Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Solo: The Spirit of Java

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 30 November 2022 | 15:30 WIB
marketing-by-fear
marketing-by-fear
November 2022 ini Kota Surakarta (secara populer disebut: Solo) dipenuhi dengan event-event besar yang menyedot perhatian dan menghadirkan banyak massa. Hampir berdekatan waktu pelaksanaannya. Pertama, diawali dengan haul (peringatan kematian) Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi yang dipusatkan di Masjid Riyadh, kawasan Pasar Kliwon. Kebetulan, saya hadir mengikuti rangkaian haul tersebut.

Kegiatannya dimulai pada 12 November 2022, dan puncak haul dilaksanakan pada 16 November 2022. Puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia, terbanyak dari Jawa Timur, diperkirakan menghadiri acara yang dilaksanakan setiap tahun itu. Menurut kuasakata.com, haul Habib Ali di Solo merupakan satu dari empat haul ulamak yang paling banyak dihadiri massa di Indonesia. Terbesar adalah haulnya Guru Sekumpul di Martapura, Kabupatan Banjar, Kalimantan Selatan.

Event kedua, adalah peresmian Masjid Raya Sheikh Zayed di Banjarsari pada 14 November 2022. Sesuai namanya, ini adalah masjid yang dibangun oleh Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Dan hari itu, dia datang ke Solo, meresmikan masjid tersebut didampingi Presiden Joko Widodo. Masjidnya megah. Besar. Keren. Sayangnya, ketika saya ke sana, masih belum boleh digunakan untuk umum. Karena masih ada penyempurnaan bangunan.

Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, adalah event ketiga yang dilaksanakan di Solo pada 18 – 20 November 2022. Event keempat adalah Munas ke XVII HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) yang dilaksanakan pada 22 November 2022. Event kelima yang juga dipusatkan di Solo adalah Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren se-Indonesia yang dilaksanakan pada 23 – 27 November 2022.

Solo memang kota yang menarik. Eksotik. Dan Solo menurut saya, adalah termasuk contoh kota yang sukses dalam membangun dan menerapkan city branding-nya. Salah satu aspek implementasi dari city branding diwujudkan dalam city slogan. City slogan Solo adalah: “The Spirit of Java”.

Slogan “The Spirit of Java” secara resmi dilaunching sejak 14 Februari 2007. Sebelumnya, Jogja lebih dulu membranding kotanya dengan slogan: “The Never Ending Asia”. Lima tahun berikutnya pada 2006, Semarang menyusul melaunching slogan: “The Beauty of Asia”.

Tapi, dalam perkembangannya, city branding Jogja melalui slogan “The Never Ending Asia” dianggap gagal. Bahkan, yang menyebut gagal adalah Gubernur DIY sendiri (Suara Merdeka, 10 April 2007). Hal yang sama juga dialami Semarang. Terpaan media mengenai city branding Semarang cenderung tak mendukung pemilihan slogan “The Beauty of Asia”. Majalah Opini pada edisi 5 Oktober 2008 mengulas, positioning Semarang dengan slogan “The Beauty of Asia” perlu ditinjau ulang relevansinya dengan keadaan Kota Semarang.

Berarti, dalam menyusun dan membuat slogan sebagai bagian dari city branding sebuah kota, tidak cukup hanya bikin kalimat yang keren saja. Proses branding sebuah kota, terkait erat dengan pembentukan “identitas” kota yang bersifat unik dan berbeda dibandingkan kota lain. “Identitas” ini sama dengan diferensiasi pada branding produk. Ketika sebuah kota ingin kuat city branding-nya, maka dari sisi “identitas”, harus menyusun strategi untuk merancang suatu perbedaan yang berarti dan kompetitif dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Selain konsep “identitas”, dalam buku “How to Brand Nations, Cities and Destinations; A Planning Book for Place Branding” yang ditulis Moilanen dan Rainisto disebutkan, membentuk city branding juga butuh konsep “citra” atau image dan “komunikasi”.

“Citra” merupakan proyeksi dari adanya “identitas” yang kuat dari sebuah kota. Kota dengan “identitas” yang kuat, berpotensi untuk memiliki “citra” kota yang kuat.

Sedangkan “komunikasi” adalah bagian tak terpisahkan dari “identitas” dan “citra”. Tugasnya adalah mensosialisasikan serta mengkomunikasikan kepada khalayak, khususnya para stakeholders, sehingga mereka benar-benar menyadari apa yang menjadi “identitas” yang mewakili “citra” kota.

Kota Solo sukses membentuk city branding-nya yang diimplementasikan dalam city slogan: “The Spirit of Java”. Dengan slogan itu, Solo ingin menguatkan “identitas” kotanya sesuai dengan jiwa warga Solo yang mayoritasnya adalah orang Jawa. Dan orang Jawa itu punya kewajiban melestarikan nilai-nilai budaya Jawa. Dengan slogan “Spirit of Java”, Solo ingin membentuk “citra” kotanya sebagai kota berbudaya. Nuansa ini kuat sekali terasa di Solo. Melihat bangunan keratonnya. Rumah dinas wali kota Solo “Loji Gandrung”. Merasakan kulinernya. Hingga datang ke pasar-pasar tradisionalnya. Terasa Solo banget. Jawa banget.

Yang membuat Solo sukses dengan city branding-nya karena ada sinergi yang cukup baik antara city branding dengan program Pemerintah Kota Solo. Misalnya, Pemkot Solo secara berkesinambungan melakukan revitalisasi dan secara rutin menggelar “cultural event”. Juga mendirikan dan memaksimalkan peran Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) serta “Tourism Information Center”. Pada 20 Februari 2011 melaunching railbus dan bus bertingkat.

Upaya pencitraan Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa diwujudkan dengan dirintisnya Solo sebagai pusat pengkajian dan pengembangan keris. Berbagai even yang mendukung upaya tersebut gencar dilaksanakan di Solo sebagai bagian dari menjalankan konsep “komunikasi”. Di antaranya, di Solo pada 25-28 Oktober 2010 sukses menghelat “World Herritage Cities Conference and Expo” (WHCC). Hanya sehari berselang, Solo menjadi tuan rumah untuk event: Surakarta International Ethnic Music yang digelar pada 28 Oktober – 1 November 2010. Dan akhir 2010, dihelat event yang tak kalah besarnya: International Keroncong Festival.

Dan yang mutakhir, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka Juni lalu menggelar event di Paris, Prancis untuk semakin menguatkan dan mempromosikan slogan city-nya “The Spirit of Java”. Di event bertajuk “Java in Paris” itu Gibran memamerkan produk-produk UMKM Solo. Sekaligus semakin mempromosikan batik Solo yang sangat khas itu.

Jadi, untuk mewujudkan city branding yang kuat, solid dan masiv, butuh kerja kolektif yang serius, terintegrasi, terorchestrasi dengan baik dengan sejumlah pihak, serta harus berkesinambungan. City branding harus disepakati untuk diberlakukan dalam jangka panjang. Bukan ganti wali kota, ganti pula city branding-nya.

Dalam menyusun city slogan, juga tidak boleh terjebak pada sekadar aktivitas yang sifatnya artifisial. Misalnya, membuat slogan, tetapi tidak relevan dengan karakteristik kota.

Alan C. Middleton, penulis buku: “Marketing Matters For Small and Medium Enterprises; Now More Than Ever” pernah mengatakan bahwa kota dengan brand yang kuat, akan berdampak pada kemudahan mendapatkan investasi, kemudahan menarik turis atau pariwisata. Juga mendapatkan kredibilitas tinggi dari investor, hingga kemudahan mendapatkan partner dari luar negeri. Maka dari itu, sebuah kota harus memanfaatkan praktik marketing city branding untuk menarik modal, teknologi, event dan pariwisata.

Bagaimana dengan city branding di kota Anda masing-masing? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#solo #The spirit of java #kurniawan muhammad #spirit of java #marketing on wednesday