JP Radar Kediri - Banyak coffee shop kekinian yang saat ini berlomba-lomba menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan sampah plastic. Larangan penggunaan sedotan plastik menjadi salah satu Langkah yang paling populer. Namun, yang menjadikan ironis adalah penyajian minumannya yang tetap datang dalam cup beserta tutup plastik. Jadi, apakah benar ini bentuk kepedulian lingkungan? Atau sekedar strategi pemasaran hijau?
Kampanye Ramah Lingkungan yang Setengah Hati
Kebijakan yang sering ditemui adalah pelarangan atau peniadaan sedotan plastik. Mungkin wajar untuk minuman hangat atau panas, namun ini diberlakukan pada minuman dingin. Minuman tersebut disajikan tanpa sedotan atau mengganti dengan sedotan kertas atau stainless sebagai alternatif. Sayangnya, minuman itu tetap disajikan dalam cup plastik bening lengkap dengan tutupnya.
“Saya sempat salut waktu mereka bilang tidak menggunakan pakai plastic, tapi waktu terima pesanan dan sadar ternyata wadahnya pakai cup plastic. Saya jadi bingung dong, apa bedanya?” ujar Afi (20), mahasiswa yang sering membli kopi di kawasan Surabaya pusat.
Fenomena ini memunculkan berbagai reaksi dari beberapa kalangan. Sebagian menilai Upaya tersebut cukup dan sebagian lagi tidak.
Gen Z Berbicara, Apa Kata Mereka?
Minum kopi itu sudah menjadi sebagian dari hidup para gen z. Makanya tak heran jika pengunjung coffee shop didominasi oleh gen z. Sebagian dari mereka menilai bahwa pelarangan penggunaan sedotan terasa seperti satu Langkah maju peduli terhadap lingkungan.
“Menurutku, langkah itu adalah upaya baik. Setidaknya bisa bantu sedikit mengurangi sampah plastik, meskipun wadahnya sendiri masih pakai plastik. Soalnya ya cup plastik emang paling proper sih,” ujar Annisa (21), mahasiswa sosiologi yang sering nongkrong di coffee shop Surabaya.
“Kalau pun ada bahas yang lebih ramah lingkungan pasti dipakai. Contohnya dulu brand minuman boba tea yang terkenal juga sempet pakai cup kertas tapi tetap balik ke plastik sekarang,” tambah Hafsah (20), rekan Annisa.
Namun sebagian lagi, merasa tindakan ini lebih kepada pencitraan brand daripada komitmen jangka Panjang,
“Seolah melek isu lingkungan, tapi sebenernya sama aja. Tapi gimana ya? Apa harusnya bawa tumbler sendiri dari rumah,” kata Azarine, (20, mahasiswa penjelajah coffee shop.
“Sedotan plastik dihilangin gapapa juga sih. Tapi minumnya bikin repot konsumen, kalo diganti sedotan yang ngga plastik malah bagus,” tambahnya.
Simbiosis yang Efektif Atau Tidak?
Dilansir dari Nationalgeographic.co.id, dijelaskan bahwa setiap tahunnya, ditemukan sebanyak 1,29 juta metrik ton plastik Indonesia yang berakhir di laut.
Sementara itu, berdasarkan laporan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023 mencatat bahwa setidaknya 60% sampah plastik di Indonesia berasal dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai.
Hal ini menunjukkan memang perlu langkah yang tepat untuk mengurangi smpah plastik. Dan mengurangi penggunaan sedotan plastik bisa menjadi Langkah yang baik pula. Namun tetap ironis jika pelarangan sedotan plastik digalakkan, sedangkan di balik itu penggunaan cup plastik beserta tutupnya masih diprimadonakan.
Penulis: Karunia Syifa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis