JP Radar Kediri - Istilah generasi sandwich sering di dengar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Istilah tersebut merujuk kepada seorang individu berusia produktif yang tergolong muda sedang terjepit situasi dimana bertanggung jawab finansial untuk membiayai kehidupan orang tua sekaligus anak-anak mereka.
Di tengah lonjakan biaya hidup, tekanan yang dirasakan generasi ini menjadi isu yang tak bisa diabaikan.
Istilah sandwich generation bukan sekadar label, tapi kenyataan pahit yang dijalani jutaan anak muda di Indonesia, tercatat dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 35% pekerja muda usia 25–35 tahun mengaku harus menanggung beban finansial keluarga inti dan keluarga besar secara bersamaan.
Banyak dari mereka bahkan terjebak dalam utang demi bertahan selain itu mereka juga dihadapkan pada kebutuhan menabung untuk masa depan, membeli rumah, dan membiayai pendidikan anak.
Baca Juga: 5 Olahraga yang Dipercaya Bikin Kurus, tapi Nyatanya Nggak Efektif?
Dalam budaya timur seperti Indonesia, merawat orang tua dianggap sebagai bentuk bakti dan kewajiban moral, sayangnya di tengah realita ekonomi yang berat, nilai-nilai ini sering bertabrakan dengan kondisi finansial yang menekan.
Menjadi bagian dari generasi sandwich bukanlah pilihan, tapi kenyataan yang harus dihadapi banyak anak muda hari ini.
Di tengah tekanan ekonomi dan harapan sosial, diperlukan empati, pemahaman antar generasi, dan dukungan sistemik agar mereka tak lagi terjepit di antara dua tanggung jawab besar.
Penulis: Fikri Raihan Pratama, Mahasiswa Magang Universitas Pembangunan “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira