JP RADAR KEDIRI- Stres sering datang kepada kita tanpa kita bisa atur dan menjadi penghambat atau tekanan. Seringkali, tanpa sadar kita mencari pelarian cepat melalui makanan ringan yang mudah dijangkau.
Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating. Emotional Eating adalah kondisi saat kita makan karena dorongan emosi, bukan lapar fisik. Kecenderungan makan saat stres bukan sekadar kebiasaan tanpa sebab. Ada proses biologis dan psikologis yang membuat tubuh mencari rasa nyaman lewat makanan.
Baca Juga: Banyak Remaja Indonesia Rentan Alami Mental Health, Begini Solusinya Menurut Islam
Dalam kondisi tegang, makanan manis atau gurih terasa seperti penenang instan yang mudah dijangkau. Dilansir dari artikel The Role of Emotion in Eating Behavior and Decisions di jurnal Frontiers in Psychology (2023), sebagian orang justru makan lebih banyak ketika stres atau sedih, terutama makanan yang memberikan kenikmatan cepat seperti makanan manis dan berlemak.
Berikut beberapa penyebab utama yang membuat kita sulit menolak godaan camilan di saat tekanan datang:
- Hormon Kortisol Meningkat
Ketika stres, tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Hormon ini menstimulasi nafsu makan dan membuat kita lebih tertarik pada makanan berkalori tinggi seperti cokelat, keripik, dan gorengan. - Makanan sebagai Sumber Kenyamanan
Makanan manis atau gurih merangsang otak melepaskan dopamin dan serotonin, dua hormon yang memicu rasa senang dan tenang. Itulah sebabnya, setelah sepotong cokelat kita makan, perasaan seolah membaik meski masalah belum selesai. - Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Lama
Banyak orang sejak kecil diajarkan bahwa makanan bisa menghibur, misalnya saat kecil kita diberi permen ketika menangis. Pola itu terbawa hingga dewasa dan menjadi refleks ketika stres datang. - Kontrol Diri Melemah Saat Emosi Tinggi
Saat pikiran tertekan, kemampuan otak bagian depan yang bertugas menahan impuls itu menurun. Akibatnya, keinginan untuk makan muncul tanpa pertimbangan, bahkan ketika perut sebenarnya belum lapar. - Kesadaran Emosional yang Rendah
Banyak orang tidak menyadari perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional. Perasaan cemas, bosan, atau sedih sering disalahartikan sebagai sinyal tubuh yang butuh makanan.
Meski begitu, ngemil saat stres tidak selalu harus dianggap buruk. Masalahnya bukan pada camilannya, tetapi pada cara kita menyikapinya.
Mengenali emosi adalah langkah pertama untuk mengendalikan dorongan makan berlebih. Ketika stres datang, cobalah menenangkan diri dengan berjalan sejenak, mendengarkan musik, atau sekadar menarik napas dalam.
Baca Juga: Banyak Remaja Indonesia Rentan Alami Mental Health, Begini Solusinya Menurut Islam
Jika ingin tetap makan atau ngemil, pilihlah makanan yang lebih menyehatkan seperti buah, kacang, atau yogurt. Dengan begitu, tubuh tetap mendapat energi tanpa menimbun rasa bersalah setelahnya.
Stres akan datang kapan saja, tetapi kendali tetap ada di tangan kita. Kadang, bukan makanan yang menenangkan hati, melainkan cara kita berdamai dengan diri sendiri
Artikel ini ditulis oleh Aurora Putri Salsabillah Susanto, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian