Dalam setahun terakhir, istilah brain rot semakin populer di era digital, khususnya di media sosial seperti TikTok.
Istilah ini merujuk pada "pembusukan otak" yang oleh para ahli diartikan sebagai penurunan kondisi mental akibat konsumsi berlebihan terhadap konten daring berkualitas rendah dalam jumlah besar.
Fenomena brain rot kerap dikaitkan dengan budaya digital dan jenis konten tertentu yang viral.
Salah satu contohnya adalah video Skibidi Toilet karya Alexy Gerasimov, yang menampilkan karakter toilet humanoid dan sempat menjadi tren di internet.
Konten ini bahkan memunculkan istilah baru seperti "skibidi" yang berarti sesuatu yang tidak masuk akal. Hal ini mencerminkan bagaimana bahasa daring yang viral dapat menyebar ke dunia nyata.
Sejarah dan Makna Brain Rot
Meski baru populer di era digital, istilah brain rot sebenarnya sudah ada sejak lama. Istilah ini pertama kali tercatat pada tahun 1854 dalam buku Walden karya Henry David Thoreau.
Dalam bukunya, Thoreau mengkritik kecenderungan masyarakat yang lebih memilih menyederhanakan ide-ide kompleks, yang menurutnya menunjukkan kemunduran dalam pemikiran intelektual.
Brain Rot dalam Dunia Digital
Jika kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berselancar di internet, menggulir video TikTok, melihat reels, atau sekadar mengikuti gosip selebriti, tanpa disadari kita mengonsumsi informasi yang tidak penting dalam jumlah besar.
Kebiasaan ini bisa menimbulkan kelelahan mental, menurunkan motivasi, mengganggu fokus, serta mengurangi produktivitas dan energi, terutama pada generasi muda.
Perilaku yang Memicu Brain Rot
Beberapa kebiasaan yang dapat menyebabkan kemerosotan mental antara lain:
1.Bermain video game secara berlebihan.
2.Menghabiskan waktu terlalu lama scrolling media sosial tanpa tujuan jelas.
3. Mencari berita negatif secara terus-menerus.
4. Kecanduan media sosial hingga mengabaikan kehidupan nyata.
Cara Mencegah Brain Rot
Untuk menghindari dampak negatif brain rot, penting untuk lebih selektif dalam mengonsumsi media. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
1. Menetapkan batasan waktu penggunaan gadget.
2. Mengalokasikan lebih banyak waktu untuk aktivitas non-digital seperti membaca buku, berolahraga, atau bersosialisasi langsung.
3. Mengonsumsi konten berkualitas yang memberikan manfaat bagi perkembangan diri.
Dengan langkah-langkah ini, kita bisa tetap menikmati dunia digital tanpa harus terjebak dalam efek negatifnya.
Penulis: Yulita Dyah Kusumasari
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira