JP Radar Kediri - Batik dipercaya telah ada sejak zaman kuno, meskipun tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali muncul. Teknik membatik ditemukan dalam berbagai peradaban di dunia, termasuk Mesir, Tiongkok, dan India. Namun, batik berkembang dengan karakteristik unik di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Sejarah batik di Nusantara bisa dilacak hingga zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit. Dalam relief candi yang berasal dari periode tersebut, ditemukan motif-motif yang menyerupai pola batik. Hal ini menunjukkan bahwa teknik menghias kain dengan pola tertentu sudah dikenal sejak berabad-abad lalu.
Pada masa Kerajaan Mataram Islam (abad ke-17), batik mulai berkembang pesat sebagai bagian dari budaya keraton. Raja dan keluarga bangsawan mengenakan kain batik dengan motif tertentu yang melambangkan status dan kekuasaan. Motif batik yang digunakan oleh kalangan keraton memiliki makna filosofis yang mendalam, seperti motif Parang yang melambangkan keteguhan dan kepemimpinan.
Para abdi dalem istana menjadi pengrajin batik yang terampil. Teknik membatik diturunkan dari generasi ke generasi, dan keterampilan ini kemudian menyebar ke masyarakat luas. Seiring berjalannya waktu, batik tidak hanya menjadi busana kalangan bangsawan tetapi juga dipakai oleh rakyat biasa.
Seiring dengan perkembangan perdagangan dan kontak budaya dengan bangsa asing, batik mengalami perubahan dalam teknik dan motifnya. Pengaruh dari Tiongkok, Belanda, dan India mulai terlihat dalam pola batik, baik dari segi warna maupun desain.
Ketika bangsa Belanda mulai menguasai Indonesia pada abad ke-19, batik mengalami modernisasi. Para pengusaha batik keturunan Eropa memperkenalkan teknik cap, yang membuat produksi lebih cepat dan lebih ekonomis dibandingkan metode tradisional dengan canting. Dari sinilah muncul batik cap sebagai variasi baru dalam dunia batik.
Pada abad ke-20, batik semakin mendapat perhatian sebagai simbol budaya nasional. Presiden Soekarno berperan dalam mempopulerkan batik sebagai pakaian resmi dalam berbagai acara kenegaraan. Sejak saat itu, batik tidak hanya dikenakan dalam upacara adat, tetapi juga sebagai pakaian sehari-hari bagi masyarakat Indonesia.
Puncak pengakuan batik sebagai warisan dunia terjadi pada tahun 2009 ketika UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi batik sebagai bagian dari identitas Indonesia di mata dunia.
Penulis: Laila Karima
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira