JP Radar Kediri – Matcha, bubuk teh hijau khas Jepang yang kini digandrungi di seluruh dunia, memiliki sejarah panjang yang bermula lebih dari seribu tahun lalu. Minuman yang identik dengan warna hijau cerah dan rasa umami ini bukan sekadar tren, tetapi bagian dari tradisi budaya yang kaya dan penuh makna.
Asal-Usul Matcha di Tiongkok
Sejarah matcha berawal dari Tiongkok pada abad ke-8, saat Dinasti Tang berkuasa. Saat itu, daun teh dikukus dan dikeringkan dalam bentuk padat, lalu dihancurkan menjadi bubuk untuk diseduh dengan air panas. Proses ini menjadi dasar awal dari pembuatan matcha.
Namun, gaya minum teh bubuk ini mulai meredup di Tiongkok setelah Dinasti Song. Berbeda dengan Jepang, yang justru mengadopsi dan mengembangkan tradisi ini menjadi bagian penting dari budaya mereka.
Perkembangan Matcha di Jepang
Matcha diperkenalkan ke Jepang pada abad ke-12 oleh seorang biksu Zen bernama Eisai. Ia membawa benih tanaman teh dan metode pengolahan teh bubuk dari Tiongkok, serta menulis buku berjudul Kissa Yōjōki (“Kitab Teh untuk Kesehatan”), yang menekankan manfaat kesehatan dari teh hijau.
Baca Juga: Matcha, Minuman Favorit Gen Z yang Makin Populer dan Enak Sekali
Seiring waktu, matcha menjadi bagian penting dari praktik meditasi para biksu Zen. Minuman ini membantu mereka tetap fokus dan terjaga selama berjam-jam meditasi. Matcha pun lambat laun berkembang menjadi bagian dari budaya istana dan samurai, menjadi simbol kehormatan, ketenangan, dan ketelitian.
Pada abad ke-15, Sen no Rikyū, tokoh penting dalam budaya teh Jepang menyempurnakan chanoyu (upacara minum teh) yang menekankan prinsip-prinsip kesederhanaan, keharmonisan, dan keheningan. Matcha menjadi elemen sentral dalam ritual ini.
Matcha di Era Modern
Masuk ke abad ke-21, matcha mulai dikenal luas di luar Jepang. Popularitasnya melonjak berkat manfaat kesehatannya yang meliputi kandungan antioksidan tinggi, kafein yang stabil, serta efek relaksasi dari L-theanine.
Kini, matcha tak hanya dinikmati dalam upacara teh, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk: latte, es krim, kue, dan bahkan masker wajah. Negara-negara di seluruh dunia mulai mengapresiasi kualitas dan cita rasa khas dari matcha, sekaligus menghargai warisan budaya yang menyertainya.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Minuman Herbal Kian Percaya Diri Garap Pasar Luar Negeri
Dari biara Zen hingga kafe modern, matcha telah menempuh perjalanan panjang sebagai simbol ketenangan dan kesehatan. Di balik secangkir matcha yang kini banyak kita nikmati, tersimpan warisan budaya yang mendalam dan berharga. Menyeduh matcha bukan sekadar membuat minuman, tetapi juga menyentuh sejarah, filosofi, dan keharmonisan hidup. (jsea)
Penulis : Aurellsya Jessica Putri Editya
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira