Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Isna Febriani Nur Habibah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:25 WIB
ilustrasi orang sedang memainkan ponselnya (freepik)
ilustrasi orang sedang memainkan ponselnya (freepik)

JP Radar Kediri – Istirahat sebentar sering terdengar sederhana. Namun, lima menit setelah mambuka media sosial bisa berubah menjadi berjam-jam.

Satu video pendek selesai, berlanjut ke video berikutnya, lalu bergeser ke platform lain tanpa terasa wakti berjalan.

Kebiasaan tersebut tidak selalu muncul karena sengaja ingin menghabiskan waktu di depan layar. Cara platform digital menyajikan konten juga dapat membuat aktivitas scrolling terus berlanjut.

Baca Juga: Tips dan Trik Mix and Match Blus Floral agar Tampil Stylish dan Tidak Berlebihan!

Kenapa Lima Menit Bisa Berubah Menjadi Satu Jam?

Salah satu alasannya adalah tidak adanya batas alami dalam media sosial.

Pada media konvensional, sebuah acara atau tayangan biasanya memiliki titik akhir.

Berbeda dengan media sosial yang menggunakan fitur seperti infinite scroll, rekomendasi personal, autoplay, notifikasi, dan sistem likes.

Fitur-fitur tersebut membuat pengguna dapat terus menerima konten tanpa harus berhenti untuk memutuskan kapan aktivitas selesai.

Konten yang muncul juga tidak selalu sama. Setelah satu unggahan selesai, pengguna bisa mendapatkan video lucu, berita, konten yang sedang tren, atau sesuatu yang sesuai dengan minatnya.

Baca Juga: Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?

Ketidakpastian mengenai apa yang muncul berikutnya dapat membuat aktivitas scrolling terasa seperti selalu ada sesuatu yang menarik untuk dilihat, sehingga tak akan ada hentinya.

Penelitian terbaru tentang binge-scrolling juga mengaitkannya dengan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kekhawatiran bahwa seseorang akan tertinggal informasi, percakapan, atau hal menarik yang sedang terjadi di lingkungan sosialnya.

Bukan Sekadar Soal Kurang Disiplin

Ketika seseorang sulit untuk meletakkan ponselnya, penyebabnya tidak selalu sesederhana “kurang disiplin”.

Kebiasaan terbentuk ketika sesuatu tindakan berulang kali dilakukan dlam situasi yang sama.

Misalnya, ketika merasa bosan lalu membuka sosial media, menunggu sesuatu lalu membuka media sosial, atau ketika ingin beristirahat lalu otomatis mengambil ponsel.

Dari kebiasaan sederhana itulah lama-kelamaan mengambil ponsel dapat menjadi respons otomatis terhadap rasa bosan atau jeda aktivitas.

Baca Juga: Jangan Langsung Bereaksi Saat Emosi Naik, Jeda Sejenak Bisa Bantu Mengelolanya

Penelitian mengenai penggunaan media sosial juga menunjukkan bahwa pengendalian diri berhubungan dengan kebiasaan penggunaan yang bermasalah.

Dengan demiian, persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi apakah penggunaan tersebut mulai mengganggu kegiatan lain yang sebenarnya lebih penting.

Istirahat Tidak Harus Selalu Berarti Scrolling

Masalahnya, scrolling sering dianggap sebagai bentuk istirahat. Padahal, aktivitas tersebut tetap membuat otak menerima aliran informasi secara terus-menerus.

Tinjauan mengenai dampak teknologi digital terhadap fungsi kognitif menunjukkan bahwa notifikasi, autoplay, dan infinite scroll dapat meningkatkan beban perhatian serta mendorong pengguna untuk terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain.

Baca Juga: Ghost in the Cell Jadi Film Terpopuler di Netflix Indonesia

Karena itu, “istirahat” dengan membuka media sosial belum tentu memberikan jeda yang sama dengan benar-benar berhenti dari rangsangan digital.

Beristirahat bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, seperti berjalan sebentar, minum air, berbicara dengan orang lain, melihat ke luar ruangan, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

Cara Membuat Waktu Istirahat Tidak Kebobolan

Mengurangi kebiasaan scrolling tidak selalu harus dilakukan dengan langsung menghapus seluruh media sosial. Langkah yang lebih realistis adalah membuat batas yang jelas.

Salah satunya dengan menentukan durasi sebelum membuka aplikasi. Misalnya, bukan sekadar berkata “sebentar”, tetapi menetapkan waktu istirahat selama 10 menit dan menggunakan alarm sebagai pengingat.

Baca Juga: 5 Olahraga yang Mulai Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Notifikasi yang tidak penting juga dapat dimatikan. Langkah ini mengurangi pemicu eksternal yang membuat seseorang berulang kali memeriksa ponsel.

Penelitian terhadap intervensi digital pada 2026 menemukan bahwa pengingat yang muncul ketika pengguna melewati batas waktu yang ditentukan sendiri dapat membantu menurunkan waktu penggunaan aplikasi yang paling bermasalah sekitar 29 menit per hari.

Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa strategi seperti ini tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan penggunaan media sosial.

Cara lain adalah menyediakan alternatif ketika ingin beristirahat. Penelitian 2026 mengenai penggunaan ponsel bermasalah menemukan bahwa aktivitas alternatif yang dinilai bernilai oleh seseorang dapat berkaitan dengan kecenderungan penggunaan ponsel yang lebih rendah.

Baca Juga: TikTok Kini Bisa Dipakai Buat Telpon-Telponan, Ini Deretan Fitur Barunya

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah media sosial boleh digunakan atau tidak. Media sosial tetap menjadi sarana komunikasi, hiburan, dan informasi yang berguna. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan menentukan kapan harus masuk dan kapan harus keluar.

Karena itu, ketika niat awalnya hanya “scroll sebentar”, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Masih ada video menarik apa?”, melainkan “Saya sebenarnya sedang beristirahat atau sedang mencari alasan untuk terus scrolling?”

Editor : Shinta Nurma Ababil
Digital Wellbeing gaya hidup media sosial