut? Faktanya, konsumen ternyata tak selamanya ingin menjadi anak manis. Konsumen ternyata sekali-kali ingin menjadi anak nakal. 

Sebagai contoh, adalah produsen kosmetik dan parfum wanita. Tak sedikit di antara mereka yang memberi nama produknya berbau dan terkesan negatif. Ada parfum merek “Poison” dari Christian Dior. Padahal, arti dari “poison” adalah racun. Tapi, ternyata produk dengan nama negatif itu justeru menjadi potret yang menggoda. Yang membuat konsumen penasaran. 

Calvin Klein adalah maestro dalam menciptakan produk-produk yang nakal. Lihat saja parfumnya yang diberi nama “Obsession”. Iklannya memperlihatkan bahwa kita bisa saja sensual dan nakal bersamaan. 

Calvin Klein pernah juga meluncurkan parfum dengan nama “Contradiction”. Idenya, pada setiap konsumen selalu ada dua sisi bertabrakan: sisi anak manis dan sisi anak bandel. Potret antagonis yang disodorkan Calvin Klein ternyata diminati banyak orang.  

Ada juga produk makanan yang menggunakan nama “setan” yang jelas-jelas bernuansa negatif. Seperti “mie setan” dan “rawon setan”. Tapi, malah laris. 

Baru-baru ini, sosok Bu Tejo, kembali viral di media sosial, bahkan menjadi trending di twitter pada April lalu. Saat itu akun twitter @moviemenfes mengunggah soal Bu Tejo, hasil tangkap layar di salah satu adegan serial yang menampilkan tokoh Bu Tejo. “Aku padamu Bu Tejo” tulis akun tersebut. Unggahan tersebut tayang sebanyak 1,8 juta kali, disukai 18.700 pengguna twitter, dan dibagikan 1.062 kali. 

Tokoh Bu Tejo sempat terkenal setelah muncul dalam film pendek berjudul “Tilik” karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo pada 2018. Tahun ini, namanya kembali naik, usai “Tilik” dibuat menjadi film seri berjudul “Tilik The Series” yang tayang di WeTV. 

Mengapa tokoh Bu Tejo begitu disukai? Padahal, dia cerminan orang yang suka nyinyir, cerewet, julid, dan mudah sekali mengolok-olok orang? Bukan kah berbagai perilaku itu dikesankan sebagai sikap yang cenderung negatif? Itulah faktanya. Bahwa, konsumen itu tak selamanya ingin menjadi anak yang manis, dan anak yang baik. 

Jadi, jika Anda kebetulan harus menciptakan produk baru, potret yang disodorkan kepada konsumen tak harus melulu indah, glamor, dan sempurna. Yang antagonis seperti anak bandel, tak jarang malah populer dan disukai konsumen. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah