Official Airline Guide (OAG) mencatat, jumlah penumpang Lion Air per September 2022 terdapat 3,8 juta orang. Peringkat kedua: Vietnam Airlines dengan total 2,5 juta kursi. Maskapai penerbangan asal Malaysia: Air Asia berada di peringkat keempat dengan total 1,84 juta penumpang. Maskapai penerbangan yang masih satu group dengan Lion Air: Batik Air berada di peringkat ke-enam dengan jumlah total 1,53 juta penumpang. Jika Lion Air dan Batik Air digabung, maka jumlah totalnya mencapai 5 juta lebih penumpang.
Di Indonesia, Lion Air Group juga merajai penerbangan domestik. Merujuk data dari INACA (Indonesia National Air Carriers Association) Report 2021, tercatat bahwa sepanjang 2021 Lion Air mengangkut 9,89 juta penumpang. Ini ekivalen dengan 30 persen dari total jumlah penumpang domestik. Sedangkan Batik Air melayani 7,26 juga penumpang (22 persen). Airline kelompok Lion Air lainnya: Wings Air menerbangkan 2,62 juta penumpang, atau setara dengan 8 persen.
Jadi, secara total, kelompok usaha milik Rusdi Kirana itu sepanjang 2021 mengangkut 19,77 juta penumpang dari 33.364.980 total penumpang domestik. Berarti, Lion Air Group mengangkut sekitar 60 persen penumpang domestik sepanjang 2021. Ini belum dihitung penumpang dari Maskapai Super Air Jet yang disebut-sebut juga milik Rusdi Kirana.
Data kedua, adalah “bad news”-nya Lion Air. Menjelang akhir tahun 2022, Travel Bounce, platform asal Australia merilis laporan terkait pelayanan maskapai penerbangan di dunia yang bertajuk: “The 2022 Airline Index”. Laporan itu didasarkan dari hasil survei kepada para pelaku perjalanan. Hasilnya: Lion Air menduduki peringkat pertama, dalam daftar maskapai terburuk di dunia. Kategori terburuk didasarkan pada layanan yang diberikan oleh maskapai tersebut.
Merujuk pada laporan tersebut, Lion Air mendapatkan skor 0,72. Memiliki tingkat kedatangan tepat waktu hanya 42,27 persen. Artinya, sering terlambat. Dan memiliki tingkat pembatalan mencapai 34,43 persen. Berarti, sepertiga penerbangan Lion Air dibatalkan selama setahun terakhir. Lion Air juga hanya mendapat skor 1/5 untuk makanan dan hiburan dalam pesawat, dan 2/5 untuk kenyamanan kursi dan layanan staf.
Data-data tersebut, agaknya terkonfirmasi pada pengalaman saya. Dari pengalaman saya terbang dengan Lion Air, kebanyakan sering molor dari jadwal. Makanya, sedapat mungkin, jika cari maskapai untuk penerbangan domestik, apalagi untuk penerbangan yang “time sensitive”, saya menghindari Lion Air. Jika pun terpaksa harus dengan Lion Air, saya harus bersiap-siap untuk di-delay atau molor dari jadwal penerbangannya.
Baru-baru ini, teman saya yang punya travel umroh di Malang, Jawa Timur, curhat tentang pengalamannya menggunakan Lion Air. Ceritanya, saat itu dia akan memberangkatkan sekitar 40-an jamaahnya dengan Lion Air. Awalnya, mendapatkan jadwal berangkat 21 Desember 2022 dengan rute Surabaya – Madinah. Tetapi, kemudian direschedule oleh pihak Lion Air mundur menjadi tanggal 24 Desember 2022 dengan rute Surabaya – Jeddah. Dengan reschedule itu, teman saya sempat keteteran. Untungnya, pihak hotel di Arab Saudi bersedia untuk dimundurkan jadwalnya. Tiba-tiba, menjelang keberangkatan, teman saya merasa bagai disambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak, pihak Lion Air mengirim pemberitahuan, bahwa penerbangan dengan rute Surabaya – Jeddah pada 24 Desember 2022 dicancel alias dibatalkan. Uang tiket memang dikembalikan oleh pihak Lion Air. Tapi, teman saya tetap merasa sangat dirugikan. Dia sudah terlanjur melunasi hotel di Arab Saudi. Dan uang itu pun akhirnya hangus. Belum lagi, reputasi nama travel teman saya itu dimata para jamaahnya. Sebab, gara-gara pembatalan oleh Lion Air itu, travel teman saya tidak jadi memberangkatkan umroh para jamaahnya. “Saya sangat dirugikan material maupun immaterial,” katanya.
Pengalaman tak mengenakkan terbang dengan grup Lion Air juga dirasakan penyanyi Ari Lasso. Waktu itu dia akan terbang dengan Batik Air, dari Singapura ke Jakarta. Awalnya, di jadwal tiket ditulis berangkat pukul 17.35 waktu setempat. Tapi, pagi sebelum berangkat, dapat notifikasi bahwa penerbangan diundur pukul 19.35. Begitu Ari berada di depan gate, ternyata gate-nya diubah. Ketika Ari sudah tiba ke gate yang diubah itu, ternyata pesawatnya sudah berangkat. Kisah tak mengenakkan ini lantas diungguh Ari di akun IG pribadinya, pada Oktober 2022. Dan sempat viral.
Ini lah sisi paradoks Lion Air. Satu sisi, adalah maskapai penerbangan yang paling banyak digunakan penumpang, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara. Tapi, pada sisi lain, menurut versi “Travel Bounce” menjadi maskapai penerbangan terburuk di dunia, terutama dilihat dari sisi ketepatan waktu terbang dan seringnya meng-cancel penerbangan. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan? Mengapa penumpang masih banyak yang memilih Lion Air?
Bisa jadi ini jawabannya: Karena hingga kini, Lion Air Group masih mendominasi penerbangan domestik. Mereka adalah “raja-nya” penerbangan domestik. Mereka sangat ekspansif dengan membuka rute-rute baru di tanah air, maupun di luar negeri. Menurut rencana, tahun ini akan membuka rute baru ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di antaranya ke Bangladesh, Sri Lanka, India, dan Pakistan.
Di Asia Tenggara, akan menambah rute penerbangan ke Singapura dan Kuala Lumpur. Lalu Penang – Banda Aceh.
Di dalam negeri, tahun ini berencana akan menambah rute di Sumatera, yaitu di Pekanbaru dan Medan.
Penambahan rute penerbangan baik ke luar negeri maupun di dalam negeri akan meliputi seluruh maskapai yang tergabung dalam Lion Air Group: Lion Air, Batik Air, Wings Air, Thai Lion Air, dan Super Air Jet. Saat ini, Lion Air Group memiliki 317 armada pesawat.
Jadi, karena Lion Air Group masih mendominasi rute penerbangan, terutama di pasar domestik, sehingga berbagai pengalaman tak mengenakkan dari para penumpang terkait pelayanan dan servisnya, sepertinya tak berpengaruh terhadap arus jumlah penumpang yang menggunakan Lion Air Group. Buktinya, selama dua tahun terakhir (sejak 2020) total jumlah penumpang yang menggunakan penerbangan Lion Air Group cenderung meningkat.
Apakah ini karena para penumpang yang terbang di pasar domestik dihadapkan pada kondisi “tidak ada pilihan”? Karena tidak ada maskapai penerbangan lain yang rute-nya sebanyak Lion Air Group? Sehingga, mau-tidak mau, suka-tidak suka, harus terbang dengan Lion Air meski pesawatnya dikesankan lebih sering terlambat dan sering di-cancel?
Jika memang benar seperti ini, berarti kondisi pasar penerbangan domestik bagi Lion Air Group seperti “captive”. Lebih jelasnya: “captive market”. Menurut Collins Dictionary, “captive market” adalah sebuah kelompok konsumen yang terpaksa untuk membeli produk tertentu, karena minimnya pilihan.
Apakah yang terjadi pada Lion Air Group mirip seperti kondisi “captive market”? Para penumpang terbang menggunakan Lion Air karena minimnya pilihan? Bagaimana menurut Anda? Ayo kita berdiskusi. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah