Setiap kali ke Jogja, saya hampir selalu beli kaos Dagadu. Selain harganya yang relatif murah, saya suka dengan desain dan tulisan-tulisan pada kaosnya. Lucu dan nyleneh.
Dari Dagadu, kita bisa belajar banyak hal. Misalnya dari sisi pemberian nama. Nama Dagadu berasal dari kearifan lokal. Sehingga sangat Jogja. Dagadu diambil dari makian khas Jogja yang artinya “matamu”. Dagadu juga merupakan bahasa sandi atau plesetan yang sudah dikenal di Jogja sejak beberapa puluh tahun lalu. Makanya, logo dari Dagadu adalah “mata”. Bagi Dagadu, “mata” punya nilai filosofis, yakni menjadi titik tolak imajinasi para penciptanya. Mata yang menjadi logonya Dagadu, merupakan pintu jiwa. Lewat mata, kita bisa jatuh cinta. Lewat mata-mata, sebuah kekuasaan bisa tumbang. Dan lewat mata, kita bisa menikmati pemandangan indah.
Pelajaran yang bisa diambil dari Dagadu, jika Anda ingin memberi nama sebuah produk baru, bisa diambil dari kearifan lokal di sebuah daerah, dimana produk itu berasal. Ini yang disebut dengan aspek proximity atau kedekatan. Yakni, kedekatan antara produk dengan daerah, tempat produk itu berasal.
Anda pasti tahu merek handuk “Terry Palmer”? Mungkin, dari sisi nama, di antara Anda ada yang menyangka, merek handuk itu berasal dari luar negeri. “Terry Palmer” diproduksi oleh PT Indah Jaya. Dan yang menarik, nama “Palmer” merupakan singkatan dari Pal Merah, sebuah kawasan di Jakarta, yang merupakan lokasi pabrik handuk itu pertama kali berdiri. Handuk “Terry Palmer” sudah diekspor ke pasar Eropa sejak 1988. Dan sejak 1992, melakukan ekspor ke Jepang.
Jadi, nama produk, jika ingin sukses, bisa diambil dari hal-hal yang berkaitan dengan kearifan lokal. Jika handuk “Terry Palmer” mengambil nama daerah tempat pabrik berdiri pertama kali. Dagadu mengambil nama dari bahasa lokal yang populer.
Pelajaran kedua yang bisa diambil dari eksistensi Dagadu, adalah tentang cara mereka mengatasi pembajakan produk. Sejak berdiri pada 1994, salah satu problem terbesar Dagadu adalah menghadapi semakin banyaknya pembajak produknya yang bersliweran di Jogja.
Seperti diketahui, hingga kini ada empat outlet resmi milik Dagadu. Pertama, di Yogyatorium Gedong Kuning. Kedua, di Lower Ground Malioboro Mall. Ketiga, di Tugu dan di Alun-alun Utara. Dan keempat, di Jalan Margo Utomo.
Selama lebih dari 29 tahun eksis, Dagadu harus berjuang setiap hari melawan plagiasi atau penjiplakan desain yang dimilikinya. Dalam catatan Dagadu, pernah suatu saat ada 500-an penjiplak di seluruh Jogja, dengan skala retail maupun distributor. Waktu itu ada sedikitnya enam distributor besar yang menjiplak karya desain Dagadu. Produk mereka bertebaran di luar empat gerai resmi milik Dagadu tadi. Misalnya di Pasar Ngasem dan di sepanjang kawasan Malioboro. Bahkan, banyak wisatawan yang akhirnya lebih banyak membeli Dagadu palsu, karena saking banyaknya Dagadu palsu yang beredar.
Para penjiplak Dagadu itu bekerjasama dengan tukang becak. Para tukang becak begitu agresifnya menawarkan kepada setiap penumpang yang turun dari stasiun, jika ingin ke pabriknya Dagadu. Ternyata oleh si tukang becak, diajak ke Pasar Ngasem. Bukan benar-benar ke pabriknya Dagadu.
Menanggapi semakin maraknya pembajak dan penjiplak, Dagadu lebih memilih untuk tidak menghadapinya secara frontal. CEO PT Aseli Dagadu Djokdja (produsen Dagadu), Mirza Arditya suatu ketika mengatakan, dalam menghadapi para pembajak dan penjiplak Dagadu, lebih memilih melakukan pendekatan secara manusiawi. “Kami tidak melihat mereka sebagai pesaing. Tapi kami melihat sebagai bagian dari bagi-bagi rejeki. Toh mereka juga butuh hidup,” katanya suatu ketika kepada wartawan.
Pihak Dagadu, kata Mirza, lebih memilih untuk berbesar hati dengan aksi penjiplakan dan pembajakan produknya. Meski sebenarnya, Dagadu sangat dirugikan. Dagadu lebih memilih melakukan pendekatan kepada para penjiplak dan pembajak produknya. Dan suatu ketika para pembajak dan penjiplak itu diajak bertemu. Kepada mereka, Dagadu menawarkan berbagai pelatihan marketing. Pada saat itu lah, Dagadu mencoba menyadarkan kepada para pembajak dan penjiplak produknya, bahwa tindakan mereka sangat berisiko untuk berurusan dengan hukum. Apalagi, pemerintah sejak 2014 sudah menggulirkan UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta. Melalui UU itu, para pembajak atau penjiplak produk bisa dijerat dengan hukuman penjara.
Pada saat itu, Dagadu menyanggupi untuk memberikan berbagai pelatihan, mulai dari pelatihan sablon, desain, dan grafis kepada para pembajak dan penjiplak itu asalkan mereka menghentikan aksi menjiplak mereka.
Upaya yang dilakukan Dagadu ini membuahkan hasil. Pelan-pelan, jumlah pembajak kaos Dagadu berkurang, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Bahkan, saat ini sudah tak banyak lagi ditemui pedagang yang menjual kaos-kaos Dagadu palsu di Jogja.
Dagadu telah berhasil menerapkan strategi yang jitu dalam menghadapi musuh terbesarnya. Yakni para pembajak dan penjiplak. Dagadu lebih memilih merangkul musuhnya, ketimbang memukul.
Berbisnis itu, seperti berperang. Dalam bisnis, cepat atau lambat, pasti akan menghadapi musuh. Dan ini butuh strategi yang jitu. Dalam buku “The Iliad of Homer” ada satu ungkapan yang menarik tentang strategi: “Binalah strategi Anda. Maka, kemenangan tidak akan terlepas daripada genggaman Anda. Strategi menjadikan alat pemotong kayu akan lebih baik dibandingkan dengan kekuatan. Strategi akan menjadikan kapal tidak beranjak keluar dari jalurnya, meskipun angin bertiup kencang di lautan biru. Strategi adalah lebih baik daripada ribuan laskar berkuda”.
Jadi, berjitu-jitulah dengan strategi yang Anda terapkan dalam mengembangkan bisnis. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah