Desa Tawang dikenal sebagai salah satu pusat keramaian dan perekonomian di Kecamatan Wates. Rupanya, jejak peradaban yang tersimpan menunjukkan desa ini sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Di balik geliat perekonomian yang cukup pesat, Desa Tawang menyimpan jejak sejarah berusia ratusan tahun. Khususnya menguak perkembangan Islam di desa ini.
Sejarah itu hidup di Kampung Carikan, sebuah wilayah di Dusun Dadapan.
Sekretaris Desa Tawang Arie Sulistiawan mengatakan, di Kampung Carikan terdapat makam tua dengan nisan bertuliskan abad ke-18.
Makam tersebut dipercaya warga setempat sebagai makam pembabat desa sekaligus salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
Baca Juga: Pengajian dan Santunan Jadi Sarana Pererat Silaturahmi di Desa Jongbiru Gampengrejo
“Para tetua desa menyebut Kampung Carikan dulu menjadi jujukan warga dari sekitar Wates untuk belajar mengaji,” terang Arie.
Salah satu tokoh yang hingga kini masih dikenal masyarakat adalah Kiai Abdul Alim. Berdasarkan cerita yang berkembang, dia merupakan ulama asal Klaten yang berpindah-pindah tempat untuk mengajarkan agama.
Sebelum akhirnya menetap di Dusun Dadapan hingga meninggal dunia.
Jejak Kiai Abdul Alim masih bisa dilihat melalui keberadaan keturunannya. Anak-cucu dan keturunannya hingga kini banyak yang menetap di Dusun Dadapan dan dikenal dengan sebutan Bani Ngalim.
Baca Juga: Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri Kembali Digelar, Warga Doakan Keselamatan dan Keberkahan
Keturunan tersebut telah mencapai enam hingga tujuh generasi. Setiap dua tahun sekali, keluarga besar Bani Ngalim berkumpul di masjid untuk menggelar haul.
Kegiatan tersebut biasanya diisi pengajian dan berbagai rangkaian kegiatan keagamaan.
“Tradisi haul ini jadi momentum berkumpulnya keturunan Kiai Abdul Alim yang tersebar di berbagai daerah. Bahkan, ada yang datang dari luar pulau, seperti Sulawesi,” lanjutnya.
Selain makam tua, jejak perkembangan Islam di Dusun Dadapan juga terlihat dari keberadaan Masjid Al Falah. Masjid tersebut merupakan masjid tua yang dibangun sejak 1901.
Arie menyebut, dulunya Masjid Al Falah merupakan salah satu pusat peradaban Islam di desa itu. Keberadaan masjid dan makam tua tersebut menjadi bagian dari sejarah perkembangan masyarakat Desa Tawang.
Potensi sejarah dan tradisi keagamaan itu dinilai dapat dikembangkan menjadi wisata religi. Terlebih, setiap pelaksanaan haul selalu menarik banyak orang untuk datang ke Dusun Dadapan.
Pemdes Tawang berharap potensi tersebut dapat dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Selain memperkenalkan sejarah desa, wisata religi juga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Editor : Ayu IsmawatiSumber : Radar Kediri