JP Radar Kediri Bebeda dengan lapak tembakau tingwe lainnya, Jamsbacco justru menunjukkan sebaliknya. Salah satu grosir tembakau di Kediri ini omsetnya stabil. Bahkan pada momen tertentu mengalami kenaikan. Seperti saat lebaran yang lalu.
Salah satu pegawai toko tembakau Jamsbacco di daerah Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Ngasem Kediri, Nova, menyebut bahwa omset memang dari dulu naik turun, tapi cenderung stabil di kisaran 2 juta per hari, jika sedang naik bisa sekitar 5 juta sehari.
“Penjualannya memang naik turun, tapi sejauh ini stabil. Paling ramai saat Lebaran, bisa dua kali lipat dari hari biasa,” ujarnya.
Tembakau racikan memiliki variasi harga tergantung dari jenis dan kualitasnya, mulai dari belasan ribu hingga puluhan ribu per ons. Selain itu, pengguna dapat memilih sendiri campuran tembakau, rasa, hingga aroma yang diinginkan.
Tembakau yang dijual untuk kebutuhan tingwe biasanya berasal dari daerah-daerah penghasil seperti Malang, Semarang, hingga Tulungagung. Banyak dari tembakau tersebut ditawarkan dalam bentuk murni (tanpa campuran) yang kemudian diracik sendiri oleh pemilik toko dengan ditambah rasa-rasa tertentu.
Dari keterangan Nova, penjualan tingwe tidak hanya dilakukan secara langsung di toko fisik, tapi juga melalui media sosial dan reseller di berbagai kota, termasuk di luar Pulau Jawa.
Bagi sebagian anak muda, tingwe bukan sekadar alternatif murah, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup. Ryan (24), seorang konsumen asal Kecamatan Ngasem, mengaku lebih menyukai tingwe karena pilihan rasanya yang beragam dan kemudahan dalam menyesuaikan isi kantong.
“Saya nggak yang ngerokok banget, tapi rokok racikan seperti ini lebih menarik, soalnya bisa macam-macam rasa dibandingkan rokok pabrikan, " ungkapnya.
Meski aktivitas melinting rokok sendiri membutuhkan waktu dan keterampilan, peminatnya tidak surut. Bahkan sebagian orang merasa lebih puas karena bisa mengatur sendiri kekuatan rasa dan kadar tembakau dalam rokok yang mereka konsumsi.
Kenaikan minat terhadap Tingwe menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi di kalangan perokok, yang kini mulai mencari alternatif lebih murah dan bisa disesuaikan dengan preferensi pribadi, dibanding rokok pabrikan yang harganya terus naik dan dianggap kurang variatif.
Editor : Jauhar Yohanis