Dari Pupuk Gula yang Tak Laku, Lahir Teknologi Baru Pemadam Api

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:48 WIB
Ari Aripin (paling kanan) dan delegasi dari Indonesia  bersama Kolonel Washington Luiz Vaz Junior, Komandan Jenderal Korps Pemadam Kebakaran Militer Brasil. (Foto: Dok. Ari Aripin)
Ari Aripin (paling kanan) dan delegasi dari Indonesia bersama Kolonel Washington Luiz Vaz Junior, Komandan Jenderal Korps Pemadam Kebakaran Militer Brasil. (Foto: Dok. Ari Aripin)

 JP Radar Kediri - Di Brazil ada temuan baru yang sangat efektif dalam memadamkan kebakaran. Formulanya diberi nama: Antichamas yang diproduksi perusahaan Realiza. Kontributor Jawa Pos Radar Kediri Ari Aripin diundang bersama delegasi dari Indonesia  mengunjungi Brazil pada 16-25 September lalu untuk melihat dari dekat sekaligus membuktikan efektifitas Antichamas di pabriknya langsung. Berikut laporannya: 

Siang itu, suasana di hamparan daun tebu kering, di sebuah perkebunan dekat Vicentinópolis, Negara Bagian Goiás, Brasil, api sengaja dinyalakan dalam skenario terkendali, Senin, 21 September 2026. Di hadapan delegasi Indonesia, tim setempat memperagakan cara kerja Realiza Antichamas, bahan pemadam berbentuk serbuk yang dicampurkan ke dalam air.

Wussss...daun tebu kering itu pun cepat terbakar. Menurut petugas pemadam Brasil, tiupan angin bahkan bisa membawa bara jauh dari titik awal kebakaran dan memunculkan titik api baru. Namun dalam demonstrasi itu, larutan Antichamas menunjukkan kemampuannya mendinginkan material, mempertahankan kelembapan, dan menekan kemungkinan api menyala kembali.

Bagi kami, adegan tersebut lebih dari sekadar pertunjukan produk. Ada pertanyaan besar di baliknya: mungkinkah bahan ini dapat membantu petugas menghadapi kebakaran hutan, perkebunan, dan lahan gambut yang setiap musim kemarau mengancam di berbagai wilayah di Indonesia?

Jauh sebelum diperkenalkan sebagai teknologi pemadam kebakaran, Antichamas justru berawal dari usaha membuat pupuk. Tokohnya Valdiney Koch, warga Brasil keturunan Portugis. Saat itu dia mencoba mengolah gula menjadi pupuk. Pilihan bahan baku itu masuk akal. Brasil merupakan salah satu raksasa industri tebu dunia, sehingga gula dan turunannya menjadi bagian penting kehidupan agribisnis di negara tersebut.

Delegasi Indonesia di Kantor Pusat Realiza di Brasil.
Delegasi Indonesia di Kantor Pusat Realiza di Brasil.

Valdiney berhasil membuat pupuk berbahan gula. Persoalannya, hasil percobaan itu tidak kunjung mendapat pembeli. Produk yang semula diharapkan menyuburkan tanaman, justru sulit menemukan pasar.

Sampai sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Yaitu, kebakaran melanda kawasan di dekat rumahnya.

Saat warga berupaya memadamkan api, Valdiney ikut membantu. Ia menggunakan racikan pupuk yang telah dibuatnya. Hasilnya mengejutkan. Api, menurut kisah awal penemuan tersebut, padam jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Valdiney pun bertanya-tanya: mengapa pupuk dari gula bisa bekerja seperti bahan pemadam kebakaran?

Didorong oleh rasa penasaran, Valdiney membawa pupuknya dari gula  itu ke laboratorium sebuah universitas di Brasil. 

Racikan pupuk tersebut diperiksa lebih jauh. Menurut kisah asal-usul penemuannya, dari hasil pemeriksaan, mengidentifikasi bahwa pupuk dari gula itu mengandung sembilan komponen zat yang berkaitan dengan kemampuan memadamkan api.  

Maka, sejak 2014, penemuan itu kemudian dikembangkan menjadi teknologi Realiza Antichamas.

Ada ironi menarik di sini. Barang yang tidak berhasil dijual sebagai pupuk, justru membuka kemungkinan baru sebagai alat penyelamat nyawa. Bukan karena gula begitu saja dapat memadamkan kebakaran, melainkan karena formulasi dan proses pengolahan selanjutnya menghasilkan karakter bahan yang berbeda.

Perjalanan delegasi Indonesia berlangsung pada 16–25 September 2026. Program resmi di Brasil dimulai dengan kedatangan di Rio de Janeiro pada 17 September, lalu berlanjut ke Brasília. Di ibu kota federal itu, rombongan diterima tim dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brasil. Tujuan berikutnya Anápolis, Goiás, kota yang menjadi basis Grupo Realiza. Di kantor pusat dan fasilitas logistik perusahaan, delegasi mendapat penjelasan mengenai pengembangan produk, ketersediaan pasokan, pengendalian mutu, serta proses manufakturnya. Lokasinya berada tidak jauh dari Pangkalan Udara Anápolis. Dari kawasan tengah Brasil inilah perusahaan mengatur kegiatan dan distribusinya.

Yang kami pelajari, Antichamas bukan cairan pemadam siap semprot. Produk akhirnya berupa serbuk kristal pekat yang dicampurkan ke air dengan takaran rendah. Materi teknis perusahaan menyebut kisaran sekitar 0,3–1,3 gram per liter, bergantung pada kebutuhan aplikasi. Serbuk itu dinyatakan dapat larut dalam air tawar maupun air asin, sebuah karakter yang menarik bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Grupo Realiza menyebut produknya sebagai nanobioteknologi. Bahan penyusunnya mencakup sukrosa atau komponen karbohidrat, selulosa, garam, dan mineral organik maupun anorganik. Tetapi inti inovasinya, menurut penjelasan perusahaan, bukan sekadar mencampur bahan-bahan itu. Ada proses industri yang mengolah dan mengaktivasi partikel pada skala mikro dan nano, hingga dihasilkan formulasi dengan sifat tertentu ketika dicampur air.

Cara kerjanya dapat dipahami melalui tiga fungsi. Pertama, larutan membantu mendinginkan bahan yang terbakar. Kedua, menurut produsen, formulanya mengganggu proses pembakaran, termasuk mengurangi ketersediaan oksigen pada titik kontak. Ketiga, larutan membentuk lapisan pelindung yang dimaksudkan memperlambat penjalaran api sekaligus mengurangi risiko penyalaan kembali.

Dengan kata lain, air tidak hanya dipakai memukul api, melainkan juga melindungi permukaan yang masih rentan terbakar.

Perusahaan mengklaim Antichamas tidak beracun, tidak korosif, dan dapat terurai secara hayati. Pada kesempatan itu juga dipertontonkan, bagaimana api bisa dipadamkam dalam 18 detik memakai Antichamas, dibandingkan 78 detik memakai air biasa. Materi promosi bahkan menyebut efektivitas hingga sepuluh kali lipat. Angka-angka itu patut dicermati sebagai klaim dan hasil uji tertentu, bukan jaminan kinerja yang sama di setiap jenis kebakaran.

Di Usina Caçu, Vicentinópolis, delegasi Indonesia  juga meninjau pabrik gula, proses produksi etanol, dan kawasan perkebunan tebu yang menurut laporan luasnya mendekati 40 ribu hektare. Lawatan itu memperlihatkan dua sisi tebu: komoditas ekonomi yang besar sekaligus lanskap dengan risiko kebakaran yang harus dikelola secara serius.

Rangkaian perjalanan berlanjut ke Goiânia. Delegasi bertemu Kolonel Washington Luiz Vaz Júnior, Komandan Jenderal Korps Pemadam Kebakaran Militer Negara Bagian Goiás (CBMGO). Dalam pertemuan itu, ia menekankan pentingnya efektivitas respons pertama dan keselamatan personel. Ia menilai karakter keselamatan Antichamas menjadi salah satu keunggulan yang perlu diperhatikan, selain kemampuan memadamkan api.

Pertemuan dengan Pemerintah Negara Bagian Goiás melengkapi kunjungan teknis tersebut. Namun pelajaran paling penting justru lebih sederhana daripada istilah nanoteknologi. Yakni, setiap kebakaran besar pernah bermula dari api kecil. Semakin cepat terdeteksi dan ditangani dengan peralatan yang efektif, semakin besar peluang mencegahnya berkembang menjadi bencana.

Prinsip itu terasa relevan bagi Indonesia. Petugas kerap bekerja di kawasan yang sulit dijangkau, dengan air terbatas dan waktu respons yang sempit. Bila satu tangki air dapat bekerja lebih efektif, ada potensi penghematan sumber daya dan peningkatan keselamatan.

Namun kebakaran pada serasah tebu di Brasil tentu tidak identik dengan api yang merambat di lapisan gambut Indonesia.
Karena itu, hasil kunjungan belum layak diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa Antichamas pasti cocok untuk seluruh medan di Tanah Air. Produk ini tetap memerlukan pengujian independen di Indonesia, dengan ukuran yang jelas: berapa lama api padam, berapa banyak air digunakan, apakah muncul api susulan, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan peralatan, serta berapa biaya keseluruhan operasinya.

Kami pulang dari Brasil bukan membawa jawaban final, melainkan sebuah kemungkinan yang pantas diuji. Kisah Valdiney Koch mengingatkan kepada kita bahwa inovasi kadang lahir dari kegagalan dan rasa ingin tahu.

Sementara hamparan tebu di Goiás menyodorkan pelajaran yang lebih mendesak, yakni dalam menghadapi kebakaran, penemuan paling berharga bukan yang terdengar paling canggih, melainkan yang terbukti mampu menghentikan api sebelum merenggut kehidupan.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
ari aripin pemadam kebakaran brazil pupuk