JP Radar Kediri – Burung Wambi, yang secara ilmiah dikenal sebagai Chinese Hwamei (Garrulax canorus), telah lama memikat hati para pecinta burung kicau di Indonesia.
Suara merdu dengan karakter khas yang unik membuatnya berbeda dari kenari atau lovebird. Dulu, burung ini menjadi primadona di kalangan penghobi peliharaan, sering dijual di pasar burung dengan harga tinggi berkat kicauannya yang memukau.
Namun, kini keberadaan Burung Wambi di alam liar semakin sulit ditemukan. Populasinya terus menurun akibat berbagai ancaman, termasuk perburuan ilegal dan kerusakan habitat.
Menurut data BirdLife International (2024), statusnya IUCN Vulnerable, artinya rentan punah jika tidak ada intervensi serius. Berikut pembahasan tentang Burung Wambi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cantik! Ini Pesona Burung Kepodang yang Kaya Makna Budaya dan Terancam Punah
Ciri-Ciri Fisik yang Unik
Burung Wambi memiliki ukuran tubuh 21–26 cm, hampir setara lovebird yang sedang. Warna bulunya didominasi cokelat keabu-abuan alami, dengan garis putih tebal menyerupai alis—ciri khas paling mencolok.
Mahkota kepalanya gelap, tenggorokan putih bersih, dan dada berbintik hitam halus. Paruhnya kuat dan melengkung, sementara kaki kokoh berwarna abu-abu membantu bergerak lincah di antara ranting pepohonan
Suara Kicauan yang Menarik
Daya tarik utama Wambi adalah kicauannya yang keras, jernih, dan bervariasi. Nadanya naik-turun seperti melodi flute, sering diselingi mimikri suara burung lain.
Burung jantan biasanya berkicau pagi atau sore untuk menarik betina, kadang bertahan hingga 10–15 menit tanpa henti. Di kalangan kicau mania, Wambi populer karena isiannya yang panjang dan ritme stabil, sering dipasangkan dengan burung lain dalam lomba.
Baca Juga: Burung Sribombok: Antara Pembawa Rezeki, Pertanda Maut, dan Simbol Kesuburan
Habitat Alami Burung Wambi
Asalnya dari Tiongkok selatan, Myanmar, dan Vietnam. Wambi menyukai hutan sekunder, semak lebat, serta kebun teh atau bambu.
Mereka hidup di ketinggian 500–2.000 mdpl, di mana pepohonan rindang menyediakan makanan seperti serangga, buah beri, dan biji-bijian. Habitat ini juga tempat aman untuk sarang—biasanya bola anyaman daun di semak rendah.
Perilaku Sosial yang Aktif
Wambi adalah burung sosial yang hidup dalam kelompok kecil 5–10 ekor. Mereka aktif berkicau saling balas, menciptakan "konser" pagi hari.
Selain di pepohonan, mereka turun ke sungai atau genangan untuk mandi dan minum. Interaksi ini memperkuat ikatan kelompok dan pertahanan terhadap predator seperti ular atau elang.
Baca Juga: Delapan Jenis Burung Jalak yang Ada Di Indonesia
Perawatan yang Tidak Mudah
Meski menarik dipelihara, Wambi adalah burung yang sensitif. Stres dari perubahan kandang bisa sebabkan bulu rontok atau suara drop.
Kamu bisa memberi kandang minimal 60x40x40 cm dengan cabang alami, pakan ulat hongkong, voer, dan buah segar. Adaptasi butuh 2–4 minggu; hindari suara bising.
Ancaman terhadap Populasi
Perburuan liar untuk sangkar jadi ancaman utama karena Burung Wambi masuk CITES Appendix II, yakni daftar spesies yang boleh diperdagangkan secara internasional hanya dengan izin khusus agar tidak punah.
Di Tiongkok jutaan diekspor ilegal tiap tahun. Sementara di Indonesia impor dilarang, tapi pasar gelap masih ada.
Baca Juga: Bukan Migrasi Burung Biasa, Inilah Rahasia di Balik Pola Terbang Si Pipit Hitam yang Menakjubkan
Upaya Konservasi yang Dibutuhkan
Pelestarian habitat via reboisasi dan taman nasional krusial. Edukasi masyarakat kurangi perburuan; program breeding di penangkaran seperti di Singapura sukses tingkatkan stok.
Pemerintah dan LSM seperti Burung Indonesia perlu kolaborasi. Jika kesadaran naik, Wambi bisa lestari.
Burung Wambi adalah permata alam dengan suara merdu dan perilaku sosial unik yang kini terancam punah di habitat aslinya. Ancaman perburuan ilegal dan deforestasi menunjukkan urgensi konservasi segera, terutama karena status CITES Appendix II yang masih dilanggar secara masif.
Upaya reboisasi, penegakan hukum perdagangan satwa, dan program breeding penangkaran legal menjadi kunci pelestarian jangka panjang. Himbauan kepada masyarakat Indonesia untuk memilih burung lokal seperti kenari atau lovebird juga bisa mengurangi tekanan impor ilegal.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan individu, suara merdu Wambi bisa terus bergema di hutan Asia Tenggara untuk generasi mendatang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil