Gempa Tektonik Jauh Sering Tercatat di Kelud, Apa Artinya? Simak Penjelasan Bedanya Gempa Vulkanik dan Tektonik

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:03 WIB
Ilustrasi seismograf
Ilustrasi seismograf

Munculnya catatan gempa tektonik jauh pada alat pemantauan kegempaan di kawasan Gunung Kelud terkadang menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Apakah banyaknya gempa dari lokasi jauh yang terekam alat di sekitar Kelud menandakan adanya perubahan aktivitas gunung api? Mari kita simak pejelasan ahli di bawah ini.

Dikutip dari laman resmi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III, gempa bumi merupakan peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba di dalam bumi yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.

Energi tersebut umumnya berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik dan dipancarkan ke segala arah dalam bentuk gelombang gempabumi.

Dalam pemantauan kegempaan, beberapa parameter utama yang diperhatikan meliputi waktu terjadinya gempa atau origin time, lokasi pusat gempa atau episenter, kedalaman pusat gempa, serta kekuatan atau magnitudo.

Karena itu, untuk mengetahui apakah sebuah gempa berkaitan dengan aktivitas Gunung Kelud, lokasi sumber dan karakteristik gempanya menjadi bagian penting yang harus dianalisis.

Gempa tektonik jauh dan gempa vulkanik merupakan dua jenis kejadian yang memiliki sumber berbeda.

Gempa tektonik jauh dapat terjadi akibat aktivitas lempeng atau sesar di wilayah lain, kemudian gelombang energinya merambat melalui batuan dan terekam oleh seismograf di wilayah Kelud.

Baca Juga: Tujuh Gempa Tektonik Jauh Terekam di Kelud, Apakah Tanda Gunung Akan Meletus? Begini Statusnya Menurut Ahli

Lantas, mengapa gempa yang sumbernya jauh bisa tercatat di Kelud?

 

Ketika terjadi gempa tektonik, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik. Gelombang tersebut merambat melalui lapisan bumi dan dapat menjangkau wilayah yang sangat jauh dari episenternya.

Seismograf memiliki kemampuan mendeteksi getaran tersebut sehingga sebuah gempa yang terjadi jauh dari Kelud tetap dapat muncul dalam rekaman kegempaan stasiun pemantauan di kawasan tersebut.

Kondisi Indonesia sendiri memang membuat kejadian gempa tektonik relatif banyak. Menurut BBMKG, Indonesia berada di kawasan pertemuan Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Interaksi antarlempeng tersebut membentuk berbagai zona sumber gempa, antara lain zona subduksi, zona transform, serta sesar kerak bumi dangkal yang aktif.

Pada zona subduksi, gempa juga dapat terjadi di bagian yang lebih dalam dari lempeng yang menunjam.

BBMKG menjelaskan adanya lajur Benioff yang merupakan bagian dalam zona subduksi dengan sudut penunjaman lebih curam.

Dengan kondisi tektonik seperti itu, sumber gempa bisa berada jauh dari suatu gunung api tetapi gelombangnya tetap terdeteksi oleh jaringan pemantauan seismik.

Baca Juga: Aktivitas Gunung Kelud Masih Normal, Satu Gempa Tektonik Jauh Tercatat

Apakah gempa tektonik jauh menunjukkan status Gunung Kelud?

 

Tidak bisa langsung disimpulkan demikian. Satu atau beberapa catatan gempa tektonik jauh bukan indikator tunggal untuk menyatakan status aktivitas Gunung Kelud meningkat.

Status gunung api ditentukan berdasarkan evaluasi keseluruhan data pemantauan gunung api, bukan hanya berdasarkan adanya gempa yang tercatat.

Dalam konteks Kelud, yang menjadi perhatian adalah pola dan jenis kegempaan yang berkaitan dengan sistem vulkanik Kelud, disertai parameter pemantauan gunung api lainnya.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengartikan setiap rekaman gempa tektonik jauh sebagai tanda bahwa Kelud sedang menuju erupsi.

Yang lebih penting adalah melihat lokasi sumber gempa, kedalaman, jenis atau karakter sinyal kegempaan, pola kejadian dari waktu ke waktu, serta korelasinya dengan parameter vulkanik lainnya.

Gempa tektonik jauh juga berbeda dengan gempa yang sumbernya berada di sekitar gunung api.

Gempa vulkanik dapat berkaitan dengan dinamika fluida, tekanan, atau proses di dalam sistem gunung api.

Sebaliknya, gempa tektonik jauh sumber energinya berada di wilayah lain dan hanya gelombang gempanya yang kemudian terekam di stasiun pemantauan Kelud.

Dengan demikian, tercatatnya gempa tektonik jauh di Kelud lebih tepat dipahami sebagai kemampuan sistem pemantauan mendeteksi aktivitas kegempaan regional atau bahkan jauh, bukan sebagai bukti otomatis adanya peningkatan aktivitas vulkanik Kelud.

BBMKG juga menegaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena yang belum dapat diprediksi secara tepat.

Dampaknya memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko yang ditimbulkan dapat dikurangi melalui pemantauan dan upaya mitigasi.

Bagi masyarakat di sekitar Kelud, informasi resmi mengenai status gunung api tetap perlu mengacu pada laporan lembaga yang berwenang melakukan pemantauan aktivitas vulkanik.

Sementara untuk informasi gempa bumi, masyarakat dapat merujuk pada kanal resmi BMKG. Dengan memahami perbedaan antara gempa tektonik jauh dan kegempaan vulkanik, rekaman seismik tidak perlu langsung dipersepsikan sebagai pertanda Kelud akan erupsi.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III
gempa tektonik Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III gempa vulkanik