Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Begini Cara Pelaku Industri Kreatif Agar Bisa Survive di Tengah Maraknya AI

Ayu Ismawati • Minggu, 30 Maret 2025 | 05:50 WIB
AI Marak di Ranah Ilustrasi, jadi Ancaman atau Peluang?
AI Marak di Ranah Ilustrasi, jadi Ancaman atau Peluang?

Teknolog AI memiliki dua sisi dampak yang berbeda, khususnya bagi pelaku industri kreatif.

Dosen Program Studi Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Fathoni Setiawan mengatakan, di satu sisi AI akan membantu dalam ranah dasar seperti merancang ide.

“Tapi di sisi lain di tingkat yang lebih lanjut sebagai seniman, sangat berdampak pada ragam karya,” ujar pria yang akrab disapa Thoni itu.

Pada dasarnya, hasil generator gambar AI cenderung serupa satu sama lain.

Sebagai seorang pengajar, diakuinya beberapa mahasiswa pernah memanfaatkan generator gambar AI untuk mengerjakan tugas kuliah.

“Secara tradisional kami biasanya sebagai seniman mulai dari sketsa dulu, lalu mengambil tahap lanjutan.

Dari teman-teman mahasiswa ini ada indikasi mereka melewati bagian sketsa ini.

Mereka langsung menggeneratif sebuah image untuk dikembangkan,” ungkapnya.

Dengan pola kerja seperti itulah yang pada akhirnya menghasilkan karya yang kurang beragam.

Beruntung, hasil akhir dari karya orisinil dengan AI masih tetap bisa dibedakan.

Pria asal Tulungagung itu berpendapat, menakar peluang dan tantangan dari AI itu perlu disesuaikan dengan pemakaiannya.

Sebab, baik karya seni orisinil dan AI memiliki pasarnya masing-masing.

Dengan begitu, seniman dituntut untuk tetap bisa menghasilkan karya yang original agar bisa tetap bertahan.

“Kalau secara idealisme saya sebagai seniman, melihat ini tetap menjadi tantangan. Karena dengan begitu pesatnya AI—termasuk yang lagi ramai tren AI Ghibli Studio dan itu juga sudah lama disikapi oleh Hayao Miyazaki— bahwa AI ini sebenarnya meresahkan,” tandasnya.

Untuk itu, dia pun mewanti-wanti agar masyarakat—termasuk seniman—bisa bijak dalam menyikapi perkembangan terknologi itu.

Salah satunya bisa membedakan kepentingan dalam menggunakan karya seni.

Diakuinya, memang ada beberapa seniman yang memilih menyesuaikan permintaan pasar dalam menjual karyanya.

“Tapi untuk ke depannya, sebagai bentuk gerakan idealis, harusnya tetap berlomba dengan AI ini. Harus tetap menciptakan ciri khas biar tidak tergulung ombak AI,” harapnya.

Apalagi, saat ini AI masih memiliki beberapa kecacatan. Thoni mencontohkan, AI masih belum mampu menggambarkan tangan secara sempurna.

Namun demikian, yang namanya teknologi akan terus dikembangkan.

Sehingga yang bisa dilakukan saat ini menurutnya adalah tetap mendayagunakan AI.

“Misal adakalanya seniman itu kehabisan ide. Idenya itu kan kita bisa memanfaatkan generatifnya ChatGPT. Ataupun mengambil perspektif-perspektif gambar dari image generative tool seperti OpenArt AI itu juga sangat membantu,” bebernya.

Meskipun AI tetap bisa disikapi secara positif, menurut Thoni sejauh ini pemanfaatannya di lingkup pendidikan justru masih cenderung mengarah ke hal yang negatif.

Seperti contoh, mahasiswa cenderung mengerjakan semua hal secara instan dengan AI.

“Seperti pengolahan informasi, mereka mencari dari ChatGPT tanpa mengolah terlebih dahulu. Tanpa mempunyai pembanding. Itu yang menjadi dampak negatif,” ungkapnya sembari menyebut, pada prinsipnya dia tetap mengutamakan kemampuan keteknikan dan motorik dari mahasiswanya. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kecerdaasan buatan #ChatGPT #ai #teknologi #Marak