Mudik lebaran tahun ini (2023), lebih ramai ketimbang tahun lalu. Kementerian Perhubungan, melalui survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi (BKT) memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 123 juta orang. Berarti, angka ini jauh meningkat daripada tahun lalu (2022) yang total jumlah pemudik saat itu 85,5 juta orang.
Lebih lanjut, masih menurut survei tersebut, para pemudik tahun ini mayoritas menggunakan mobil pribadi, sebanyak 27,32 juta orang (22,07 persen). Terbanyak kedua menggunakan sepeda motor, sejumlah 25,13 juta orang (20,3 persen). Lalu bus, sebanyak 22,77 juta orang (18,39 persen), kereta api antar kota, sebanyak 14,47 juta orang (11,69 persen), dan mobil sewa, sebanyak 9,53 juta orang (7,7 persen).
Tradisi mudik adalah simbol ritual silaturahmi yang penting. Kebiasaan seperti ini tak hanya dikenal di Indonesia. Di Amerika ternyata juga ada tradisi mirip mudik. Yakni pada momen Thanksgiving yang dirayakan setiap tahun pada Kamis ke-empat bulan November. Pada saat itu lah, banyak warga di Amerika bepergian atau mudik ke tempat asalnya. Mayoritas menggunakan jalur penerbangan. Maka, pada saat momen Thanksgiving itu, biasanya jalur penerbangan jauh lebih padat dari biasanya.
Mudik termasuk “festive season” (musim perayaan). Banyak yang bisa “dimainkan” dan banyak yang bisa dimanfaatkan pada saat arus mudik tersebut berlangsung. Para pemudik yang menggunakan mobil pribadi, ketika lewat tol, hampir pasti akan selalu singgah di rest area. Maka, para penjual di rest area pun bisa memanfaatkannya. Menjual lebih banyak produknya. Memberikan pelayanan yang lebih baik. Sehingga, keuntungan yang berlipat-lipat, bisa akan mudah didapat.
Para pemudik yang tidak melintasi jalan tol, pasti juga akan singgah di tempat-tempat makan, saat istirahat. Atau, mereka juga bisa jadi akan mampir ke tempat-tempat yang menjual berbagai macam oleh-oleh.
Ketika musim mudik berlangsung, para penjual makanan, penjual minuman, penjual oleh-oleh, yang berada di jalur mudik, baik di rest area tol maupun di pinggir-pinggir jalan yang bukan ruas tol, tak butuh lagi promosi. Tak butuh strategi marketing untuk memasarkan produknya. Sebab, pada kondisi seperti ini, berlaku kaidah: pembeli yang mencari penjual. Yang dibutuhkan pada kondisi seperti ini, adalah pelayanan yang excellent dari penjual. Karena hal seperti ini akan menimbulkan kesan yang baik bagi pembeli.
Sebagai seorang marketer, tantangannya adalah: harus bisa mengkapitalisasikan momen mudik. Sungguh disayangkan, jika momen mudik itu hanya dianggap sebagai hal rutin yang biasa terjadi setiap tahun.
Ada potensi yang sangat besar dibalik momen mudik. Mereka yang mudik, adalah mereka yang tinggal di kawasan urban. Mengutip publikasi dari katadata.co.id (2020), wilayah Jabodetabek ternyata menempati urutan kedua di dunia sebagai wilayah urban dengan populasi penduduk sebesar 34,5 juta. Tokyo - Yokohama menempati urutan pertama dengan populasi sebesar 38 juta penduduk.
Dari sisi jumlah populasi, wilayah Jabodetabek nomor dua setelah Tokyo-Yokohama. Tapi, dari sisi kepadatan penduduk, Jabodetabek menjadi wilayah terpadat di dunia, dengan kepadatan penduduk 9.756 jiwa per kilo meter persegi. Sementara Tokyo - Yokohama dipadati penduduk sebesar 4.614 jiwa per kilo meter persegi.
Data BPS (Badan Pusat Statistik) menambahkan: 56,7 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan (2020). Jumlah ini diperkirakan meningkat tajam menjadi 66,6 persen pada 2035.
Bank Dunia memperkirakan, 220 juta penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan pada 2045. Jumlah ini, setara dengan 70 persen dari total populasi di tanah air.
Nah, dari data di atas, kita bisa membayangkan, bahwa jumlah pemudik di setiap momen lebaran, bakal semakin meningkat setiap tahunnya. Dan ini adalah pasar yang sangat potensial. Pasar potensial ini bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha retail, pengusaha makanan-minuman, dan para pebisnis lain. Mulai dari produsen vitamin, obat maag, hingga perusahaan ban, mobil, dan oil. Pertamina bisa menggandeng stasiun televisi untuk menyiapkan pos-pos mudik di ruas jalan strategis yang dilalui para pemudik.
Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan. Yakni, saya tanya teman-teman saya, jika harus diberi hadiah saat lebaran, hadiah seperti apa yang diinginkan. Ternyata, mayoritas mereka ingin diberi hadiah tenaga pembantu rumah tangga pengganti yang andal. Maklum, saat lebaran, para pembantu mereka mudik dengan waktu yang agak lama. Bisa seminggu hingga dua minggu. Dan ini, adalah “bencana” yang luar biasa bagi keluarga yang sudah terbiasa hidup dengan tenaga pembantu rumah tangga.
Nah, ini adalah peluang. Kalau mau cerdik, dan mencari rezeki tambahan, buka saja jasa penyalur pembantu rumah tangga darurat di saat lebaran. Pasti bakal laris manis. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah