JP RADAR KEDIRI- Februari telah tiba, rak-rak minimarket mulai berubah jadi serba merah muda. Cokelat mendadak jadi barang paling dicari. Tapi pernah nggak kamu bertanya-tanya, kenapa sih harus cokelat? Kenapa bukan martabak manis aja?
Banyak yang mengira tradisi ini sudah ada sejak zaman romawi kuno, padahal dominasi cokelat di Hari Valentine adalah hasil dari strategi marketing jenius di abad ke-19.
Baca Juga: Budaya Valentine di Jepang, Konsep Giri dan Giri Choco
Dari Minuman Bangsawan Jadi Simbol Cinta
Jauh sebelum cokelat dikemas cantik, Suku Maya dan Aztec di Amerika Latin sudah menganggap kakao sebagai barang mewah. Bagi mereka, biji kakao adalah "emas" yang bisa dipakai sebagai mata uang.
Kaisar Aztec, Montezuma II, konon meminum cokelat dalam jumlah besar untuk meningkatkan stamina. Dalam catatan sejarah kuliner The Oxford Companion to Food, cokelat di masa itu dipercaya sebagai aphrodisiac atau ramuan romansa yang manjur. Inilah bibit awal yang menanamkan persepsi bahwa cokelat berkaitan erat dengan romansa dan daya tarik.
Ide Jenius Richard Cadbury
Titik balik sejarah terjadi sekitar tahun 1861, di era Victoria Inggris. Saat itu, Richard Cadbury, pendiri pabrik cokelat raksasa Cadbury, baru saja menemukan teknik baru untuk mengekstrak mentega kakao untuk membuat minuman cokelat, tapi sisa ekstraknya sayang jika dibuang.
Akhirnya, ia mengolah sisa tersebut menjadi cokelat yang bisa dimakan. Tapi, bagaimana cara menjualnya agar laku keras?
Di sinilah ide marketing jenius itu muncul. Cadbury menciptakan "Fancy Box", yaitu kotak cokelat berbentuk hati yang dihiasi gambar Cupids dan bunga mawar. Cadbury memasarkannya sebagai "kotak serbaguna". Setelah cokelatnya habis dimakan, kotaknya masih bisa dipakai untuk menyimpan surat cinta.
Strategi ini meledak. Cokelat mendadak bukan sekadar makanan, tapi souvenir kenangan.
Baca Juga: Loterie d’Amour, Perayaan Valentine Era Lama dari Perancis
Sains di Balik Cokelat sebagai “Love Drug”
Strategi marketing Cadbury makin kuat karena didukung oleh sains. Secara kimiawi, cokelat mengandung triptofan dan phenylethylamine.
Zat-zat ini merangsang otak memproduksi serotonin (hormon bahagia) dan dopamin. Efek yang dirasakan tubuh saat makan cokelat mirip dengan sensasi saat seseorang sedang jatuh cinta. Jadi, memberikan cokelat secara harfiah adalah memberikan rasa bahagia kepada pasangan.
Dominasi cokelat di hari Valentine adalah perpaduan sempurna antara sejarah kuno sebagai ramuan romansa, reaksi kimia otak yang memikat, dan sebuah ide packaging cerdas dari Richard Cadbury 160 tahun yang lalu.
Penulis adalah Dita Citra Oktaviana, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian