Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Holywings

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 29 Juni 2022 | 14:24 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner 
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner 
Holywings baru-baru ini menjadi trending topic. Restoran dan bar itu bikin promosi kontroversial: ngasih gratis minuman (beralkohol) kepada siapa saja yang punya nama “Muhammad” dan “Maria”.

 

Entah, apa yang ada di benak para tim marketing di Holywings, hingga bikin promo senaif itu. Apakah mereka sedang tidak sadar (baca:mabok)? Atau, semata-mata ingin mengejar viralitas di media sosial? Hingga kehilangan kepekaan atau kehilangan empathy terhadap nilai-nilai relijiusitas? Nama “Muhammad” dan “Maria” adalah nama-nama yang dijunjung tinggi, disucikan, dan dimuliakan. Apakah para tim marketing di Holywings tidak menyadari hal ini?

 

Tak ayal, netizen pun ramai-ramai menghujat Holywings. Bahkan, tak sedikit yang menuntut agar tempat hiburan itu ditutup permanen. Tak hanya sampai di sini. GP Ansor DKI Jakarta, salah satu ormas Islam, saat itu langsung “menyegel” tiga outlet Holywings di Jakarta. Yakni di Senayan Park Mall (Jakarta Pusat), Gunawarman (Jakarta Selatan), dan di Gatsu Club V (Jakarta Selatan).

 

Polisi akhirnya bertindak. Polres Jakarta Selatan telah menetapkan 6 tersangka, mereka adalah tim marketing atau promosi dari Holywings. Mereka dijerat dengan pasal 16 Ayat 1 dan 2 UU ITE, Pasal 156 a KUHP, Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dan Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

 

Lantas, apa pelajaran yang bisa diambil dari kasus promo “nyleneh” Holywings ini?

 

Pertama, berhati-hatilah jika meng-upload promo di media sosial. Holywings melalui akun resminya di Instagram:@holywingsindonesia meng-upload materi promonya pada Rabu pekan lalu (22/6/2022). Isinya sangat provokatif: “These Names Get Free Bottle!! Every Thursday”. Lalu di bawahnya terdapat gambar dua botol minuman beralkohol, dan di masing-masing botol itu ditempeli nama “Muhammad” dan “Maria”.

 

Ketika seseorang meng-upload sebuah ajakan, atau sebuah promosi di media sosial, tentu lah tujuan yang diinginkan adalah agar materi yang di-upload itu sebanyak mungkin di-like oleh netizen. Sebanyak mungkin menjadi bahan perbincangan. Tujuan akhirnya, adalah “viral”. Nah, tujuan akhir “viral” ini lah yang sering membuat orang menjadi kehilangan sensitifitas dan empathy terhadap nilai-nilai tertentu yang diyakini dan dianut oleh masyarakat.

 

Oxford mendefinisikan kata viral sebagai: “an image, video, advertisement, etc., that is circulated rapidly on the internet (gambar, video, iklan, dan lainnya, yang beredar dengan cepat di internet)”.

 

Kita bisa menyaksikan, di media sosial begitu mudahnya dilihat konten-konten, baik berupa foto maupun video yang mengumbar aurat dan keseksian yang tersebar dengan sangat bebas. Ini semua dilakukan demi mengejar viralitas. Bahkan, (ini yang ironis), banyak media mainstream yang justeru mengambil materi berita dari konten-konten media sosial yang viral itu demi mendatangkan viewers.

 

Keinginan untuk cepat menjadi perhatian banyak orang alias viral, ini lah yang bisa jadi memotivasi tim marketing Holywings untuk bikin materi promo yang kontroversial itu. Sesuatu yang kontroversial, memang bisa sangat cepat menjadi perbincangan publik. Apalagi, jika kontroversial menyangkut unsur menyinggung agama tertentu. Mengait dengan nilai-nilai tertentu.

 

Demi memburu viralitas, melupakan sensitifitas. Ini sekarang yang menggejala di era “post truth” (pasca kebenaran). Dan “post truth era” menurut AC Grayling (filosof Inggris, penulis 30 judul buku filsafat) diwarnai dengan keriuhan dan kegaduhan di media sosial. Dan keriuhan di media sosial sarat dengan konten-konten yang viral.

 

Padahal, seorang marketer harus punya sensitifitas. Sensitif (peka) terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Juga sensitif terhadap berbagai nilai yang berkembang di masyarakat. Sensitifitas akan melahirkan empati. Merujuk pada definisi yang diberikan Merriam Webster, empati adalah tindakan memahami, menyadari, peka, dan sekaligus mengalami perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain. Intinya, empati itu tidak hanya ikut serta. Tapi, bisa menempatkan diri.

 

Pelajaran kedua dari kasus Holywings, kita saat ini berada di “hyperconnected era”. Yakni, era dimana kita bisa begitu cepatnya terhubung dengan yang lainnya melalui internet, dalam hitungan detik. Mengapa? Karena data global menyebutkan, bahwa saat ini 2/3 penduduk bumi telah terhubung melalui internet. Di Indonesia, dari jumlah penduduk 278.752.361 jiwa, sekitar 178 juta di antaranya (sekitar 64 persen) sudah terhubung internet (worldometer, 25 April 2022).

 

Di era yang hyperconnected, tidak diperlukan kehebatan luar biasa. Cukup keterampilan mobilisasi. Dan ada lima elemen yang menjadi penggerak untuk terjadinya mobilisasi.

 

Pertama, magnitude. Atau peristiwa besar. Jika terjadi peristiwa besar atau luar biasa di ujung dunia sana, maka akan begitu cepatnya menyebar di ujung dunia lainnya.

 

Kedua, proximity. Kedekatan bisa menyulut terjadinya mobilisasi. Kedekatan emosional. Kedekatan geografis. Dan kedekatan ideologis. Apa yang dilakukan oleh Holywings, yang melecehkan nama “Muhammad” dan “Maria”, menyulut umat Islam dan Nasrani. Karena yang disentuh adalah kedekatan emosional dan ideologis.

Ketiga, drama. Jika ada peristiwa di masyarakat yang mengandung unsur drama (terdapat adegan demi adegan yang menarik untuk ditonton), lalu diupload di media sosial, maka akan sangat mudah memicu terjadinya mobilisasi. Ada seorang kepala desa yang ketahuan warganya berselingkuh dengan seorang janda. Lalu digerebek oleh warganya. Divideo penggerebekan itu. Kemudian di-upload di media sosial. Maka, dalam hitungan jam, ribuan warga langsung menggeruduk balai desa, dan menuntut agar si kepala desa dicopot dari jabatannya.

 

Keempat, konflik. Apa pun yang berbau konflik, sangat mudah menjadi bahan untuk memicu terjadinya mobilisasi massa. Konflik biasanya dipicu oleh sesuatu yang kontroversial.

 

Kelima, ketokohan. Kekuatan figur seseorang, bisa juga menjadi daya tarik untuk memobilisasi massa.

 

Dengan dua pelajaran dari kasus Holywings ini, kita harus semakin berhati-hati dalam menggunakan medsos (media sosial). Gunakan lah lima elemen tadi untuk memobilisasi pada hal-hal yang baik dan bermanfaat. Ingat, “medsos mu adalah harimaumu”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#viral #bar #cafe #holywings #marketing on wednesday