JP Radar Kediri– Baju flanel memiliki kisah yang panjang dan menawan, bermula dari abad ke-16 di Skotlandia. Berikut sejarah dari baju flanel
Abad Ke-16: Awal Mula Baju Flanel
Baju flanel pertama kali muncul di Skotlandia pada abad ke-16. Saat itu, baju ini dibuat dari wol yang diproses secara khusus untuk menciptakan kehangatan dan kelembutan. Para petani dan pekerja menggunakan baju flanel sebagai pelindung dari dinginnya musim dingin yang melelahkan.
Abad Ke-18: Popularitas Baju Flanel di Eropa
Masuk ke abad ke-18, baju flanel mulai merebak dan menjadi favorit di Eropa, terutama di Inggris dan Prancis. Selain fungsinya sebagai pakaian hangat, baju flanel juga mulai dipakai sebagai busana sehari-hari yang kasual.
Abad Ke-19: Baju Flanel di Amerika
Di abad ke-19, baju flanel diperkenalkan ke Amerika Serikat oleh para imigran Eropa. Segera, baju ini mendapatkan tempat di hati masyarakat Amerika, khususnya di daerah pedesaan. Pada periode ini, baju flanel juga digunakan sebagai pakaian kerja oleh para pekerja tambang dan profesi lainnya.
Baca Juga: Tips Memilih Tunik untuk Wanita Big Size: Motif, Warna, dan Model yang Bikin Tampilan Lebih Ramping
Abad Ke-20: Evolusi Baju Flanel Modern
Memasuki abad ke-20, baju flanel mengalami transformasi yang signifikan. Kini, ia dibuat dengan bahan sintetis dan campuran yang menjadikannya lebih tahan lama dan mudah dalam perawatan. Saat itu, baju flanel juga mulai bersinar sebagai item fashion untuk aktivitas sehari-hari.
Era Modern: Baju Flanel Masa Kini
Di era modern, baju flanel telah berevolusi dengan beragam gaya dan desain yang menarik. Berbagai warna, pola, dan bahan tersedia, menjadikannya pilihan favorit di kalangan masyarakat global. Baju flanel kini bukan hanya sebagai pelindung dari dingin, tetapi juga sebagai pilihan fashion yang stylish.
Singkatnya, sejarah baju flanel mencerminkan perjalanan yang kaya dan menarik dari abad ke-16 hingga sekarang. Baju flanel telah bertransformasi menjadi ikon mode yang diakui di seluruh dunia, dengan beragam gaya serta desain yang terus berkembang.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti