JP KEDIRI - Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya sebuah tempat untuk pulang. Namun bagi santri yang tinggal jauh dari keluarga, rumah memiliki arti yang jauh lebih dalam. Ada suara orang tua, masakan ibu, canda bersama saudara, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang baru terasa berharga ketika semuanya tidak lagi berada di depan mata.
Kehidupan pesantren memang dipenuhi berbagai kegiatan. Sejak bangun sebelum subuh, santri sudah dihadapkan dengan rutinitas salat berjamaah, mengaji, belajar, hingga berbagai kegiatan pesantren lainnya. Kesibukan tersebut terkadang membuat rasa rindu terlupakan. Namun ketika suasana mulai sepi, terutama pada malam hari, kerinduan kepada rumah bisa kembali datang tanpa aba-aba.
Rindu Bisa Datang dari Hal Sederhana
Tidak selalu membutuhkan alasan besar untuk merindukan rumah. Terkadang, aroma makanan tertentu saja sudah cukup membuat seorang santri teringat masakan ibunya. Mendengar lagu yang sering diputar di rumah, melihat foto keluarga, atau sekadar mengingat suasana ruang tamu juga dapat membuat rasa rindu muncul.
Ada kalanya seorang santri ingin bercerita tentang hari yang dilewatinya. Tentang tugas yang belum selesai, hafalan yang belum lancar, kegiatan pesantren yang melelahkan, atau sekadar cerita lucu bersama teman. Namun, orang-orang yang biasanya menjadi tempat bercerita kini berada jauh.
Di saat seperti itulah, rasa rindu terasa semakin kuat.
Baca Juga: Mengulas Kegiatan Santri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
Telepon Singkat yang Berarti
Kemajuan teknologi membuat jarak antara santri dan keluarga terasa sedikit lebih dekat. Telepon dan video call menjadi salah satu cara untuk mengobati rasa rindu.
Percakapan yang dilakukan pun tidak selalu panjang. Kadang hanya bertanya, “Sudah makan?” atau “Bagaimana kabarnya?” Namun pertanyaan sederhana tersebut bisa memberikan rasa tenang bagi santri yang sedang merasa jauh dari keluarga.
Bagi orang lain, beberapa menit berbicara melalui telepon mungkin terlihat biasa saja. Tetapi bagi seorang santri, suara orang tua yang terdengar dari seberang telepon bisa menjadi sumber semangat untuk kembali menjalani rutinitas pesantren.
Belajar Kuat Tanpa Selalu Didampingi Orang Tua
Tinggal jauh dari keluarga secara tidak langsung mengajarkan santri untuk menjadi lebih mandiri. Tidak ada orang tua yang setiap saat mengingatkan untuk bangun, menyiapkan keperluan, atau membantu ketika menghadapi masalah kecil.
Semua harus mulai dilakukan sendiri.
Dari mencuci pakaian, mengatur waktu belajar, menjaga barang pribadi, hingga menghadapi berbagai persoalan dengan teman. Hal-hal sederhana tersebut perlahan membentuk kemandirian.
Rasa rindu memang tidak langsung hilang. Namun seiring berjalannya waktu, santri belajar bahwa menjadi jauh dari keluarga bukan berarti kehilangan kasih sayang mereka. Justru dari jarak tersebut, santri belajar menghargai keberadaan keluarga dengan cara yang berbeda.
Teman Sekamar, Keluarga Kedua
Di tengah rasa rindu, kehadiran teman-teman pesantren menjadi salah satu penguat. Tinggal bersama selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun membuat hubungan antarsantri menjadi semakin dekat.
Teman sekamar menjadi orang yang melihat bagaimana perjuangan satu sama lain. Mulai dari bangun kesiangan, mengejar kegiatan, menghadapi tugas, menghafal pelajaran yang sulit, hingga berbagi cerita sebelum tidur.
Ketika ada teman yang sedang sedih karena rindu rumah, tidak jarang teman lainnya menjadi tempat untuk bercerita. Candaan sederhana pun terkadang cukup untuk membuat suasana kembali ringan.
Tanpa disadari, teman-teman yang awalnya hanya dikenal sebagai sesama santri perlahan berubah menjadi seperti keluarga sendiri.
Pulang Menjadi Momen yang Selalu Dinantikan
Ada alasan mengapa sebagian santri begitu menantikan waktu pulang. Bukan hanya karena ingin beristirahat dari padatnya kegiatan pesantren, tetapi karena ada kerinduan yang ingin segera terobati.
Momen bertemu keluarga menjadi sesuatu yang sangat berharga. Bertemu orang tua, makan masakan rumah, tidur di kamar sendiri, atau sekadar duduk bersama keluarga bisa menjadi kebahagiaan sederhana yang sangat dinantikan.
Namun, waktu pulang selalu terasa singkat.
Belum lama menikmati suasana rumah, sudah tiba waktunya kembali ke pesantren. Ada perasaan berat ketika harus meninggalkan keluarga lagi. Tetapi di sisi lain, ada tanggung jawab yang harus kembali dijalani.
Pesantren yang Perlahan Menjadi Rumah Kedua
Menariknya, semakin lama seorang santri tinggal di pesantren, semakin banyak pula kenangan yang terbentuk di sana. Tempat yang pada awalnya terasa asing perlahan menjadi tempat yang akrab.
Ada kamar yang menjadi saksi cerita, masjid yang menjadi tempat beribadah, kelas yang menjadi tempat belajar, serta teman-teman yang menemani hampir setiap hari.
Karena itu, ketika waktunya meninggalkan pesantren tiba, bukan hanya rumah yang akan dirindukan. Pesantren pun bisa menjadi tempat yang nantinya dirindukan.
Santri akhirnya memiliki dua tempat yang sama-sama memiliki arti: rumah tempat keluarga menunggu dan pesantren tempat banyak proses kehidupan berlangsung.
Rindu Bukan Berarti Lemah
Rasa rindu kepada keluarga merupakan hal yang wajar bagi seorang santri. Justru dari rasa rindu tersebut terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik.
Santri belajar bahwa kasih sayang keluarga tidak selalu harus hadir dalam bentuk kebersamaan setiap hari. Mereka belajar menghargai waktu ketika bisa berkumpul, belajar mandiri ketika harus berjauhan, dan belajar kuat ketika keadaan mengharuskan mereka bertahan.
Pada akhirnya, menjadi santri bukan hanya tentang menghabiskan waktu untuk belajar dan mengaji. Ada proses pendewasaan yang berjalan bersamaan di dalamnya.
Sebab di balik kesibukan pesantren, ada hati yang sedang belajar menahan rindu. Dan di balik setiap kepulangan, ada keluarga yang selalu menjadi alasan untuk kembali.
Nama ; Annysa jellianty Haripinto
Universitas islam tribakti
Editor : Shinta Nurma Ababil