Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Daging Kurban Mau Dibikin Steak? Tahan Dulu, Ini Bahayanya!

Internship Radar Kediri • Minggu, 8 Juni 2025 | 05:30 WIB
Ilustrasi steak daging
Ilustrasi steak daging

JP Radar Kediri – Momen Idul Adha selalu identik dengan melimpahnya daging kurban, baik dari sapi maupun kambing. Banyak warga memanfaatkannya untuk membuat berbagai sajian khas Nusantara seperti sate, gulai, tongseng, hingga rendang.

Namun, di tengah tren masakan modern, mulai muncul kebiasaan baru dari sebagian masyarakat yang mencoba mengolah daging kurban menjadi steak ala restoran Barat.

Meski terdengar menarik, nyatanya cara ini kurang direkomendasikan karena berkaitan dengan karakteristik daging kurban itu sendiri.

Salah satu penyebab utama mengapa daging kurban tidak cocok dijadikan steak adalah karena daging tersebut biasanya langsung diolah tak lama setelah proses penyembelihan selesai.

Dalam dunia kuliner, terutama pada pengolahan steak, daging idealnya harus melalui proses pelayuan atau aging terlebih dahulu, yang berlangsung selama beberapa hari dalam suhu tertentu.

Proses ini bertujuan untuk memecah enzim alami yang ada dalam daging agar teksturnya menjadi lebih empuk, mudah dikunyah, dan tidak alot ketika dimasak.

Sementara itu, daging kurban yang belum mengalami proses pelayuan cenderung memiliki serat otot yang masih kaku dan keras, sehingga ketika langsung dipanggang atau dibakar dalam potongan tebal seperti steak, hasilnya bisa jadi tidak sesuai harapan.

Selain kurang empuk, rasa yang muncul pun bisa jadi kurang maksimal karena bumbu atau marinasi tidak meresap sempurna dalam waktu singkat, terlebih jika teknik memasaknya tidak tepat.

Tak hanya soal pelayuan, pemilihan jenis potongan daging juga memegang peranan penting dalam kesuksesan sebuah steak. Dalam penyembelihan hewan kurban, pembagian daging biasanya dilakukan secara merata untuk memudahkan distribusi dan pemerataan kepada penerima.

Hal ini membuat potongan yang diperoleh acak dan tidak spesifik, berbeda dengan steak yang biasanya menggunakan bagian tertentu seperti tenderloin, sirloin, atau ribeye yang dikenal lebih lembut dan mudah diolah dengan metode memanggang singkat.

Alih-alih mencoba steak yang berisiko alot dan kurang nikmat, masyarakat sebenarnya lebih disarankan untuk mengolah daging kurban menjadi hidangan-hidangan khas yang sudah terbukti cocok untuk karakter daging segar pasca-sembelih.

Masakan seperti rawon, semur, dan rendang memiliki teknik memasak yang lambat dan bersuhu rendah, sehingga serat otot dalam daging bisa melunak secara alami seiring waktu, tanpa kehilangan kelezatan yang menjadi ciri khasnya.

Dengan kata lain, memahami karakter dan kebutuhan pengolahan daging kurban sangat penting agar hasil masakan tetap optimal dan tidak mengecewakan.

Karena, meskipun terlihat modern dan kekinian, steak bukanlah pilihan terbaik untuk mengolah daging yang baru dipotong. Lebih baik kembali pada resep-resep warisan Nusantara yang sudah terbukti ampuh menghadirkan rasa lezat dari bahan sederhana.

Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #idul adha #Olahan #steak #daging kurban