Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mie Gacoan

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 4 Oktober 2023 | 14:10 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Hal yang tak perlu terjadi, tapi terjadi juga pada gerai Mie Gacoan di Kota Kediri. Gerai yang terdapat di Jl PK Bangsa Kota Kediri itu ditutup operasionalnya oleh Pemkot Kediri, akhir September lalu. Padahal, gerai tersebut baru buka awal Agustus lalu. 

Pemkot harus menindak tegas Mie Gacoan di Kota Kediri itu karena ternyata belakangan diketahui mereka beroperasi tapi belum melengkapi beberapa izin. Setidaknya ada dua izin yang belum clear. Yakni PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) dan SLF (Sertifikat Laik Fungsi). Sebelumnya, gerai Mie Gacoan diprotes oleh warga. Penyebabnya, suara bising yang ditimbulkan oleh dusting exhaust gerai itu mengganggu aktivitas belajar-mengajar di SDN Banjaran 4 Kota Kediri.  

Ternyata insiden Mie Gacoan yang nekad beroperasi meski izin belum lengkap, juga terjadi di daerah lain. Gerai Mie Gacoan di Jalan Raya Puspitek Raya, Serpong, Tangerang Selatan disegel oleh Satpol PP, akibat ada beberapa izin yang belum dipenuhi. Peristiwa ini terjadi Desember 2022. 

Sebulan sebelumnya (November 2022), terjadi di Kota Bogor. Satpol PP Kota Bogor menyegel Gerai Mie Gacoan di Jalan Raya Cilendek, Bogor Barat, Kota Bogor karena tidak memiliki izin operasional. 

Penutupan Gerai Mie Gacoan karena izin tak lengkap juga pernah terjadi di Bali, Mei 2022. Tepatnya gerai yang terdapat di Jalan Hasanudin, Kelurahan Dauhwaru, Jembrana. Penutupan dilakukan oleh aparat Satpol PP. 

Ada apa dengan Mie Gacoan? Apakah serentetan insiden ini bakal merusak brand Mie Gacoan? 

Bisa dikatakan, Mie Gacoan saat ini sedang naik daun. Gerai-gerainya, sepanjang yang saya saksikan di beberapa daerah, hampir selalu dipadati pembeli. Nyaris tak pernah sepi. Bahkan, ada yang sampai mengular antreannya. Hingga kini, Mie Gacoan sudah memiliki sedikitnya 115 gerai di seluruh Indonesia.  

Setidaknya ada tiga strategi bisnis Mie Gacoan yang sukses diterapkan, sehingga gerainya banyak diserbu pelanggan: Pertama, menjual produk yang unik. Mie Gacoan punya produk unik, dengan karakter yang berbeda dari produk mie instan lainnya. Di antaranya rasa pedas, ayam bakar, dan rendang. Selain itu, Mie Gacoan juga menghadirkan menu unik yang namanya bisa bikin penasaran pembeli, seperti Mie Gacoan Super Pedas, Mie Setan, hingga Mie Iblis. Ketiganya terbukti menjadi menu favorit di kalangan penggemar makanan pedas. 

Kedua, desain gerainya khas dan menarik. Sehingga berbeda dari gerai mie instan lainnya. Gerai Mie Gacoan dibikin sama, didominasi warna merah dan hitam yang mencolok, sehingga lebih mudah dikenal oleh pelanggan dan pengguna jalan. Selain itu, desain interiornya modern, dengan lampu kekinian dan hiasan dinding mural yang kreatif. Hal ini membuat gerai Mie Gacoan menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi, terutama oleh anak-anak muda. 

Ketiga, mematok harga yang sangat terjangkau. Meski menawarkan menu yang unik dengan desain gerai kekinian, harga semangkuk Mie Gacoan relatif murah, sehingga sangat bisa bersaing dengan merek mie instan lainnya. Mie Gacoan memberikan harga antara Rp 9.500 – Rp 10.500. Selain itu, Mie Gacoan juga sering mengadakan promo-promo menarik untuk produk baru yang diluncurkan, seperti diskon atau potongan harga. 

Tiga hal ini lah yang menurut saya menjadi penyebab, mengapa gerai Mie Gacoan selalu diserbu pembeli. Tiga hal itu yang menurut Philip Kotler disebut dengan atribut dari sebuah produk. Atribut ini yang ditanamkan kepada konsumen, sehingga tertanam kuat di benak konsumen dalam melihat brand sebuah produk. Fungsi dari brand adalah untuk diingat. 

Jika gerai Mie Gacoan terlalu sering ditutup saat sudah dinyatakan beroperasi karena izin tak lengkap, ini sedikit-banyak akan mempengaruhi reputasi brand Mie Gacoan. Ini yang disebut dengan “reputational risk”, yakni ancaman yang bisa merusak nama baik sebuah bisnis atau perusahaan. 

Mengutip Investopedia, terdapat tiga jalur ancaman yang bisa menyerang perusahaan. Yaitu: secara langsung, tidak langsung, dan tangensial. 

Untuk kategori secara langsung, tindakan merugikan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Misalnya, perusahaan tersebut melakukan pelanggaran hukum, atau penipuan kepada pelanggannya. Kalau secara tidak langsung, biasanya merupakan hasil dari tindakan pegawai di perusahaan tersebut. Misalnya, seorang pemimpin di perusahaan meng-upload post di Twitter yang berisikan ujaran kebencian terhadap suatu golongan masyarakat. Sedangkan untuk risiko reputasi tangensial, maksudnya adalah ancaman dari pihak lain yang diasosiasikan dengan perusahaan. Misalnya, perusahaan A dikenal bekerja sama dengan perusahaan B. Suatu hari, perusahaan A menjadi tersangka kasus pencemaran lingkungan. Maka, secara otomatis, brand image dari perusahaan B ikut tercemar karena terasosiasikan dengan perusahaan A. 

Menurut saya, yang terjadi pada gerai-gerai Mie Gacoan yang belum mengantongi izin tapi sudah beroperasi, lalu akhirnya ditutup oleh aparat pemerintah itu, masuk dalam “reputational risk” untuk kategori secara langsung. Yakni, tindakan merugikan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri, karena tidak melengkapi izin-izin sebelum operasional. Jika insiden seperti ini terlalu sering terjadi, bisa merusak brand Mie Gacoan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Mie Gacoan #segel #gerai #ditutup