JP Radar Kediri - Kalau bicara soal kota di Jawa Timur, pikiran kita biasanya langsung tertuju ke Surabaya yang super sibuk, Malang yang padat, atau Sidoarjo yang penuh aktivitas industri. Tapi tunggu dulu.
Di balik keramaian itu, ternyata ada sejumlah kota yang justru punya julukan tak resmi sebagai “kota tersepi”.
Bukan karena tidak berkembang, tapi karena karakter wilayah, jumlah penduduk yang kecil, serta aktivitas perkotaan yang relatif rendah.
Radar Kediri merangkum beberapa kota tersepi di Jawa Timur, berdasarkan data kepadatan penduduk, intensitas lalu lintas, dan kesaksian warga lokal. Cocok banget buat yang suka suasana tenang dan jauh dari hiruk pikuk.
Baca Juga: Deretan Pantai di Banyuwangi Ini Wajib Masuk Daftar Liburanmu! Nomor 4 Surga Para Peselancar Dunia
1. Kota Batu – Sepi Saat Hari Kerja, Ramai Kalau Liburan
Meski terkenal sebagai destinasi wisata favorit di Jatim, Kota Batu justru masuk dalam kategori kota tersepi. Penduduknya cuma sekitar 213 ribu jiwa, jauh lebih sedikit dari Malang sebagai tetangga sebelah.
Kalau hari libur atau akhir pekan, memang terlihat ramai. Tapi di hari biasa, suasananya bisa sepi banget. Banyak toko tutup lebih awal, jalanan lengang, dan suara kendaraan nyaris tak terdengar di beberapa kecamatan seperti Bumiaji atau Junrejo.
2. Kota Mojokerto – Kecil, Tertib, dan Tenang
Dengan luas wilayah yang cuma sekitar 20 km² dan penduduk tak sampai 140 ribu jiwa, Kota Mojokerto jadi salah satu kota terkecil sekaligus tersepi di Jawa Timur. Bahkan, aktivitas pusat kotanya terpusat hanya di satu-dua jalan protokol saja seperti Jalan Bhayangkara dan Mojopahit.
Selepas pukul 8 malam, jalanan sudah terlihat sepi. Lampu-lampu toko mulai padam, dan suasana berubah seperti kota yang sedang “tidur”.
3. Kota Madiun – Tertib dan Rapi, Tapi Cenderung Sepi
Madiun memang kota industri dan pusat transportasi di wilayah barat Jatim. Tapi secara aktivitas, Madiun termasuk kota yang tenang. Jalan raya utama seperti Jalan Pahlawan atau Jalan Cokroaminoto tak pernah benar-benar macet.
Apalagi sejak kawasan “Madiun Kota Pintar” dikembangkan, wajah kota jadi lebih tertib dan modern, tapi tetap dengan suasana yang nyaman dan tidak riuh. Banyak perantau yang memilih pulang ke Madiun karena tidak seramai Surabaya, tapi tetap punya fasilitas lengkap.
4. Kota Pasuruan – Aktivitas Terpusat, Sisanya Nyaris Senyap
Berada di jalur strategis pantura timur, Kota Pasuruan justru tidak seramai kabupaten tetangganya. Aktivitas warga banyak terpusat di area sekitar pelabuhan dan jalur industri, sedangkan di luar itu, suasananya relatif tenang.
Kawasan-kawasan seperti Gadingrejo atau Bugul Kidul sering terlihat lengang, terutama di siang hari. Bahkan, di beberapa titik, lalu lintas hanya dilintasi kendaraan sesekali saja.
“Kadang terasa seperti kota mati kalau siang-siang. Tapi malam pun nggak berisik. Sepi, cocok buat istirahat,” kata Yudi, warga lokal.
5. Kota Blitar – Penuh Sejarah, Tapi Bukan Kota Sibuk
Sebagai kota kelahiran Bung Karno, Blitar sering jadi tujuan ziarah sejarah. Tapi di luar itu, aktivitas kotanya nggak begitu padat. Penduduknya hanya sekitar 150 ribu jiwa dan lalu lintasnya tergolong santai.
Blitar juga dikenal sebagai kota pendidikan dan pensiunan. Banyak pensiunan dari Surabaya atau Malang memilih tinggal di Blitar karena suasananya tenang, udara bersih, dan harga kebutuhan relatif murah.
6. Kota Sepi, Bukan Berarti Mati
Meski disebut “tersepi”, kota-kota ini justru menyimpan keunggulan tersendiri: udara lebih bersih, lingkungan lebih tenang, dan suasana hidup yang lebih manusiawi. Cocok untuk healing, tinggal dengan keluarga, atau sekadar melepas penat dari rutinitas kota besar.
Beberapa bahkan mulai dilirik jadi tujuan remote working oleh pekerja digital yang butuh ketenangan tanpa kehilangan akses internet dan fasilitas dasar.
Jadi, buat yang cari suasana baru di Jawa Timur, jangan cuma melirik kota besar. Kadang, kenyamanan justru datang dari tempat yang tak terlalu ramai.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira