Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mindset “Sebab-Peluang”

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 2 Agustus 2023 | 14:22 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Saya dulu pernah di-dongeng-i oleh teman saya yang seorang pengusaha, yang dari dongeng itu, saya olah menjadi sebuah metode untuk mendeteksi, apakah anak buah saya selalu berpikir positif atau sebaliknya. 

Dongeng itu tentang dua orang salesman terbaik di sebuah perusahaan sepatu, yang dikirim ke sebuah negara terpencil. Ketika tiba di negara itu, kedua salesman tersebut terheran-heran. Sebab, di negara itu hampir semua penduduknya tidak mengenal sepatu. Semua orang yang dijumpai, jalan atau berlari dengan bertelanjang kaki. Hampir tak ada yang memakai sandal atau sepatu. Setelah hampir semingguan berkeliling ke penjuru negeri, tibalah saatnya kedua salesman itu membuat laporan ke kantor pusat. 

Salesman pertama, menulis laporan panjang lebar yang isinya menyimpulkan bahwa usaha mereka akan sia-sia, karena sepatu tidak dikenal di negeri itu. Berjualan sepatu adalah sesuatu yang mustahil. Sepatu tidak akan laku. 

Salesman kedua, justeru melaporkan dengan semangat yang menggebu-nggebu. Dia menulis laporan panjang lebar, yang menjelaskan bahwa di negara itu sepatu belum dikenal. Dia menganggap hal ini justeru sebuah peluang yang langka. Karena sepatu akan menjadi produk inovatif yang akan dibeli setiap orang. Salesman ini dengan semangatnya justeru membuat laporan dimana dalam satu tahun mereka sudah harus membuka puluhan toko. Kalau perlu mendirikan pabrik khusus. Salesman kedua ini, rupanya lebih memilih berpikiran positif, dan selalu melihat peluang dimana-mana. 

Dongeng dari teman saya ini lantas saya hubungkan dengan pengalaman dari dua orang owner “Golden Tulip Holland Resort Batu”, yakni Pak Linggar (owner Optip International) dan Pak Sonny (pemegang hak franchise Holland Bakery se-Jatim dan Bali). Suatu ketika mereka pernah bercerita kepada saya. Dulu, sebelum membangun Hotel Golden Tulip di Kota Batu, mereka menyewa dan membayar cukup mahal jasa salah satu lembaga konsultan untuk melakukan studi kelayakan. Lembaga konsultan itu ditugasi untuk melakukan survey, pengamatan, dan penelitian, apakah cukup layak dibangun sebuah hotel di lahan yang dimiliki Pak Linggar dan Pak Sonny itu. 

Setelah dilakukan studi kelayakan, ternyata rekomendasinya mengejutkan Pak Sonny dan Pak Linggar. Sebab, lembaga konsultan itu tidak merekomendasikan untuk dibangun hotel di tempat tersebut. Karena faktor lokasi yang dianggap tidak strategis. 

Baik Pak Linggar maupun Pak Sonny saat itu sempat bimbang. Tapi, setelah melalui diskusi yang cukup intens, dua orang pengusaha itu nekad untuk tetap membangun hotel. Bahkan, tak tak tanggung-tanggung, mereka membangun hotel bintang lima, yang saat itu belum ada di Kota Batu. 

Wal akhir, “Golden Tulip Holland Resort Batu” saat ini menjadi hotel yang paling difavoritkan di Kota Batu. Saat weekend, long weekend dan musim liburan sekolah, hotel itu selalu dipadati pengunjung. Untuk bisa menginap di hotel itu, tamu harus inden jauh-jauh hari sebelumnya. 

Dari dua kisah di atas, bisa dikatakan bahwa tipe manusia itu berdasarkan cara berpikirnya, bisa dibedakan menjadi dua. Manusia yang berpikiran entrepreneur dan yang berpikiran biasa alias standart. 

Orang yang berpikiran biasa, akan berhitung dengan metode “sebab dan akibat”. Sedangkan orang yang berpikiran entrepreneur akan berhitung dengan metode berbeda, yakni metode “sebab dan peluang”. Artinya, jangkauan berpikir mereka jauh lebih luas. Justeru saking luasnya, kadang situasinya akan berbalik. Yang tadinya negative, akan menjadi positif. 

Pada kisah pertama, salesman pertama adalah cermin dari orang yang berpikiran biasa. Sedangkan salesman kedua, adalah cermin dari orang yang berpikiran entrepreneur. Dia begitu antusiasnya untuk mengubah sebuah keadaan yang negative, menjadi keadaan yang positif.

Pada kisah kedua, Pak Linggar dan Pak Sonny, adalah cermin dari orang-orang yang berpikiran entrepreneur. Mereka berani berpikiran sebaliknya. Oleh lembaga konsultan tidak direkomendasikan untuk dibangun hotel (keadaan negative), tapi Pak Linggar dan Pak Sonny malah bersemangat untuk tetap membangun hotel (keadaan positif). Dan upaya mereka akhirnya berhasil. 

Orang yang berpikiran entrepreneur, seringkali bisa menciptakan peluang-peluang bisnis yang baru. Dan seorang entrepreneur tidak pernah merasa menemui jalan buntu, apa pun situasinya. Setiap kegagalan, bukan lah penghalang. Tetapi itu adalah kerikil-kerikil kecil semata yang hanya memperlambat perjalanan. 

Nah, Anda seorang pemimpin bisnis atau pemimpin perusahaan, harus bisa memetakan, manakah anak buah Anda yang cenderung berpikiran entrepreneur atau berpikiran biasa alias standar. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#dongeng #kisah #marketing