JP Radar Kediri - Di era digital, kehidupan setelah putus cinta bukan lagi sekadar meratapi kesedihan, melainkan menjadi ajang transformasi diri. Istilah seperti glow up, soft launch single life, dan revenge body kini menjadi tren di kalangan Gen Z yang ingin menunjukkan bahwa putus cinta bukan akhir segalanya, melainkan awal dari versi terbaik diri mereka.
Fenomena ‘Glow Up’ Pasca-Putus
Alih-alih menangis berlarut-larut, banyak anak muda memilih untuk menjalani glow up—baik secara fisik maupun mental. Dari mulai berolahraga, mengubah gaya fashion, hingga memperbaiki kesehatan mental, semuanya dilakukan sebagai bentuk peningkatan diri setelah hubungan berakhir.
Media sosial pun menjadi saksi perjalanan ini, dengan unggahan sebelum dan sesudah putus yang kerap viral di TikTok dan Instagram.
‘Soft Launch Single Life’, Cara Halus Menyatakan Kebebasan
Baca Juga: Postingan Kim Sae-ron Sebelum Meninggal Jadi Sorotan, Ungkap Kesepian dan Putus Asa
Gen Z juga punya cara unik untuk memberi tahu dunia bahwa mereka sudah kembali lajang, yakni dengan teknik soft launch. Alih-alih langsung mengumumkan status baru, mereka kerap mengunggah foto-foto estetik yang menampilkan kebebasan baru mereka—seperti jalan-jalan, menikmati hobi lama, atau sekadar selfie dengan caption penuh makna.
‘Revenge Body’, Balas Dendam dengan Penampilan
Istilah revenge body semakin populer pasca-putus, di mana seseorang berusaha mendapatkan bentuk tubuh yang lebih baik sebagai bagian dari perjalanan self-love. Bukan sekadar untuk membuat mantan menyesal, tetapi juga sebagai bukti bahwa mereka bisa berkembang tanpa pasangan.
‘Main Character Energy’, Fokus ke Diri Sendiri
Setelah putus, banyak Gen Z yang memilih untuk menjadi ‘tokoh utama’ dalam hidup mereka sendiri. Mereka mengeksplorasi minat baru, fokus pada karier, dan menikmati hidup tanpa bergantung pada hubungan asmara. Konsep ini mendorong individu untuk mencintai diri sendiri sebelum kembali membuka hati untuk orang lain.
Breakup bukan lagi akhir dari dunia bagi Gen Z. Dengan berbagai istilah dan tren ini, mereka membuktikan bahwa putus cinta adalah kesempatan untuk berkembang, bukan tenggelam dalam kesedihan.
Penulis: Aurelsya Jessica Putri Editya, Mahasiswa Magang Universitas Dian Nuswantoro Kediri
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira