Hari valentine semakin dekat. Perayaan ini membuat orang-orang sibuk mencari bingkisan untuk diberikan kepada seseorang yang dikasihi.
Sejarah mengenai awal mulai perayaan ini berawal dari kisah pendeta Romawi Valentine yang berakhir tragis karena dipukul dan dieksekusi pada 14 Februari 278 M.
Pendeta Valentine dianggap bertentangan dengan kebijakan Kaisar Claudius II. Dalam sejarah Claudius II seusai perang roma, Claudius II meminta kepada tentara untuk tidak menikah, tetapi pendeta Valentine melawan kebijakan tersebut dengan diam-diam menikahkan pasangan muda yang sedang jatuh cinta.
Sebelum dieksekusi mati, pendeta Valentine sempat di penjara, dan di sana ia sempat menyembuh anak gadis kepala sipir. Setelah berhasil menyembuhkan, pendeta Valentine mengirimkan sebuah surat berisi pesan bahwa ia telah jatuh cinta kepada anak gadis itu, dan di dalam surat terakhirnya tertulis, “From your Valentine” atau diartikan "Dari Valentine-mu.”
Kisah tersebut kemudian dikenang dengan nama Valentine day yang kini dirayakan di seluruh dunia dengan memberikan sebuah bingkisan atau hadiah seperti cokelat. Tradisi memberi cokelat telah ada sejak akhir abad ke-19 di era Ratu Victoria.
Menurut beberapa ahli, pada waktu itu masyarakat menganggap cokelat sebagai alat yang bisa digunakan untuk menunjukkan perasaan kasih sayang. Hal ini perkuat dengan adanya iklan yang semakin memperkuat bahwa cokelat adalah simbol cinta.
Jika melihat catatan sejarah, daya tarik cokelat bermula dari sejarah Mesoamerika yang terikat makna keromantisan, kasih sayang, dan cinta. Cokelat dianggap sebagai barang mewah dan hanya bisa dikonsumsi oleh para bangsawan, dilansir dari laman History.
Baca Juga: Konsep Adat Jawa masih Jadi Tren, Berikut Tren Konsep Foto Prewedding di Tahun 2025
Manfaat cokelat bagi kesehatan
Cokelat selain memiliki filosofi yang baik juga memiliki banyak manfaat jika dilihat dari sudut pandang kesehatan. Kandungan antioksidan yang baik bagi tubuh. Kandungan tersebut berupa fenol dan flavonoid yang dapat memberikan efek anti alergi, merangsang fungsi kognitif, anti tumor, modulasi aktivitas estrogen, anti virus, antioksidan, dilansir dari jurnal IPB.
Manfaat antioksidan pada cokelat dapat menangkal radikal bebas seperti risiko penyakit jantung dan kanker, dilansir dari jurnal UPI.
Selain itu, kakao atau cokelat juga dapat meningkatkan fungsi ginjal dan usus, rangsangan sistem saraf, dan memfasilitasi proses pencernaan.
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa seseorang yang mengonsumsi kakao dapat mengurangi penyakit cardiovascular. Kandungan dark cokelat menguatkan fungsi hati dan menurunkan tekanan darah.
Tetapi, cokelat dalam hal ini merupakan olahan kakao murni yang belum tercampur gula, susu, dan zat lain, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dari segi kesehatan.
Penulis: Eka Fitria Lusiana
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira