JP Radar Kediri - Coba lirik rak bukumu sekarang. Berapa banyak buku yang sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun duduk manis di sana tanpa pernah dibuka?
Dan yang lebih menarik, apakah kamu masih tetap membeli buku baru meskipun tumpukan yang lama belum juga berkurang?
Kalau jawabannya iya, kamu mungkin sedang mengalami fenomena yang dalam bahasa Jepang dikenal sebagai tsundoku.
Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini
Apa Itu Tsundoku?
Tsundoku (積ん読) adalah istilah dari bahasa Jepang yang menggambarkan kebiasaan membeli buku dalam jumlah banyak namun membiarkannya menumpuk tanpa dibaca.
Kata ini merupakan gabungan dari tsunde (menumpuk), oku (membiarkan sesuatu), dan doku (membaca).
Secara harfiah, tsundoku bisa diartikan sebagai kondisi ketika seseorang terus mengumpulkan buku tetapi tidak kunjung membacanya.
Fenomena ini sebenarnya sudah lama dikenal di Jepang sejak akhir abad ke-19, namun belakangan semakin ramai diperbincangkan secara global, mungkin karena banyak orang merasa sangat tertampar saat mendengar definisinya untuk pertama kali.
Kenapa Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan mengapa seseorang jatuh ke dalam pola tsundoku tanpa menyadarinya.
1. Membeli buku terasa seperti berinvestasi
Banyak orang yang melakukan tsundoku memandang buku yang belum dibaca bukan sebagai pemborosan, melainkan sebagai simpanan pengetahuan yang bisa diakses kapanpun dibutuhkan.
Setiap buku yang dibeli terasa seperti potensi yang siap dicairkan, entah kapan itu akan terjadi.
2. Niat tinggi, waktu terbatas
Pelaku tsundoku biasanya bukan orang yang tidak suka membaca. Justru sebaliknya, mereka sangat mencintai buku dan selalu berniat untuk membacanya.
Masalahnya, waktu luang yang ada tidak pernah cukup untuk mengimbangi semangat membeli.
3. Godaan judul baru dan diskon yang sulit ditolak
Begitu ada buku baru yang menarik, atau pameran buku yang menawarkan harga miring, dorongan untuk membeli seringkali jauh lebih kuat daripada pertimbangan rasional soal apakah buku itu benar-benar akan dibaca dalam waktu dekat.
4. Minat yang terlalu luas
Orang dengan rasa ingin tahu yang besar cenderung tertarik pada banyak topik sekaligus, mulai dari fiksi, sejarah, sains, psikologi, filsafat, dan seterusnya.
Daftar buku yang ingin dibaca pun terus bertambah lebih cepat dari kemampuan membacanya.
5. Buku sebagai bagian dari identitas
Bagi sebagian orang, koleksi buku bukan sekadar bacaan. Ia adalah cerminan diri. Memiliki banyak buku mencerminkan ketertarikan pada ilmu dan intelektualitas, baik yang sudah dibaca maupun yang belum.
6. Tumpukan buku terasa menenangkan
Ini mungkin yang paling unik, melihat tumpukan buku yang belum terbaca justru memberikan rasa nyaman tersendiri.
Seperti memiliki cadangan hiburan dan pengetahuan yang tak akan habis, sebuah koleksi kemungkinan yang menunggu untuk dijelajahi.
Baca Juga: Rayakan Hari Buku di CFD, Mbak Wali Gaungkan Literasi Anak Mencegah Brain Rot
Apakah Tsundoku Itu Masalah?
Tsundoku berbeda dari bibliomania, yaitu kondisi obsesif mengumpulkan buku secara kompulsif tanpa tujuan yang jelas.
Tsundoku lebih kepada kebiasaan yang tumbuh dari kecintaan pada buku dan niat membaca yang tulus, hanya saja tidak diimbangi dengan waktu dan kedisiplinan yang cukup.
Dalam dosis yang wajar, tsundoku tidak terlalu bermasalah. Tumpukan buku yang belum dibaca bisa menjadi motivasi sekaligus pengingat bahwa selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari.
Bahkan, beberapa peneliti berpendapat bahwa dikelilingi buku, meski belum semuanya dibaca, bisa mendorong rasa ingin tahu dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.
Namun, tsundoku mulai perlu diwaspadai ketika pembelian buku sudah mulai mengganggu keuangan, atau ketika buku-buku tersebut dibeli secara impulsif tanpa mempertimbangkan apakah benar-benar akan dibaca.
Baca Juga: Hari Buku Sedunia, Inilah Sejarah Perayaan dari Literasi global ini
Cara Bijak Menghadapi Tsundoku
Jika kamu merasa tsundoku sudah mulai di luar kendali, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.
-
Buat daftar buku yang ingin dibeli sebelum pergi ke toko buku atau membuka marketplace.
-
Terapkan aturan satu masuk satu keluar, beli buku baru hanya setelah menyelesaikan satu buku dari tumpukan yang ada.
-
Sisihkan waktu membaca yang konsisten, meski hanya 20–30 menit sehari.
-
Pilih buku berikutnya dengan lebih selektif, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini buku yang benar-benar ingin aku baca sekarang, atau hanya yang terlihat menarik di sampulnya?
Baca Juga: Hari Buku Nasional: Menelusuri Bisnis Buku yang Kian Tergerus Digitalisasi
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil