JP Radar Kediri- Wayang kulit adalah seni tradisional Jawa yang sudah sangat terkenal dan berusia sangat tua. Kesenian ini mulai populer sejak masa dakwah agama Islam oleh para walisongo. Pada masa itu wayang kulit digunakan sebagai media dakwah yang sangat relevan. Karena kepopulerannya ada anggapan bahwa wayang merupakan hasil ciptaan para walisongo. Namun jika dilihat lebih mendalam sebenarnya wayang kulit sudah ada jauh sebelum kedatangan para wali di Jawa. Hal ini terbukti dengan cerita-cerita dalam wayang kulit yang banyak mengadaptasi kisah dari kitab Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India.
Di tanah Jawa terdapat berbagai jenis kesenian wayang salah satunya adalah wayang gaya Jawa Timuran yang berkembang pesat di daerah pesisir pantai utara. Wayang Jekdong adalah sebutan yang populer untuk pertunjukan wayang kulit gaya Jawa Timuran. Wayang ini berkembang di daerah seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, Gresik, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Lamongan, dan Bojonegoro. Dalam tradisi pertunjukan wayang kulit Jawa Timuran atau Wayang Jekdong terdapat berbagai sub-gaya yang masih dikenal dan dilestarikan oleh masyarakat, seperti sub-gaya Mojokertoan, Surabayan, Gresikan, Triwulanan, dan Malangan.
Baca Juga: Mengenal Tari Kethek Ogleng dan Jaranan Jowo, Seni Tari Tradisional yang Wajib Kamu Ketahui!
Pembentukan sub-gaya ini terjadi secara historis ketika di daerah tersebut ada dalang yang memiliki pengaruh besar dalam pertunjukan wayang kulit gaya Jawa Timuran sehingga gaya dalang dari satu daerah dapat dibedakan dari yang lainnya. Perbedaan antar sub-gaya tersebut terletak pada variasi irama gending, langgam, ujaran, dan terkadang juga gerakan pada tokoh wayang tertentu.
Asal usul kata Jekdong atau Cekdong tak kalah unik untuk diketahui. Kata Jek atau Cek berasal dari bunyi kecrek atau keprak yaitu alat musik yang terbuat dari beberapa lempengan logam yang dibunyikan atau di gerakkan oleh kaki dalang yang menghasil kan bunyi “crek”. Sedangkan kata Dong berasal dari salah satu alat musik yang digunakan pada saat pagelaran yaitu kendang. Kendang pada wayang kulit Jawa Timuran berbeda dengan kendang wayang kulit Mataraman (Surakarta, Jogjakarta). Kendang pada wayang kulit Jawa Timur memiliki bentuk panjang dan lebar atau lebih dikenal dengan kendang Trong sehingga ketika dipukul pada bagian gedhug (bagian kiri kendang yang memberikan suara rendah saat dipukul) berbunyi Dong. Berdasar bunyi dari dua alat musik tadi wayang Jawa Timur memiliki panggilan khas yaitu wayang Jek Dong atau Cek Dong.
Ciri khas dari wayang kulit gaya Jawa Timuran juga terletak dari pewarnaan wayang, gamelan yang digunakan, bahasa dan pemilihan lakon. Pewarnaan wayang pada wayang gaya Jawa Timuran menggunakan warna merah menyala pada wajah wayang sedangkan warna hitam atau keemassan sering ditemukan di wajah wayang gaya Mataraman (Surakarta, Jogjakarta). Pada perangkat gamelan yang dipakai pada wayang gaya Jawa Timuran menggunakan menggunakan gamelan berlaras slendro. Dari segi Bahasa yang digunakan juga lebih familiar daripada wayang gaya Mataramam, dialek Surabaya atau dialek Arek. Kalimat seperti arek, molih, ndhok, koen sering terdengar jika menonton wayang gaya Jawa Timuran.
Pemilihan lakon (alur cerita) yang akan dipentaskan pada wayang kulit gaya Jawa Timuran biasa menggunakan lakon carangan. Lakon carangan sendiri ialah alur cerita wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) yaitu kisah Mahabaratha atau Ramayana. Lakon yang sering dibawakan adalah Dewi Sri Boyong yang menceritakan tentang kesengsaraan rakyat karena ditinggalkan oleh Dewi Sri yang pada akhirnya mereka berusaha membawa Dewi Sri ke kerajaan dengan maksud ingin menghentikan kesengsaraan dan penderitaan.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti