Belum lama ini, media sosial diramaikan dengan perdebatan produk ilustrasi yang diolah dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligency (AI).
Semakin banyak saja AI yang menggunakan sampel art style dari seniman-seniman terkemuka.
Sebut saja tren foto ala Studio Ghibli yang dibuat dengan ChatGPT.
AI yang menggunakan sampel art style dari film-film karya ilustrator asal Jepang Hayao Miyazaki itupun memicu perdebatan.
Apalagi jika dikaitkan dengan pernyataan sang illustrator, yang menentang penggunaan AI image generator untuk karyanya.
Ambu Mahbub, 30, pekerja kreatif asal Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren juga termasuk salah satu yang menentang penggunaan AI.
Diakuinya, perkembangan teknologi itu memang tidak terelakkan.
Namun, bagi ilustrator di sebuah perusahaan media cetak itu, AI bisa mengancam eksistensi para pelaku industri kreatif.
“Semacam mematikan industri kreatif. Apalagi sekarang banyak jurusan DKV (desain komunikasi visual, Red) di kampus-kampus di Indonesia.
Terus kalau ada AI, mereka ini mau ngapain?” tanyanya.
Jika melihat teknologi ini dari perspektif ekonomi, AI memang cenderung menguntungkan bagi pelaku usaha.
Dengan hasil akhir hampir sama dengan ilustrasi orisinil, waktu yang dibutuhkan untuk meng-generate gambar jauh lebih cepat.
Selain itu, lebih murah karena hanya bermodalkan akun email saja.
Sementara ada aspek dari karya orisinil seniman yang tetap tidak bisa digantikan AI.
Di antaranya nilai seni yang bisa dipertanggungjawabkan, kebanggaan terhadap karya seni, serta nilai dari proses yang tidak bisa didapatkan dari kecerdasan buatan.
“Lebih sulit juga revisinya. AI itu kan instan. Semacam kita mencari gambar di Internet.
Untuk merevisi gambar AI itu agak susah karena nggak ada file mentahnya,” bebernya, soal AI yang juga kurang direkomendasikan untuk pekerja kreatif profesional.
Ambu berpendapat, karya orisinil dari seorang seniman itu juga merupakan buah dari proses belajar dan latihan yang panjang.
Alumnus Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu sudah belajar menggambar sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Di tengah cepatnya arus teknologi, pekerja kreatif sepertinya tentu dituntut untuk bisa beradaptasi.
“Kita harus mulai mendokumentasikan proses. Karena sekarang audiens itu suka lihat prosesnya.
Misal mau menggambar apa, dikontenin. Mereka lebih suka itu ketimbang kita langsung mengunggah hasil jadinya,” ujarnya.
Baca Juga: Dopamine Dressing Jadi Salah Satu Tren Fashion 2025 yang Meningkatkan Rasa Percaya Diri dan Mood
Selain itu, menurutnya seniman juga harus bisa membangun branding atau citra diri.
Salah satunya dengan menciptakan ciri khas sendiri.
“Makanya sekarang kita tidak hanya dituntut menjual karya, tapi juga ‘menjual diri’ kita lewat branding itu,” ungkapnya.
Jika Ambu Mahbub tegas menentang penggunaan generator gambar AI di ranah desain profesional, berbeda halnya dengan Hanief Iksa Putra.
Pelaku industri kreatif yang bergerak di bidang multimedia itu menilai, teknologi itu tak bisa dielakkan. Sebab, teknologi AI itu sudah di depan mata.
Sehingga mau tidak mau tetap harus dipelajari dan dimanfaatkan.
Namun dengan catatan tetap bijak menyikapinya.
“Kalau kita bisa bekerja sama dengan baik dengan teknologi AI, pasti bisa jadi peluang. Tetapi kalau kita memusuhi teknologi AI, itu sudah pasti akan menjadi ancaman,” ujarnya.
Karena teknologinya yang sudah ada di depan mata, menurutnya menentang AI juga tak ubahnya tindakan yang buang-buang energi.
Justru, masyarakat yang harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi itu.
“Nggak cuma di desain grafis atau di DKV saja, di tempat saya dulu ada 18 orang translator sudah saya sapu bersih sejak ChatGPT muncul. Karena mereka mampunya cuma translate bahasa Indonesia ke Inggris. Sedangkan mereka juga harus bisa manage klient dan order,” ungkapnya sembari menyebut, pada akhirnya yang tidak bisa beradaptasi akan tergantikan dengan teknologi itu.
Sebagai pelaku industri kreatif, diakui pria asal Nganjuk itu sudah memanfaatkan AI sejak awal diluncurkan.
Yakni, diawali dengan ChatGPT yang mulai diluncurkan untuk publik pada 2022 lalu. Sejak itu pula, perusahaannya mulai masif menggunakan AI.
“Dari segi hasil, kita tidak ketergantungan dengan manusia. Pertama dia tidak sakit. Dia nggak mood-moodan. Nggak cranky. Dia kerja 24 jam untuk kita. Nggak banyak menuntut juga,” bebernya terkait sederet keunggulan AI.
Namun, menurutnya tetap ada kekurangan AI yang hingga saat ini belum bisa menggantikan tenaga manusia.
Di antaranya seperti daya imajinatif AI yang masih harus dirangsang oleh manusia.
“Saya nggak tahu sampai kapan ini terjadi, tapi AI yang sekarang masih perlu controlling dari manusia. Sedangkan di manusia, kita bisa punya original idea. Sementara AI mungkin idenya tidak original. Dia bisa membantu brainstorming, tapi tidak bisa bantu menentukan ide mana yang terbaik dari segala aspek,” ujarnya, membeber beberapa keunggulan dan kekurangan AI di dunia industri kreatif profesional.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira