JP Radar Kediri - Masih banyak orang yang takut akan pandangan orang lain, terutama ketika mendengar komentar seperti, “Bajumu itu-itu saja!” Ketakutan ini sering kali menjadi alasan utama mengapa seseorang enggan beralih ke konsep slow fashion. Padahal, jika kita masih terpaku pada penilaian orang lain dan merasa harus selalu tampil dengan pakaian baru, maka prinsip slow fashion bukanlah solusi yang tepat.
Slow fashion bukan hanya tentang memilih merek yang mengusung nilai keberlanjutan. Lebih dari itu, slow fashion adalah soal perubahan cara berpikir dan pola konsumsi. Bila seseorang tetap memiliki kebiasaan berbelanja dengan cepat, hanya mengganti fast fashion dengan label "ramah lingkungan", maka esensi dari slow fashion itu sendiri belum benar-benar dipahami.
Kita perlu mengubah mindset, bukan tentang seberapa sering kita mengganti pakaian, tapi seberapa bijak kita memilih dan menggunakan pakaian tersebut. Apakah pakaian yang kita beli bisa bertahan lama? Apakah bisa dipakai hingga 300 kali atau lebih? Itulah pertanyaan yang seharusnya muncul dalam diri ketika ingin menerapkan slow fashion.
Inti dari slow fashion adalah mengurangi kecepatan berbelanja dan meningkatkan kesadaran. Fokus pada kualitas, daya tahan, dan nilai jangka panjang dari sebuah pakaian, bukan sekadar mengikuti tren atau tuntutan sosial. Pilihlah busana yang bersifat timeless sehingga dapat terus digunakan dalam jangka panjang tanpa perlu merasa minder.
Jadi, jika kamu ingin benar-benar menerapkan slow fashion, mulailah dari dalam diri. Bukan hanya mengganti merek pakaian, tapi juga mengubah cara pikir dan cara belanja. Karena keberlanjutan sejati tidak terletak pada label, melainkan pada sikap kita sebagai konsumen yang bertanggung jawab.
Author : Nawal Aulia
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira