JP Radar Kediri- Di antara deretan kisah kepunahan satwa liar Harimau Bali (Panthera tigris balica) menyimpan luka sejarah yang dalam. Sebagai subspesies harimau terkecil di dunia, harimau ini hanya ditemukan di Pulau Bali.
Sayangnya keberadaannya tidak berlangsung lama harimau ini dinyatakan punah secara resmi pada tahun 1937 menjadikannya subspesies harimau pertama yang musnah di era modern. Harimau Bali memiliki ukuran tubuh yang paling mungil dibandingkan subspesies harimau lain. Berat jantan dewasa diperkirakan hanya sekitar 90–100 kg sementara betina lebih ringan, sekitar 65–80 kg. Ciri fisik Harimau Bali antara lain adalah:
- Pola loreng lebih jarang dan tipis dibandingkan Harimau Jawa dan Sumatera.
- Warna bulu cenderung lebih terang, dengan nuansa cokelat kemerahan.
- Tengkorak yang lebih kecil dan gigi yang proporsional dengan ukuran tubuhnya.
- Bentuk tubuh yang ramping dan atletis membuatnya cepat serta gesit.
Seperti harimau pada umumnya, Harimau Bali dikenal sebagai pemangsa soliter. Ia memangsa berbagai jenis satwa liar kecil hingga sedang seperti rusa, babi hutan, kijang, dan unggas. Subspesies ini menghuni hutan hujan tropis dataran rendah, hutan kering, serta kawasan perbukitan di wilayah barat Pulau Bali seperti di sekitar Taman Nasional Bali Barat.
Baca Juga: Jangan Panik ! Lakukan hal ini jika bertemu Harimau di alam liar !
Tanggal pasti kepunahan Harimau Bali tidak bisa dipastikan, namun kemunculan terakhir secara resmi tercatat pada tahun 1937. Ironisnya, harimau ini tidak pernah dikembangbiakkan di kebun binatang manapun, sehingga tidak ada individu yang tersisa — baik di alam maupun dalam penangkaran. Faktor utama kepunahan meliputi:
- Perburuan intensif, terutama oleh pemburu Eropa pada masa kolonial.
- Anggapan sebagai hama oleh masyarakat lokal, terutama jika memangsa ternak.
- Penyempitan habitat akibat pembukaan lahan untuk pertanian dan permukiman.
Berbeda dari Harimau Sumatera yang masih memiliki populasi liar dan program konservasi aktif, atau Harimau Jawa yang masih menyisakan harapan lewat laporan tidak resmi, Harimau Bali benar-benar hilang. Tidak ada sampel genetik yang tersimpan, tidak ada dokumentasi visual hidup yang memadai, dan tidak ada catatan perilaku detail.
Meskipun telah punah hampir satu abad lalu, Harimau Bali tetap menjadi bagian penting dari narasi ekologi Indonesia. Ia adalah simbol dari apa yang bisa terjadi ketika alam tidak dipedulikan — dan menjadi alarm bagi konservasi satwa lainnya.
Pemerintah Indonesia melalui Balai Taman Nasional Bali Barat dan berbagai lembaga konservasi kini menggunakan cerita Harimau Bali sebagai media edukasi dan kesadaran lingkungan. Sayangnya, pelajaran ini datang terlambat untuk sang raja kecil dari Pulau Dewata.
Punahnya Harimau Bali adalah babak yang telah ditutup, tetapi pelajarannya bisa digunakan untuk menyelamatkan subspesies terakhir di Indonesia Harimau Sumatera. Upaya konservasi harus dilakukan sekarang, sebelum kisah tragis yang sama terulang kembali.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti