JP Radar Kediri - Selama ini, picky eater seringkali dianggap sebagai “masalah anak-anak”. Tapi tahukah kamu? Orang dewasa juga bisa mengalami hal yang sama. Bahkan, pada beberapa kasus, kebiasaan pilih-pilih makanan di usia dewasa bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan mental.
Picky Eating di Kalangan Remaja dan Dewasa
Memang wajar jika anak-anak cenderung lebih pemilih dalam soal makanan. Ini bagian dari proses tumbuh kembang mereka, dan seiring waktu biasanya akan membaik.
Namun, tidak semua orang berhasil “lulus” dari fase ini. Banyak yang justru membawa kebiasaan picky eating hingga usia remaja dan dewasa.
Sebuah studi dari Journal of Nutrition Education and Behavior (2021) mengamati 488 mahasiswa di Midwestern University. Hasilnya cukup mencengangkan: sekitar 39% dari mereka menunjukkan kecenderungan picky eating.
Tak hanya itu, para peneliti juga menemukan bahwa remaja picky eater lebih berisiko mengalami gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder) dan cenderung memiliki asupan serat yang rendah, terutama dari sayuran. Hal ini tentu bisa memengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Baca Juga: Jangan Disepelekan! Berikut Bahaya Rebahan Setelah Makan
Kenapa Orang Dewasa Bisa Jadi Picky Eater?
Ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang tetap picky eater hingga dewasa, di antaranya:
- Pengalaman Masa Kecil
Pola makan yang dibentuk sejak kecil, seperti sering dipaksa makan atau hanya diberi pilihan makanan terbatas, bisa menetap dan memengaruhi preferensi makan saat dewasa.
- Trauma Terhadap Makanan
Pernah keracunan makanan, tersedak, atau pengalaman tidak menyenangkan lainnya bisa membuat seseorang enggan menyentuh makanan tertentu lagi.
Baca Juga: Benarkah Makan Nanas Bisa Bikin Keguguran? Fakta atau Mitos?
- Masalah Pencernaan
Kondisi seperti intoleransi laktosa, penyakit celiac, atau gangguan pencernaan lainnya juga dapat membuat seseorang menghindari jenis makanan tertentu.
- Gangguan Psikologis
Picky eating juga bisa terkait dengan gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, kecemasan, atau depresi, yang berdampak pada pola makan sehari-hari.
- Perubahan Indra Perasa dan Penciuman
Seiring bertambahnya usia, indra perasa dan penciuman kita bisa berubah, membuat seseorang lebih sensitif terhadap rasa atau aroma tertentu pada makanan.
Baca Juga: Makan Banyak Saat Sahur Bikin Tahan Lapar Lebih Lama? Mitos atau Fakta?
Cara Mengatasi Picky Eating pada Orang Dewasa
Kabar baiknya, picky eating bukanlah kondisi permanen. Dengan dukungan yang tepat dan langkah kecil yang konsisten, kebiasaan ini bisa diatasi. Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba:
- Bangun Motivasi dari Dalam Diri
Sadari bahwa picky eating bisa memengaruhi hubungan sosialmu. Misalnya, ketika menolak makanan yang disiapkan orang lain, bisa jadi mereka merasa tersinggung. Jadikan ini motivasi untuk mulai membuka diri terhadap makanan baru.
- Mulai dari Langkah Kecil
Nggak perlu langsung mengubah segalanya. Mulailah perlahan. Misalnya, kalau kamu nggak suka wortel, coba tambahkan sedikit ke dalam makanan favoritmu, seperti nugget atau bakso ayam. Perlahan, kamu akan mulai terbiasa.
Baca Juga: Makan Nasi Justru Membuat Kucing Kekurangan Gizi? Simak Penjelasannya
- Eksperimen Cara Memasak
Mungkin bukan makanannya yang kamu nggak suka, tapi cara masaknya. Cobalah teknik memasak berbeda. Sayuran seperti wortel atau terong bisa jadi lebih lezat dan manis alami jika dipanggang dibanding disayur.
- Terus Mencoba
Perubahan butuh waktu. Nggak apa-apa kalau kamu masih belum suka setelah mencoba sekali. Yang penting, teruslah mencoba dan jangan menyerah.
- Dukungan Itu Penting
Kamu nggak harus hadapi ini sendirian. Ceritakan kondisimu ke orang-orang terdekat agar mereka bisa mendukung, bukan menghakimi. Dan kalau kamu merasa kebiasaan ini sudah mulai berdampak ke kesehatan mental atau fisikmu, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter atau psikolog.
Baca Juga: Lebaran Telah Usai, Program Makan Bergizi Gratis Jalan Lagi di Kediri
Picky eater bukan cuma soal “suka atau nggak suka” makanan. Ada banyak hal di baliknya yang bisa berkaitan dengan pengalaman masa lalu, kondisi kesehatan, hingga mental. Yang penting, jangan malu dan jangan menyerah untuk berubah. Pelan-pelan, semua bisa diatasi, asal ada kemauan dan dukungan.
Kalau kamu atau orang terdekatmu mengalami hal ini, yuk mulai peduli dan bantu mereka pelan-pelan!
Author: Nawal Aulia