JP Radar Kediri - Iftar adalah momen berbuka puasa yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, terutama selama bulan Ramadan. Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang iftar, mulai dari pengertian, asal kata, tradisi, hingga keutamaannya baik dari sisi spiritual maupun sosial.
Iftar berasal dari bahasa Arab yang berarti "membuka" puasa. Secara sederhana, iftar adalah waktu di mana umat Muslim mengakhiri puasa harian mereka dengan mengonsumsi makanan dan minuman setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Biasanya, iftar dimulai segera setelah azan Maghrib berkumandang, menandai berakhirnya puasa pada hari itu.
Kata "iftar" sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab yang berasal dari kata afṭara, yang artinya "berbuka puasa", dan faṭara, yang berarti "membatalkan puasa". Tradisi berbuka puasa ini telah dijalankan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan umatnya untuk menyegerakan iftar dengan mengonsumsi kurma dan air putih sebagai bentuk penghormatan atas sunnah beliau.
Tradisi iftar tidak hanya sebagai waktu untuk mengakhiri puasa, tetapi juga sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan komunitas. Beberapa praktik umum dalam iftar antara lain:
- Berbuka dengan Kurma dan Air Putih: Sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW, umat Muslim dianjurkan untuk memulai iftar dengan kurma dan air putih.
- Menyegerakan Berbuka Puasa: Segera berbuka ketika waktu Maghrib tiba adalah anjuran yang penting, karena menunjukkan rasa syukur dan ketaatan kepada Allah SWT.
- Makan Bersama: Di banyak negara, iftar menjadi ajang reuni dan silaturahmi. Kegiatan ini sering kali diisi dengan acara buka puasa bersama, di mana makanan khas Ramadan seperti kolak, es buah, dan berbagai hidangan lezat disajikan.
- Berbagi dengan Sesama: Memberikan makanan kepada yang membutuhkan saat iftar dianggap sebagai amal yang sangat mulia dan mendapatkan pahala berlipat.
Pada tahun 2023, iftar mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan ini menegaskan bahwa iftar bukan hanya sebuah momen berbuka puasa, melainkan juga merupakan ritual sosial dan budaya yang memiliki nilai-nilai universal. UNESCO mengakui bahwa tradisi iftar mengandung esensi kebersamaan, solidaritas, dan rasa syukur yang menguatkan ikatan antaranggota masyarakat. Melalui pengakuan ini, UNESCO berharap tradisi iftar dapat dipertahankan dan diwariskan ke generasi mendatang sebagai simbol toleransi, keragaman budaya, dan perdamaian di dunia.
Pengakuan tersebut juga mendorong upaya pelestarian tradisi lokal terkait iftar di berbagai negara, di mana setiap komunitas memiliki cara unik dalam merayakan momen berbuka puasa. Dengan demikian, iftar tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai jembatan yang menyatukan berbagai budaya dan latar belakang melalui nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Baca Juga: Rekomendasi Aktivitas Outdoor Menarik untuk Mengisi Waktu Menunggu Buka Puasa
Editor : Puspitorini Dian Hartanti