10 Hal yang Membatalkan Puasa Menurut kitab Fathul Qarib

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 18:24 WIB
Puasa
Puasa

JP Radar Kediri - Menjalankan ibadah puasa Ramadan bukan hanya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Umat Islam juga perlu mengetahui berbagai perkara yang dapat membatalkan puasa agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan ketentuan fikih.

Salah satu pembahasan mengenai sepuluh perkara yang membatalkan puasa terdapat dalam kitab Fathul Qarībil Mujīb fī Syarḥi Alfāzhit Taqrīb pengarang karangan imam Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad, Abu Abdillah, Syamsuddin al-Ghazzī, yang dikenal dengan Ibnu Qasim dan Ibnu al-Gharābīlī :

(والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء): أحدها وثانيها (ما وصل عمدا إلى الجوف) المنفتح (أو) غير المنفتح كالوصول من مأمومة إلى (الرأس)؛ والمراد إمساك الصائم عن وصول عين إلى ما يسمى جوفا. (و) الثالث (الحقنة في أحد السبيلين)، وهي دواء يحقن به المريض في قبل أو دبر، المعبر عنهما في المتن بالسبيلين. (و) الرابع (القيء عمدا)؛ فإن لم يتعمد لم يبطل صومه كما سبق.

(و) الخامس (الوطء عمدا في الفرج)؛ فلا يفطر الصائم بالجماع ناسيا كما سبق. (و) السادس (الإنزال) وهو خروج المني (عن مباشرة) بلا جماع محرما كإخراجه بيده أو غيرَ محرم كإخراجه بيد زوجته أو جاريته. واحترز بمباشرة عن خروج المني باحتلام، فلا إفطار به جزما. (و) السابع إلى آخر العشرة (الحيض، والنفاس، والجنون، والردة). فمتى طرأ شيء منها في أثناء الصوم أبطله.

Jika dijelaskan secara sederhana, sepuluh perkara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memasukkan sesuatu ke dalam jauf dengan sengaja

Masuknya suatu benda dengan sengaja ke bagian tubuh yang dalam atau disebut jauf termasuk perkara yang membatalkan puasa. Pembahasan dalam Fathul Qarib juga mencakup masuknya sesuatu melalui jalan yang terbuka maupun kondisi tertentu melalui jalan yang tidak terbuka.

2. Memasukkan sesuatu ke bagian kepala melalui jalan tertentu

Dalam kitab tersebut dijelaskan contoh masuknya sesuatu menuju bagian dalam kepala melalui luka seperti ma'mumah. Ketentuan ini merupakan bagian dari pembahasan mengenai masuknya suatu benda ke bagian tubuh yang disebut jauf.

3. Menggunakan obat melalui salah satu dari dua jalan

Perkara berikutnya adalah huqnah, yakni memasukkan obat melalui salah satu dari dua saluran, yaitu qubul atau dubur. Hal tersebut disebutkan secara khusus dalam pembahasan Fathul Qarib.

4. Muntah dengan sengaja

Muntah yang dilakukan secara sengaja dapat membatalkan puasa. Sementara itu, apabila seseorang muntah tanpa disengaja atau muntah dengan sendirinya, puasanya tidak batal berdasarkan penjelasan dalam kitab tersebut.

5. Melakukan hubungan seksual dengan sengaja

Hubungan seksual yang dilakukan dengan sengaja pada siang hari ketika sedang menjalankan puasa termasuk perkara yang membatalkan puasa. Sebaliknya, Fathul Qarib menjelaskan bahwa hubungan seksual yang terjadi karena lupa memiliki ketentuan berbeda.

6. Keluarnya mani karena sentuhan atau aktivitas seksual

Keluarnya mani akibat mubasyarah atau kontak fisik yang disengaja juga termasuk perkara yang membatalkan puasa. Namun, kitab tersebut secara tegas membedakannya dengan keluarnya mani karena mimpi basah, yang tidak membatalkan puasa.

7. Haid

Haid yang dialami perempuan ketika sedang menjalankan puasa menyebabkan puasanya batal. Ketentuan ini termasuk dalam empat perkara terakhir yang disebutkan dalam pembahasan Fathul Qarib.

8. Nifas

Selain haid, kondisi nifas juga termasuk perkara yang membatalkan puasa apabila terjadi ketika seseorang sedang menjalankan puasa.

9. Gila atau hilang akal

Hilangnya akal atau mengalami kegilaan ketika sedang menjalankan puasa juga termasuk perkara yang membatalkan puasa menurut pembahasan tersebut.

10. Murtad

Perkara terakhir yang disebutkan adalah riddah atau keluar dari agama Islam. Apabila kondisi tersebut terjadi ketika seseorang sedang berpuasa, maka puasanya menjadi batal.

Pembahasan mengenai perkara yang membatalkan puasa tersebut menunjukkan bahwa puasa dalam fikih tidak hanya berkaitan dengan menahan makan dan minum. Ada sejumlah ketentuan lain yang perlu diperhatikan selama menjalankan ibadah.

Yakutatil Faridah

Universitas Islam Tribakti

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
kitab fathul qirib perkara membatalkan puasa