Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Panthera Tigris Sondaica, Raja Rimba yang Pernah Hidup di Belantara Jawa

Arif Miftaqhul Huda • Sabtu, 26 April 2025 | 21:30 WIB

Foto Harimau Jawa di Ujung Kulon Tahun 1938 (Andries Hoogerwef)
Foto Harimau Jawa di Ujung Kulon Tahun 1938 (Andries Hoogerwef)

JP Radar Kediri- Di masa lalu Pulau Jawa tak hanya dikenal dengan budaya dan sejarahnya yang kaya tetapi juga sebagai rumah bagi predator puncak yaitu, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Kini, hewan karismatik ini hanya tinggal dalam ingatan sejarah dan arsip ilmiah. Dinyatakan punah sejak 1980-an, Harimau Jawa menjadi simbol nyata kepunahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Baca Juga: Tiga Jenis Spesies Harimau yang Pernah Hidup di Indonesia

Harimau Jawa merupakan salah satu subspesies harimau yang berukuran kecil, sebanding dengan Harimau Bali dan lebih kecil dibanding Harimau Sumatera maupun Harimau Bengal. Berat pejantan dewasa diperkirakan berkisar antara 100 hingga 140 kilogram, sedangkan betina sekitar 75 hingga 115 kilogram. Ciri khas Harimau Jawa meliputi:

Secara perilaku, Harimau Jawa dikenal sebagai hewan soliter dan sangat teritorial. Ia lebih aktif di malam hari (nokturnal), walaupun dapat berburu pada siang hari saat keadaan memungkinkan. Makanannya terdiri dari hewan besar dan sedang seperti rusa, banteng muda, babi hutan, hingga unggas liar. Harimau ini dulunya tersebar luas di pulau Jawa, dari ujung barat hingga ujung timur. Habitat utamanya mencakup:

Namun perluasan lahan pertanian, pertumbuhan permukiman, serta pembangunan jalan dan industri memaksa harimau semakin terdesak ke wilayah-wilayah sempit yang akhirnya tidak mampu mendukung kelangsungan populasinya.

Jika dibandingkan dengan dua kerabatnya di Indonesia—Harimau Sumatera dan Harimau Bali—Harimau Jawa memiliki posisi unik sebagai penengah. Ukurannya berada di antara keduanya, dan secara genetika diyakini lebih dekat ke Harimau Bali karena asalnya yang sama dari Kepulauan Sunda Kecil dan Jawa.

Berbeda dari harimau lainnya tidak ada program penangkaran atau konservasi aktif yang dilakukan sebelum Harimau Jawa dinyatakan punah. Tidak ada individu yang sempat dipelihara di kebun binatang, tidak ada dokumentasi DNA yang disimpan. Kepunahannya terjadi diam-diam, perlahan, dan akhirnya total.

Harimau Jawa (wikipedia)
Harimau Jawa (wikipedia)

Laporan tidak resmi tentang kemunculan Harimau Jawa masih muncul hingga tahun 2000-an, terutama dari Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur. Namun hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang kuat seperti jejak kaki, foto kamera trap, atau kotoran yang bisa diverifikasi.

Meski telah punah, Harimau Jawa meninggalkan warisan penting: peringatan bahwa konservasi tidak bisa menunggu. Spesies ini punah bukan karena seleksi alam, tapi karena pengabaian, eksploitasi, dan minimnya kepedulian manusia terhadap keseimbangan ekosistem.

Saat ini Harimau Sumatera berada di ambang yang sama. Kisah Harimau Jawa harus menjadi titik balik, bukan sekadar sejarah kelam. Kepunahan Harimau Jawa adalah luka ekologis yang belum sembuh. Namun, ia juga bisa menjadi pemicu kesadaran kolektif untuk lebih serius menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Melindungi Harimau Sumatera bukan hanya soal mempertahankan spesies, tetapi juga soal menjaga warisan, menjaga hutan, dan menjaga masa depan. Jika kita gagal belajar dari sejarah, maka sejarah akan kembali terulang.

Editor : Puspitorini Dian Hartanti
#harimau #predator #Panthera Tigris #hutan #Belantara #harimau jawa