JP Radar Kediri – Burung kepodang dikenal sebagai salah satu jenis burung berkicau yang memiliki daya tarik visual tinggi di kalangan pecinta fauna.
Spesies dari keluarga Oriolidae ini menonjol berkat kombinasi warna tubuh yang kontras dan mencolok.
Warna kuning cerah yang mendominasi tubuhnya berpadu dengan hitam pekat pada bagian tertentu, menciptakan tampilan yang elegan. Penampilan ini menjadikan kepodang mudah dikenali sekaligus menjadi buruan kolektor.
Kepodang memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang sekitar 25 sentimeter dari ujung paruh hingga ekor. Bentuk tubuhnya proporsional dengan bulu yang tampak halus dan terawat.
Bagian kepala hingga ekor didominasi warna kuning keemasan yang memberi kesan mewah. Sementara itu, garis hitam pada area mata dan tengkuk mempertegas karakter visualnya.
Baca Juga: Mitos Burung Kedasih: Benarkah Tanda Kematian, Sial, dan Hal Mistis?
Sayap kepodang sebagian besar berwarna hitam, menciptakan kontras yang terlihat jelas saat burung ini terbang. Perpaduan warna tersebut membuatnya tampak mencolok di antara pepohonan.
Perbedaan antara jantan dan betina tidak terlalu terlihat secara kasat mata. Hal ini membuat identifikasi jenis kelamin kepodang cukup sulit tanpa pengamatan lebih detail.
Bagian bawah tubuhnya cenderung berwarna lebih pucat dengan bintik-bintik halus. Iris matanya berwarna merah, memberikan kesan tajam dan hidup.
Paruh kepodang berbentuk runcing dan sedikit melengkung ke bawah dengan warna putih gading. Kakinya berwarna hitam dan cukup kuat untuk bertengger di dahan.
Burung ini dikenal memiliki kebiasaan menjaga kebersihan tubuhnya dengan baik. Bahkan, dalam membangun sarang, kepodang menunjukkan ketelitian dan kerapian yang tinggi.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih! Ini Tips Memilih Anakan Murai Batu
Habitat kepodang tersebar luas di kawasan Asia, mulai dari China, India, Asia Tenggara hingga Filipina. Di Indonesia, burung ini dapat ditemukan di berbagai pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Kepodang umumnya hidup di hutan tropis dan subtropis yang menyediakan sumber makanan melimpah. Mereka juga sering ditemukan di hutan mangrove, hutan pantai, dan kawasan terbuka.
Makanan utama kepodang terdiri dari serangga, buah-buahan, serta nektar. Pola makannya ini mendukung keseimbangan ekosistem di habitat alaminya.
Gaya terbang kepodang tergolong unik dengan pola bergelombang naik turun. Kepakan sayapnya terlihat kuat namun tetap memberikan kesan anggun.
Suara kicauannya nyaring dan merdu, sering terdengar pada pagi hari. Bunyi tersebut kerap disamakan dengan siulan atau alunan seruling yang menenangkan.
Selain itu, kepodang juga dikenal mampu menirukan suara burung lain. Kemampuan ini menjadi nilai tambah yang membuatnya semakin diminati.
Baca Juga: Bukan Migrasi Burung Biasa, Inilah Rahasia di Balik Pola Terbang Si Pipit Hitam yang Menakjubkan
Dalam budaya Jawa, kepodang memiliki makna simbolis yang cukup kuat. Burung ini kerap dikaitkan dengan nilai keselarasan, keharmonisan, dan budi pekerti.
Kepodang juga dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kejayaan. Tak jarang, bentuknya diadaptasi dalam motif batik maupun hiasan rumah.
Terdapat pula kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bahwa mengonsumsi daging kepodang dapat membawa pengaruh tertentu bagi ibu hamil. Meski demikian, hal tersebut lebih bersifat mitos dan tidak memiliki dasar ilmiah.
Popularitas kepodang sebagai burung peliharaan berdampak pada meningkatnya perburuan liar. Aktivitas ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan populasinya di alam.
Perdagangan ilegal turut memperparah kondisi tersebut. Jika tidak dikendalikan, kepodang berisiko mengalami penurunan populasi yang signifikan.
Di sisi lain, kepodang emas telah ditetapkan sebagai maskot Provinsi Jawa Tengah. Penetapan ini menjadi simbol kebanggaan sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian satwa.
Upaya konservasi perlu dilakukan untuk melindungi spesies ini dari ancaman kepunahan. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Kesimpulannya, kepodang bukan hanya memiliki keindahan fisik, tetapi juga nilai ekologis dan budaya yang tinggi.
Oleh karena itu, pelestarian burung ini menjadi tanggung jawab bersama agar tetap lestari di alam.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil