Bahtsul Masail: Tradisi Pesantren dalam Mencari Jawaban Persoalan Keagamaan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 17:34 WIB
ilustrasi AI musyawarah santri dengan Kiai
ilustrasi AI musyawarah santri dengan Kiai

JP Radar Kediri - Ketika mendengar kata pesantren, hal yang mungkin terlintas adalah santri, kitab kuning, mengaji, dan kehidupan yang sarat dengan tradisi keagamaan. Namun, pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari ilmu agama melalui pengajian. Di dalamnya juga berkembang berbagai tradisi intelektual yang melatih santri untuk berpikir, berdiskusi, dan memecahkan persoalan. Salah satunya adalah Bahtsul Masail.
Secara sederhana, Bahtsul Masail merupakan forum untuk membahas berbagai persoalan keagamaan dan kehidupan masyarakat dengan merujuk pada kitab – kitab kuning. Kata bahtsul masail berasal dari bahasa Arab, bahts yang berarti pembahasan atau penelitian dan masail yang berarti persoalan-persoalan. Dengan demikian, Bahtsul Masail dapat dipahami sebagai forum pembahasan berbagai persoalan.
Baca Juga: Aksi Ekstrem Santri Pondok Pesantren Lirboyo: Bermain Sepak Bola Api dengan Kaki Telanjang

Awal bahtsul masail

Perkembangan Bahtsul Masail kemudian sangat erat dengan tradisi keilmuan (NU). Forum Bahtsul Masail dalam lingkungan NU berkembang sebagai wadah untuk membahas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di tengah masyarakat. Tradisi tersebut secara resmi menjadi bagian resmi aktivitas resmi NU sejak organisasi tersebut berdiri pada 1926.

Pada awalnya, Bahtsul masil belum mempunyai Lembaga khusus kemudial dibuatkanlaha lemba khusus yaitu Lajnah Bahtsul Masail Diniyah 1990 pada hasil Muktamar NU ke – 28 di Yogyakarta 1989.

Namun setelah Muktamar NU tahun 2004, Lembaga tersebut diganti menjadi Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU)

Bagaimana Bahtsul Masail Berlangsung?

Dmulai dengan pembacaan soal oleh moderator. Misalnya, masalah hukum transaksi kripto, pinjaman online, atau praktik agraria modern. Ketika sebuah pendapat muncul, peserta lain dapat memberikan tanggapan atau pertanyaan. Dari sinilah proses diskusi berlangsung.

Dalam tradisi Bahtsul Masail, pendapat idealnya tidak disampaikan tanpa dasar. Peserta perlu menunjukkan rujukan atau di sebut refrensi yang mendukung pendapatnya. Proses tersebut membuat santri terbiasa membaca kitab secara lebih mendalam, memahami pendapat ulama, dan menyampaikan argumentasi.

Baca Juga: 7 Syarat Sah Sujud dalam Salat Menurut Kitab Safinatun Najah

Baca Juga: Ini Waktu yang Dibutuhkan Ngaji Kitab Santri Kilat di Ponpes Jampes

Setelah para santri menyampaikan argument ada sesi perumusan memeriksa ulang kecocokan antara pertanyaan, rujukan kitab (ibarat), dan kesimpulan hukumnya.

Dan proses terakhir yaitu pentashihan jawaban bahwasannya jawaban dari permasalahan sudah sesuai dengan ibarot.

Menjaga Tradisi, Merawat Budaya Keilmuan

Bahtsul Masail pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana menemukan jawaban atas sebuah persoalan. Di balik forum tersebut terdapat budaya membaca, berdiskusi, bermusyawarah, dan menghargai perbedaan pendapat.

Tradisi ini menjadi salah satu gambaran bahwa kehidupan pesantren memiliki budaya intelektual yang khas. Kitab kuning tidak hanya dibaca untuk dipelajari, tetapi juga menjadi bagian dari proses berpikir dan berdiskusi.

Mungkin inilah alasan mengapa Bahtsul Masail tetap menjadi salah satu tradisi yang menarik untuk dikenali. Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana pesantren terus menjaga warisan keilmuan sekaligus menggunakannya untuk memahami persoalan kehidupan.

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
pondok pesantren ponpes lirboyo Kitab Kuning Bahtsul Masail pesantren kediri