JP Radar Kediri - Kecemasan adalah bagian alami dari pengalaman manusia, namun banyak orang merasa bahwa rasa cemas mereka justru semakin kuat saat malam hari.
Ketika suasana menjadi lebih sunyi dan aktivitas harian mulai mereda, pikiran yang semula sibuk sering kali mulai menyoroti berbagai kekhawatiran dan ketakutan yang sebelumnya tersembunyi di balik rutinitas.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan kecemasan sering muncul atau bahkan terasa lebih berat saat malam?
Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan fokus mental.
Pada siang hari, perhatian kita terbagi ke berbagai aktivitas seperti bekerja, berinteraksi dengan orang lain, atau melakukan tugas-tugas harian.
Kesibukan ini bertindak sebagai pengalih perhatian alami dari kekhawatiran mendalam yang mungkin kita miliki.
Namun, ketika malam tiba dan tubuh mulai bersiap untuk istirahat, tidak banyak distraksi yang tersedia.
Pikiran yang tadinya terabaikan pun mulai mencuat ke permukaan, dan kekhawatiran kecil bisa dengan cepat berkembang menjadi kecemasan yang terasa besar dan menekan.
Secara biologis, malam hari juga membawa perubahan dalam ritme tubuh.
Saat gelap, tubuh mulai meningkatkan produksi hormon melatonin untuk mempersiapkan tidur.
Namun, dalam kondisi tertentu, perubahan hormonal ini bisa berinteraksi dengan sistem stres tubuh, terutama bila seseorang sudah memiliki kecenderungan cemas.
Kadar kortisol, hormon stres, yang seharusnya menurun pada malam hari, kadang-kadang tetap tinggi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan, membuat tubuh tetap berada dalam kondisi waspada saat seharusnya ia bersantai.
Faktor lain yang memperburuk kecemasan malam adalah kurangnya cahaya alami.
Paparan cahaya di siang hari membantu mengatur jam biologis tubuh dan suasana hati.
Ketika malam tiba dan paparan cahaya berkurang drastis, beberapa orang bisa mengalami perubahan mood, merasa lebih sedih, atau lebih rentan terhadap pikiran negatif.
Ini sangat umum terjadi, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan suasana atau yang memiliki riwayat gangguan mood seperti depresi musiman.
Tidak hanya itu, ekspektasi terhadap tidur itu sendiri bisa menjadi pemicu kecemasan.
Ketika seseorang merasa harus segera tidur untuk bisa berfungsi dengan baik keesokan harinya, tekanan ini bisa memicu kecemasan tentang ketidakmampuan untuk tidur.
Pikiran seperti "Saya harus tidur sekarang" atau "Bagaimana jika saya tidak bisa tidur?" justru membuat tubuh semakin terjaga, menciptakan siklus kecemasan yang sulit diputus.
Lingkungan juga memainkan peran penting.
Saat malam hari, rumah atau kamar menjadi lebih hening, dan dalam keheningan itu, suara-suara kecil, kenangan, atau ketakutan yang biasanya tenggelam dalam keramaian bisa terdengar lebih nyaring.
lBaca Juga: 7 Rekomendasi Laptop Tipis Terbaik di 2025 dengan Desain Ringan! Lengkap Harga dan Spesifikasinya
Ini memberikan ruang bagi pikiran negatif untuk berkembang tanpa hambatan.
Memahami bahwa kecemasan di malam hari adalah hal yang umum bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam pengalaman ini.
Dengan mengetahui penyebab-penyebabnya, kita bisa mulai mencari strategi untuk mengelolanya, seperti membangun rutinitas malam yang menenangkan, membatasi konsumsi kafein dan gadget sebelum tidur, serta melatih teknik pernapasan atau meditasi.
Pada akhirnya, menerima kecemasan sebagai bagian dari pengalaman manusia, bukan musuh yang harus segera disingkirkan, justru bisa membantu kita melewati malam dengan lebih damai.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira