Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Terjebak Tren: Bagaimana Media Sosial "Memaksa" Kita Beli Skincare yang Belum Tentu Cocok

Internship Radar Kediri • Sabtu, 7 Februari 2026 | 02:00 WIB

Pembelian skincare
Pembelian skincare

JP Radar Kediri - Belakangan ini, meja rias kita mungkin terlihat lebih penuh dari biasanya. Ada serum dengan bahan aktif yang namanya sulit dieja, hingga perangkat pembersih wajah elektrik yang harganya setara dengan belanja bulanan. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Tren skincare yang meledak di media sosial kini bukan sekadar berbagi tips kecantikan, melainkan sudah menjadi mesin utama yang menggerakkan perspektif pembelian konsumen.

Baca Juga: Kulit Glowing Tanpa Skincare Mahal? Ini 5 Tips Merawat Wajah Secara Alami!

Dari "Fungsi" Bergeser ke "Gengsi"

Dulu, orang membeli pembersih wajah karena sabun di kamar mandi sudah habis. Sekarang? Pembelian biasanya dipicu oleh video unboxing estetik atau ulasan "racun" dari influencer di TikTok dan Instagram.

Pergeseran ini menciptakan standar baru. Perawatan kulit bukan lagi soal kesehatan kulit semata, tapi juga gaya hidup . Memiliki botol serum dari merek yang sedang viral memberikan kepuasan psikologis tersendiri. Akibatnya, konsumen cenderung melakukan pembelian impulsif (pembelian impulsif) demi merasa relevan dengan tren yang ada.

Industri yang Memanfaatkan "Ketidakamanan" Diri

Pernah nggak kamu merasa kulitmu tiba-tiba terlihat "kurang" setelah melihat video transisi glow up di TikTok? Nah, itulah yang disebut sebagai kecemasan standar kecantikan . Brand skincare sekarang sangat pintar mengemas iklan mereka. Mereka tidak lagi menjual produk, tapi menjual solusi atas rasa tidak percaya diri.

Dulu, pori-pori besar dianggap normal. Sekarang, karena filter media sosial dan tren poreless skin , banyak dari kamu yang merasa pori-pori adalah "penyakit" yang harus disembuhkan dengan puluhan jenis masker dan primer. Inilah yang mengubah perspektif belanja kita: dari membeli karena butuh, menjadi membeli karena merasa ada yang harus diperbaiki secara terus-menerus.

Apa Kata Mereka yang "Paham" Kulit?

Bukan hanya kamu yang merasakan tekanan tren ini, para beauty influencer dan edukator yang sudah lama di industri ini pun sering mengingatkan pengikutnya untuk nggak asal telan semua tren bulat-bulat.

Kamila Jaidi, MARS , seorang dokter estetika yang juga aktif di TikTok, sering mengingatkan bahwa penggunaan terlalu banyak produk ( over-skincare ) justru bisa jadi bumerang.

"Kulit itu butuh nafas. Kadang kita sibuk beli serum ini-itu karena viral, padahal yang kulit kita butuh cuma sabun cuci muka, pelembab, dan tabir surya. Jangan korbankan skin barier demi rasa penasaran." -> — dokter. Kamila Jaidi (Sumber: Edukasi TikTok @dr.kamilajaidi)

Lalu, Gimana Cara Biar Nggak Jadi "Korban" Tren?

Supaya kamu tetap punya kontrol penuh atas keputusan belanjamu, coba terapkan beberapa poin ini:

Pahami "Skin Minimalist

Belakangan mulai muncul gerakan skin minimalism . Intinya, kamu cuma butuh tiga langkah dasar: Cleanse (membersihkan), Moisturize (melembabkan), dan Protect (lindungi dengan sunscreen). Kalau tiga ini sudah beres, baru deh tambah serum sesuai masalah kulitmu

Baca Ulasan yang Jujur (Bukan Cuma Iklan)

Cari tahu ulasan dari orang yang punya jenis kulit mirip sama kamu. Jangan cuma tergiur karena yang mempromosikan adalah artis idola yang memang pada dasarnya sudah punya kulit porselen .

Kasih Waktu Membuat Produk Bekerja

Skincare itu bukan sulap. Kulitmu membutuhkan waktu sekitar 28 hari untuk beregenerasi. Jadi, jangan buru-buru ganti produk hanya karena dalam seminggu belum kelihatan hasilnya.

Pada akhirnya, skincare itu soal kesehatan, bukan perlombaan . Tren akan terus berlangsung setiap hari, tapi kulitmu hanya satu. Jangan sampai niat ingin glowing malah jadi boros dan membuat kulit stres karena terlalu banyak produk yang dicoba.

Sebelum kamu menekan tombol beli untuk barang viral berikutnya, coba tanyakan lagi pada diri sendiri, " Kulitku benar-benar butuh, atau cuma mataku yang laper ?" Jadilah konsumen yang bijak; karena skincare terbaik adalah yang paling cocok untuk kulitmu, bukan yang paling ramai di media sosial.

Penulis adalah Anindya Uswatun Kasanah, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#Skincare sederhana #skincare wajah #skincare #Skincare Indonesia #Tren Skincare 2026 #Skincare Hemat