Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dibalik “Beauty is Pain” Tekanan, Tren, dan Solusinya

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 15 April 2025 | 20:04 WIB
Ilustrasi Perawatan Wajah
Ilustrasi Perawatan Wajah

Kediri, JP Radar Kediri - Istilah “beauty is pain” udah lama banget kita dengar. Dari kaki lecet gara-gara high heels, sampai wajah perih karena skincare terlalu keras semua demi satu hal: tampil cantik. Tapi… benarkah cantik itu harus selalu dibayar dengan rasa sakit?

Ketika Cantik Jadi Tuntutan

Banyak dari kita yang merasa harus cantik untuk diterima. Akhirnya, rela melakukan apapun: cabut bulu, diet ekstrem, suntik ini-itu, bahkan operasi yang menyakitkan. Padahal, siapa sih yang menetapkan standar itu semua? Tuntutan kecantikan seringkali datang dari luar media sosial, iklan, bahkan komentar orang sekitar. Tapi pelan-pelan, itu bisa jadi beban dalam kepala kita sendiri.

Sakit yang “Normal”, atau Cuma Terbiasa?

Pakai sepatu hak tinggi semalaman sampai pegal bukan main. Waxing yang bikin merem melek. Skincare eksfoliasi yang perih tapi dibilang “itu tanda lagi bekerja”. Kita kadang menganggap semua itu wajar, padahal mungkin sebenarnya nggak perlu. Pertanyaannya: apakah rasa sakit itu memang bagian dari perawatan diri, atau cuma tekanan supaya kita “cukup cantik” di mata orang lain?

Cantik Tanpa Tersiksa: Bisa Kok!

Cantik nggak harus menyakitkan. Sekarang makin banyak produk dan metode yang lebih ramah, baik buat tubuh maupun mental. Mulai dari skincare gentle, body care tanpa bahan keras, sampai tren “clean look” yang lebih ringan.
Kuncinya adalah kenali diri sendiri. Nggak semua tren harus diikuti. Dengerin tubuhmu. Kalau sesuatu bikin nggak nyaman, itu sinyal buat stop. Kecantikan sejati datang dari versi terbaik dirimu, bukan dari rasa sakit yang kamu tahan diam-diam.

Tekanan dari Sosial Media

Zaman sekarang, standar kecantikan nggak cuma datang dari iklan atau majalah, tapi dari feeds yang kita scroll setiap hari. Filter yang bikin kulit mulus, body goals dari influencer, atau tutorial makeup 10 langkah yang bikin kita mikir: “Aku harus seperti itu juga gak, ya?”. Padahal, yang kita lihat di layar seringkali udah melalui proses editing, pencahayaan, bahkan operasi. Tapi tetap aja, banyak yang merasa “kurang cantik” hanya karena membandingkan diri dengan sesuatu yang nggak realistis.

Dampak Mental dari "Beauty is Pain"

Nggak cuma fisik yang tersiksa, mental juga bisa ikut kena. Rasa nggak percaya diri, overthinking soal penampilan, sampai stres karena merasa belum cukup. Semua itu bisa jadi efek samping dari usaha “terlalu keras” untuk terlihat sempurna. Kadang kita jadi lupa: merawat diri itu harusnya bikin kita merasa lebih baik, bukan sebaliknya.

Gimana Cara Mengatasi “Beauty is Pain”?

Kita nggak bisa langsung mengubah standar kecantikan dunia, tapi kita bisa mulai dari diri sendiri. Ini beberapa cara untuk keluar dari jebakan “cantik harus sakit”:

  1. Dengerin Tubuhmu

Kalau perawatan atau produk bikin perih, iritasi, atau nggak nyaman itu tandanya tubuhmu nolak. Jangan paksakan diri demi tren. Cantik itu bukan berarti harus tahan sakit.

Tips: Selalu cek kandungan produk dan pilih yang sesuai jenis kulit. Nggak semua yang viral cocok buat semua orang.

  1. Ubah Mindset: Cantik Itu Versi Kamu

Standar kecantikan bukan satu ukuran untuk semua. Fokus ke apa yang bikin kamu nyaman, bukan apa yang bikin kamu diterima orang lain.

Tips: Tulis hal yang kamu suka dari diri sendiri nggak harus soal fisik. Bisa tentang senyum kamu, gaya bicara kamu, atau bagaimana kamu ngerawat orang lain.

  1. Kurangi Bandingkan Diri di Media Sosial

Scroll tanpa sadar bisa bikin kita ngerasa “kurang”. Coba kurasi akun yang kamu ikuti: pilih yang memotivasi, bukan yang bikin insecure.

Tips: Follow akun-akun yang bahas self-love, body positivity, dan real beauty. Unfollow yang bikin kamu ngerasa kecil.

  1. Rawat Diri Bukan Karena Harus, Tapi Karena Sayang

Bedain antara merawat diri karena cinta diri, atau karena tekanan sosial. Kalau kamu skincare-an sambil senyum dan relaks, itu self-care. Tapi kalau karena takut “gak cakep”, coba cek ulang motivasinya.

Tips: Jadikan perawatan diri sebagai waktu healing, bukan beban.

  1. Kelilingi Diri dengan Dukungan Positif

Orang-orang di sekitar kamu punya pengaruh besar terhadap cara kamu melihat diri sendiri. Dekatlah dengan mereka yang bisa menghargai kamu apa adanya.

Tips: Hindari komentar-komentar toxic soal penampilan. Kalau perlu, berani bilang “stop” atau jaga jarak demi kesehatan mentalmu.

Penulis : Annin Firnanda M.P

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#perawatan diri #Beauty Is Pain