JP Radar Kediri - Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026. Tradisi yang merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar ini kerap kembali memicu perdebatan di tengah masyarakat, khususnya terkait mitos kesialan dan tata cara ibadah di dalamnya.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kementerian Agama, bulan Safar 1448 H akan berakhir pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Mengingat pergantian hari dalam Islam dimulai sejak terbenamnya matahari (waktu Maghrib), momentum Rebo Wekasan 2026 sebenarnya sudah dimulai sejak Selasa, 11 Agustus 2026 selepas Maghrib, dan berakhir pada Rabu, 12 Agustus 2026 sebelum Maghrib.
Hukum Sholat Khusus Rebo Wekasan
Menanggapi tradisi yang hidup di masyarakat, Pesantren Tebuireng menegaskan bahwa tidak ada syariat yang mengenal sholat khusus Rebo Wekasan. Umat Islam diimbau untuk tidak meyakini adanya ritual sholat tertentu yang secara spesifik dikhususkan untuk hari tersebut.
Kendati demikian, Islam tetap membebaskan umatnya untuk melaksanakan sholat sunnah mutlak kapan saja—termasuk pada Rabu terakhir bulan Safar—selama tidak diyakini sebagai ritual khusus Rebo Wekasan.
Baca Juga: Kapan Rabu Wekasan 2026? Cek Tanggal, Amalan dan Doanya
Niat Sholat Sunnah Mutlak
Bagi yang ingin mendirikan sholat sunnah mutlak dua rakaat, berikut adalah bacaan niatnya:
Latin: Ushallii sunnatan rak'ataini lillaahi Ta'aalaa.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan sholat sunnah dua rakaat semata-mata karena Allah Ta'ala.”
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW dengan tegas meluruskan mitos tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada kesialan atau malapetaka khusus yang melekat pada bulan Safar. Oleh karena itu, momen ini, termasuk bagi masyarakat di Semarang dan berbagai daerah lainnya, sebaiknya disikapi secara bijak sebagai pengingat untuk memperteguh keimanan, alih-alih diliputi kecemasan.
5 Amalan Rebo Wekasan
Alih-alih meratapi mitos kesialan, umat Islam dapat mengisi hari tersebut dengan memperbanyak amal saleh sebagai bentuk ikhtiar spiritual:
1.Memperbanyak Sholat Sunnah Mutlak
Melaksanakan sholat sunnah tanpa terikat tata cara khusus, murni untuk mendekatkan diri dan memohon ketenangan jiwa kepada Allah SWT.
2.Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Menjadikan hari ini sebagai momentum introspeksi diri dengan melantunkan tasbih, tahmid, tahlil, serta istighfar untuk membersihkan hati dari dosa.
3.Membaca Al-Qur'an
Membaca dan mentadaburi ayat suci—seperti Surah Yasin—sebagai amalan bernilai pahala besar, tanpa keyakinan bahwa bacaan tersebut wajib dilakukan secara khusus pada hari Rabu Wekasan.
4.Bersedekah (Tolak Bala)
Menyalurkan sedekah kepada sesama, seperti menyantuni anak yatim atau membantu fakir miskin. Sedekah dikenal luas sebagai amalan penolak bala dan pembuka pintu keberkahan.
Baca Juga: Kapan Rabu Wekasan 2025? Begini Fakta dan Amalan Agar Mendatangkan Keberkahan
5.Berdoa dan Memohon Perlindungan
Memanjatkan doa keselamatan, kesehatan, dan keberkahan rezeki. Salah satu doa yang sangat dianjurkan adalah doa sapu jagat:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naar.
(“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”)
Panduan Amalan Tambahan dari Kitab Al-Risalah Al-Badi'ah
Sejumlah ulama, termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, almarhum KH M. Djamaluddin Ahmad, dalam kitab Al-Risalah Al-Badi'ah (halaman 83) yang dinukil via NU Online, menjelaskan anjuran untuk memperbanyak doa dan memohon perlindungan kepada Allah pada hari tersebut.
Berikut adalah tata cara sholat mutlak yang kerap diamalkan sebagian masyarakat beserta bacaan surat dan doanya:
1. Lafal Niat Sholat
أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
“Saya berniat sholat dua rakaat karena Allah Ta'ala.”
2. Bacaan Surat pada Setiap Rakaat
Surat Al-Fatihah
Surat Al-Kautsar (17 kali)
Surat Al-Ikhlas (5 kali)
Surat Al-Falaq (1 kali)
Surat An-Naas (1 kali)
3. Doa Setelah Sholat Sunnah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَللّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالَ، يَاعزِيزُ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيع عَلَّقِكَ، اكْفِنِي مِنْ شَرِّ جَمِيع خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ، يَا مُجملُ، يَا مُتفضِلُ، يَا مُنْعِمُ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لاَ إلهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اَللّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ، وَأَخِيْهِ، وَجَدِّهِ، وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ، وَبَنِيْهِ، اِكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ، وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ، يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ، فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى الله عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Dzat yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu. Lindungilah aku dari kejahatan seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat yang Maha Baik, Maha Indah, Maha Pemurah, Maha Pemberi, dan Maha Mulia, tiada Tuhan selain Engkau, berilah aku rahmat-Mu wahai Dzat yang Paling Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, berkat rahasia Sayyidina Hasan, saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, lindungilah aku dari kejahatan hari ini dan apa saja yang turun di dalamnya. Wahai Dzat yang Maha Mencukupi segala urusan dan Maha Menjauhkan malapetaka, cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya."
Editor : Shinta Nurma Ababil