Kediri, JP Radar Kediri - Buka Instagram, lalu scroll sebentar. Feed penuh dengan warna-warna pastel, foto flat lay yang tertata rapi, atau outfit dengan tone senada. Bahkan foto secangkir kopi pun bisa terlihat seperti karya seni. Pertanyaannya: kenapa semua orang sekarang seolah-olah wajib tampil “aesthetic”?
Fenomena ini bukan cuma soal gaya. Ada cerita panjang di baliknya tentang algoritma, ekspektasi sosial, dan pencarian identitas di dunia maya.
Awalnya Ekspresi, Lama-lama Standar
Budaya “aesthetic” bukan hal baru. Ia tumbuh sejak era Tumblr dan Pinterest, di mana visual punya peran utama. Aesthetic dulu adalah cara seseorang mengekspresikan selera dan kepribadian: apakah mereka suka nuansa vintage, minimalis, atau warna earth tone.
Tapi ketika Instagram menjadikan visual sebagai nilai jual utama, aesthetic berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar ekspresi, tapi jadi standar yang tidak tertulis untuk dilihat dan diterima secara sosial.
Algoritma Menyukai yang Seragam dan Cantik
Konten yang rapi dan indah cenderung mendapat lebih banyak like, share, dan impresi. Kenapa? Karena algoritma media sosial merespons baik pada konten yang secara visual menarik. Foto dengan komposisi yang bagus, tone warna yang konsisten, dan estetika yang jelas biasanya lebih mudah viral. Hasilnya? Orang cenderung membuat konten “yang disukai algoritma”, bukan yang mereka suka secara personal.
Tekanan Sosial: Kalau Feed-ku Biasa Aja, Aku Kurang Menarik?
Budaya membandingkan diri sangat kuat di media sosial. Saat kita melihat orang lain dengan feed yang sempurna, outfit stylish, atau rumah minimalis penuh tanaman, secara tidak sadar kita merasa “kurang”. Akhirnya, muncul dorongan untuk mengatur semua aspek hidup agar tampak aesthetic bukan hanya demi estetika, tapi demi validasi.
Padahal, realita hidup jarang sekali seindah itu. Tapi sayangnya, kita terbiasa hanya membagikan versi terbaik dari diri kita yang sudah difilter, dipoles, dan dikurasi.
Identitas Digital = Identitas Diri?
Akun Instagram sering kali menjadi “kartu nama visual” di era sekarang. Banyak orang merasa identitas digital mereka adalah perpanjangan dari siapa mereka sebenarnya. Maka, wajar jika effort besar dikeluarkan untuk menjaga feed tetap “estetik”, karena itulah yang dilihat dunia.
Tapi perlu diingat: yang kita lihat di Instagram hanyalah cuplikan. Aesthetic bisa jadi menyenangkan untuk dilihat, namun jangan sampai jadi beban yang bikin kita lupa menikmati hidup sebenarnya
Penulis : Annin Firnanda Mustofa Putri
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira